Jakarta, Sehatcantik.id – Program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) kini tidak lagi hanya menyasar anak perempuan. Kementerian Kesehatan mulai memperluas pemberian vaksin HPV kepada anak laki-laki sebagai bagian dari strategi mencegah kanker sejak usia dini.
Pada 2026, perluasan program tersebut mulai diterapkan di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali. Anak laki-laki usia 10–11 tahun atau siswa kelas 5 sekolah dasar menjadi sasaran program di tiga wilayah tersebut.
Sementara imunisasi HPV bagi anak perempuan telah dilaksanakan secara nasional sejak 2023.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemenkes memberikan imunisasi HPV secara gratis. Strategi ini ditempuh untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari penyakit yang berkaitan dengan infeksi HPV, termasuk kanker serviks dan sejumlah jenis kanker lainnya.
Vaksin Lebih Efektif Diberikan Sejak Dini
Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, MARS, mengatakan pemberian vaksin pada usia anak memberikan perlindungan lebih optimal.
Menurutnya, imunisasi pada kelompok usia 9 hingga 14 tahun dapat memberikan perlindungan hingga sekitar 88 persen meski hanya diberikan dalam satu dosis.
Sebaliknya, efektivitas perlindungan disebut lebih rendah apabila vaksin baru diberikan setelah seseorang berusia lebih dari 20 tahun.
“Semakin awal kita berikan, perlindungannya akan semakin tinggi, semakin besar,” kata Indri.
Data Kemenkes mencatat cakupan imunisasi HPV pada anak perempuan kelas 5 SD pada 2026 mencapai 83,5 persen.
Adapun cakupan imunisasi anak laki-laki kelas 5 SD di tiga provinsi yang menjadi wilayah perluasan mencapai 88 persen.
Pemerintah juga memperkuat pencegahan melalui skrining kanker serviks bagi perempuan dewasa mulai usia 30 tahun. Layanan tersebut diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis untuk mendorong deteksi dini.
Strategi imunisasi dan skrining menjadi dua jalur utama: mencegah infeksi sejak awal sekaligus menemukan risiko penyakit sebelum berkembang lebih jauh.
Namun, perluasan program masih menghadapi tantangan berupa hoaks dan disinformasi mengenai vaksin.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan informasi yang tidak benar dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Kemenkes pun mengajak media, jurnalis, dan pembuat konten untuk memperkuat edukasi berbasis bukti serta meluruskan informasi keliru mengenai vaksin HPV.
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, Prof. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan vaksin HPV telah melalui tahapan pengujian sebelum digunakan dalam program imunisasi.
Reaksi pascaimunisasi dapat berupa nyeri, kemerahan, atau bengkak di area suntikan. Sebagian orang juga dapat mengalami pusing, lemas, demam, mual, atau muntah yang umumnya bersifat ringan.
Melalui perluasan sasaran imunisasi, penguatan skrining, dan edukasi masyarakat, pemerintah berharap pencegahan penyakit akibat HPV dapat dilakukan lebih awal—sebelum infeksi berkembang menjadi ancaman yang lebih serius. (Sbw)












