BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI

- Editor

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BPOM Taruna Ikrar saat memberikan keterangan pers usai APSMI Summit 2026 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (31/10/2026), menyoroti lonjakan swamedikasi di Indonesia yang mencapai 78,9 persen. (Foto: BPOM RI)

Kepala BPOM Taruna Ikrar saat memberikan keterangan pers usai APSMI Summit 2026 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (31/10/2026), menyoroti lonjakan swamedikasi di Indonesia yang mencapai 78,9 persen. (Foto: BPOM RI)

Jakarta, Sehatcantik.id — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat tren pengobatan mandiri (swamedikasi) di tengah masyarakat Indonesia melonjak tajam dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data lembaga tersebut, proporsi warga yang memilih merawat keluhan kesehatan secara pribadi kini telah menyentuh angka 78,9 persen.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menilai fenomena ini menyimpan risiko serius bagi keselamatan publik. Pasalnya, sebagian masyarakat tidak lagi sekadar berkonsultasi ke fasilitas layanan kesehatan, melainkan mulai menjadikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) sebagai rujukan utama untuk mendiagnosis penyakit.

Padahal, menurut Taruna, keluaran informasi dari sistem AI tidak sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan dari sisi medis. Teknologi tersebut bekerja dengan merangkum data dan tren pemberitaan bebas yang berseliweran di internet tanpa melalui filter klinis yang ketat.

“Informasi dari AI belum tentu akurat karena berbasis algoritme dari konten daring secara umum,” ujar Taruna di Bali, Sabtu (31/10/2026).

Dampak dari tingginya angka swamedikasi ini dinilai cukup mengkhawatirkan. Dari pengamatan BPOM, masyarakat kerap menunda kunjungan ke dokter saat gejala awal muncul seperti flu ringan atau sakit kepala, dan baru mencari pertolongan medis ketika kondisi tubuh telanjur memburuk atau berada pada fase gawat.

Baca Juga :  Peneliti Rusia Tewas akibat Pneumonia Misterius, Kemenkes Perketat Pintu Masuk Negara

Sebagai langkah mitigasi, BPOM tengah memperketat pengawasan jalur distribusi obat bebas serta membatasi durasi perolehan obat resep. Otoritas pengawas obat juga menggiatkan edukasi pemindaian barcode pada kemasan produk guna membantu masyarakat mengenali zat aktif secara tepat sebelum dikonsumsi.

Upaya mitigasi tersebut turut diintegrasikan dengan ekosistem digital kesehatan nasional. Melalui kerja sama lintas sektor dengan Kementerian Kesehatan, pengawasan rantai pasok farmasi kini diselaraskan ke dalam platform terpadu Satu Sehat. (Sbw)

Berita Terkait

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat
BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober
Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk
Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu
Kemenkes Perluas Vaksin HPV ke Anak Laki-laki, Cegah Kanker Sejak Dini
Senam Somatik, Gerakan Pelan untuk Menjaga Tubuh Perempuan Menopause
Viral! Doktif Bongkar Dugaan Kandungan Beeru Stevia Tak Sesuai Klaim
Kulit Buah Pepaya Ternyata Punya Potensi Manfaat untuk Kesehatan, Ini Penjelasan Kemenkes

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 15:25 WIB

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:56 WIB

BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:10 WIB

Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu

Berita Terbaru