Jakarta, Sehatcantik.id – Selama ini, kulit pepaya lebih sering berakhir sebagai limbah setelah daging buahnya dikonsumsi. Padahal, bagian terluar buah tropis ini juga mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang menarik perhatian dalam berbagai penelitian.
Kulit pepaya diketahui memiliki kandungan senyawa seperti polifenol, flavonoid, dan karotenoid. Kelompok senyawa tersebut dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi membantu menghadapi radikal bebas dan stres oksidatif.
Namun, potensi tersebut perlu dibedakan dengan manfaat kesehatan yang telah dibuktikan secara klinis pada manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Kesehatan sendiri mencatat pepaya sebagai salah satu buah yang kaya kandungan nutrisi dan berbagai senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan.
“Pepaya mengandung berbagai senyawa kimia yang menunjukkan sifat antioksidan signifikan,” tulis dr. Muhammad Arman Pratomo dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta dalam artikel yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan.
Antioksidan berperan membantu tubuh menghadapi stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas tidak seimbang dengan kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kerusakan sel dan jaringan.
Dalam kajian tersebut, pepaya disebut mengandung sejumlah senyawa, antara lain asam kafeat, mirisetin, rutin, kuersetin, alfa-tokoferol, papain, benzil isotiosianat, dan kaempferol.
Kandungan senyawa bioaktif itulah yang membuat berbagai bagian tanaman pepaya terus menjadi perhatian dalam penelitian.
Selain senyawa antioksidan, pepaya juga dikenal mengandung berbagai zat gizi penting. Buah ini merupakan sumber serat serta mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Meski demikian, keberadaan senyawa tertentu pada kulit pepaya tidak otomatis berarti kulit buah tersebut dapat dikonsumsi sembarangan atau digunakan sebagai pengobatan.
Kandungan senyawa pada kulit dapat berbeda-beda tergantung jenis pepaya, tingkat kematangan, kondisi budidaya, hingga proses pengolahannya.
Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui efektivitas, dosis, dan keamanan pemanfaatan kulit pepaya sebagai bahan pangan maupun produk kesehatan.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap klaim yang menyebut kulit pepaya dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Potensi antioksidan dalam sebuah bahan alami tidak serta-merta menjadikannya obat.
Untuk saat ini, kulit pepaya lebih tepat dipandang sebagai bagian tanaman yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui penelitian.
Sementara itu, manfaat konsumsi buah pepaya sendiri telah lebih banyak dikenal sebagai bagian dari pola makan sehat. Kandungan serat, vitamin, mineral, dan senyawa antioksidannya menjadikan pepaya sebagai salah satu pilihan buah untuk melengkapi kebutuhan gizi sehari-hari.
Jadi, jangan buru-buru menganggap kulit pepaya sebagai obat. Namun, bagian yang selama ini kerap dibuang itu memang menyimpan potensi yang menarik untuk terus diteliti. (Sbw)












