Senam Somatik, Gerakan Pelan untuk Menjaga Tubuh Perempuan Menopause

- Editor

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerakan senam somatik dilakukan perlahan dan penuh kesadaran untuk membantu tubuh lebih rileks, lentur, dan nyaman, terutama bagi perempuan memasuki masa menopause. (Foto: Freepik)

Gerakan senam somatik dilakukan perlahan dan penuh kesadaran untuk membantu tubuh lebih rileks, lentur, dan nyaman, terutama bagi perempuan memasuki masa menopause. (Foto: Freepik)

Jakarta, Sehatcantik.id – Tidak semua olahraga harus membuat tubuh berkeringat deras atau jantung berdegup kencang. Bagi perempuan yang memasuki masa perimenopause dan menopause, gerakan yang perlahan justru bisa menjadi pilihan untuk tetap aktif sambil lebih mengenali perubahan yang terjadi pada tubuh.

Salah satunya adalah senam somatik. Latihan ini menekankan kesadaran terhadap gerakan tubuh, postur, pernapasan, serta ketegangan otot.

Instruktur senam somatik, Andy Batari Yulianin, mengatakan latihan tersebut tidak berorientasi pada banyaknya gerakan maupun besarnya kalori yang terbakar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Senam Somatik adalah latihan yang menggabungkan gerakan tubuh secara perlahan, terkontrol, dan penuh kesadaran. Fokusnya bukan pada seberapa banyak gerakan yang dilakukan, melainkan bagaimana kita merasakan dan mengendalikan tubuh, termasuk memerhatikan postur, pernapasan, serta ketegangan otot,” ujar Andy dalam keterangannya.

Memasuki masa menopause, perempuan dapat mengalami berbagai perubahan akibat fluktuasi dan penurunan hormon. Gangguan tidur, perubahan suasana hati, rasa tidak nyaman pada otot dan persendian hingga berkurangnya fleksibilitas dapat menjadi bagian dari fase tersebut.

Baca Juga :  Manfaat Cleansing Balm dalam Membersihkan Wajah

Karena itu, aktivitas fisik yang dapat disesuaikan dengan kemampuan tubuh menjadi penting untuk menjaga kebugaran.

Andy menjelaskan, senam somatik dapat membantu meningkatkan kesadaran tubuh dan membuat seseorang lebih peka terhadap cara tubuh bergerak.

“Jika dilakukan secara rutin, senam Somatik dapat membantu meningkatkan kesadaran tubuh, memperbaiki koordinasi gerakan, menjaga fleksibilitas, serta mengurangi ketegangan otot,” katanya.

Gerakan yang dilakukan secara perlahan juga memberi ruang bagi tubuh untuk lebih rileks. Pengaturan napas menjadi bagian penting dalam latihan untuk membantu mengelola ketegangan dan meningkatkan kenyamanan saat bergerak.

Namun, senam somatik bukanlah olahraga yang dirancang untuk mengejar pembakaran kalori tinggi.

Menurut Andy, jumlah kalori yang terbakar bergantung pada berbagai faktor, termasuk durasi, intensitas gerakan, berat badan, dan kondisi fisik masing-masing orang.

“Karena senam Somatik umumnya berintensitas ringan, pembakaran kalorinya relatif lebih rendah dibandingkan olahraga kardio seperti berlari atau bersepeda. Namun, manfaat utamanya bukan sekadar membakar kalori, melainkan meningkatkan kesadaran tubuh, mobilitas, dan relaksasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Tips Memilih Moisturizer yang Bagus Sesuai Jenis Kulit

Bagi pemula, senam somatik dapat dilakukan sekitar 15 hingga 30 menit dalam satu sesi. Latihan dapat dilakukan dua sampai empat kali dalam seminggu dan disesuaikan secara bertahap dengan kemampuan tubuh.

Meski demikian, senam somatik sebaiknya tidak menjadi satu-satunya aktivitas fisik. Perempuan yang memasuki masa perimenopause maupun menopause tetap perlu menjaga kebugaran melalui kombinasi aktivitas aerobik dan latihan kekuatan.

Latihan kekuatan dan aktivitas menahan beban penting untuk membantu mempertahankan massa otot serta mendukung kesehatan tulang yang menjadi perhatian seiring bertambahnya usia.

Senam somatik juga bukan pengobatan khusus untuk seluruh keluhan menopause. Namun, latihan ini dapat menjadi salah satu cara untuk tetap bergerak, mengenali tubuh dengan lebih baik, dan menciptakan ruang relaksasi di tengah berbagai perubahan yang menyertai fase menopause.

Pada akhirnya, tubuh tidak selalu membutuhkan gerakan yang keras untuk tetap aktif. Kadang, bergerak lebih pelan justru menjadi cara untuk mendengarkan apa yang sedang dibutuhkan tubuh. (Sbw)

Berita Terkait

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat
BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI
BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober
Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk
Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu
Kemenkes Perluas Vaksin HPV ke Anak Laki-laki, Cegah Kanker Sejak Dini
Viral! Doktif Bongkar Dugaan Kandungan Beeru Stevia Tak Sesuai Klaim
Kulit Buah Pepaya Ternyata Punya Potensi Manfaat untuk Kesehatan, Ini Penjelasan Kemenkes

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 15:25 WIB

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:56 WIB

BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:10 WIB

Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu

Berita Terbaru