Jakarta, Sehatcantik.id — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat tren pengobatan mandiri (swamedikasi) di tengah masyarakat Indonesia melonjak tajam dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data lembaga tersebut, proporsi warga yang memilih merawat keluhan kesehatan secara pribadi kini telah menyentuh angka 78,9 persen.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menilai fenomena ini menyimpan risiko serius bagi keselamatan publik. Pasalnya, sebagian masyarakat tidak lagi sekadar berkonsultasi ke fasilitas layanan kesehatan, melainkan mulai menjadikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) sebagai rujukan utama untuk mendiagnosis penyakit.
Padahal, menurut Taruna, keluaran informasi dari sistem AI tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan dari sisi medis. Teknologi tersebut bekerja dengan merangkum data dan tren pemberitaan bebas yang berseliweran di internet tanpa melalui filter klinis yang ketat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Informasi dari AI belum tentu akurat karena berbasis algoritme dari konten daring secara umum,” ujar Taruna di Bali, Sabtu (31/10/2026).
Dampak dari tingginya angka swamedikasi ini dinilai cukup mengkhawatirkan. Dari pengamatan BPOM, masyarakat kerap menunda kunjungan ke dokter saat gejala awal muncul seperti flu ringan atau sakit kepala, dan baru mencari pertolongan medis ketika kondisi tubuh telanjur memburuk atau berada pada fase gawat.
Sebagai langkah mitigasi, BPOM tengah memperketat pengawasan jalur distribusi obat bebas serta membatasi durasi perolehan obat resep. Otoritas pengawas obat juga menggiatkan edukasi pemindaian barcode pada kemasan produk guna membantu masyarakat mengenali zat aktif secara tepat sebelum dikonsumsi.
Upaya mitigasi tersebut turut diintegrasikan dengan ekosistem digital kesehatan nasional. Melalui kerja sama lintas sektor dengan Kementerian Kesehatan, pengawasan rantai pasok farmasi kini diselaraskan ke dalam platform terpadu Satu Sehat. (Sbw)












