Risiko Tak Terlihat dari Teh bagi Tumbuh Kembang Anak

- Editor

Selasa, 1 September 2026 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebiasaan kecil di meja makan bisa berdampak besar ketika menyangkut kebutuhan gizi bayi dan balita. (Foto: Frerpik)

Kebiasaan kecil di meja makan bisa berdampak besar ketika menyangkut kebutuhan gizi bayi dan balita. (Foto: Frerpik)

Jakarta, Sehatcantik.id – Ada kebiasaan kecil yang sering dianggap biasa di rumah: memberikan teh kepada anak karena dianggap sebagai minuman sehat. Padahal, bagi tubuh yang masih membangun fondasi pertumbuhan, segelas teh bisa membawa persoalan yang tidak terlihat.

Balai Besar POM Jakarta mengingatkan orang tua agar tidak sembarangan memberikan teh kepada bayi dan balita. Meski dikenal mengandung antioksidan, teh memiliki kandungan kafein dan tanin yang dapat mengganggu penyerapan zat gizi penting bagi anak.

“Tidak semua minuman yang baik untuk orang dewasa juga aman dikonsumsi anak.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

BPOM menjelaskan, kafein dalam teh dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, hingga proses tumbuh kembang apabila dikonsumsi berlebihan. Sementara tanin dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan.

Baca Juga :  Menkes Ajak Kreator Ubah Makan Sehat Jadi Tren Baru di Media Sosial

Zat besi bukan sekadar mineral biasa. Pada masa pertumbuhan, zat ini berperan penting dalam pembentukan hemoglobin yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko anemia dan berdampak pada perkembangan anak.

Dokter spesialis anak dr. Hawin Nurdiana, M.Kes., Sp.A., mengingatkan bahwa kandungan tanin dalam teh dapat menjadi penghambat penyerapan zat besi yang dibutuhkan anak.

“Teh dapat menghambat penyerapan zat besi karena kandungan tanin di dalamnya. Padahal zat besi berperan penting dalam tumbuh kembang anak.” ujar dr. Hawin Nurdiana.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menjelaskan bahwa kandungan polifenol dan fitat dalam teh dapat mengurangi penyerapan zat besi, terutama bila dikonsumsi bersamaan dengan waktu makan. Karena itu, pemberian teh pada anak perlu mendapat perhatian khusus.

Baca Juga :  Reza Gladys - Nikita Mirzani Cekcok di Depan Majelis Hakim

Selain persoalan zat besi, BPOM mengingatkan teh yang diseduh terlalu pekat dapat memicu iritasi lambung sehingga menyebabkan mual atau rasa tidak nyaman pada anak. Konsumsi berlebihan juga berpotensi mengganggu penyerapan kalsium yang penting untuk pembentukan tulang dan gigi.

Risiko lain muncul ketika teh diberikan dalam bentuk teh manis. Tambahan gula memang membuat rasanya lebih mudah diterima anak, tetapi kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko gigi berlubang dan membentuk pola konsumsi gula berlebih sejak usia dini.

Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya soal secangkir teh. Di masa pertumbuhan, setiap asupan adalah bagian dari proses panjang membangun tubuh. Sesuatu yang menjadi kebiasaan orang dewasa belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi anak-anak. (Sbw)

Berita Terkait

Derry Sulaiman Siap Jadi Saksi Richard Lee, Tegaskan Soal Status Mualaf
Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional
Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi
Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?
Saksi Ungkap Dugaan Teror Doktif Rp20 Miliar
Doktif Terdesak di Sidang dr. Richard Lee: Isu Pemerasan 20 Miliar hingga Skincare 1.000 Perak
Pasar Estetika Medis Diproyeksi Rp8,75 Triliun, BPOM Perketat Pengawasan
Segudang Keluhan Lansia: Ke Mana Harus Berobat?

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 01:32 WIB

Derry Sulaiman Siap Jadi Saksi Richard Lee, Tegaskan Soal Status Mualaf

Senin, 28 September 2026 - 17:54 WIB

Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional

Minggu, 27 September 2026 - 13:46 WIB

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Sabtu, 26 September 2026 - 21:39 WIB

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Kamis, 24 September 2026 - 19:37 WIB

Saksi Ungkap Dugaan Teror Doktif Rp20 Miliar

Berita Terbaru

Sekitar 363 ribu anak terindikasi mengalami gejala depresi berdasarkan skrining kesehatan Kemenkes. (Foto: Pexels)

Anak

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Minggu, 27 Sep 2026 - 13:46 WIB

Produk pangan olahan kemasan wajib mengantongi sertifikat halal demi syarat izin edar BPOM. (Foto: pexels)

Berita

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:39 WIB

Saksi Janet Aprilia Stanzah memberikan keterangan dalam sidang perkara Richard Lee di Pengadilan Negeri Tangerang.(Foto: Sehatcantik.id/Sbw)

Berita

Saksi Ungkap Dugaan Teror Doktif Rp20 Miliar

Kamis, 24 Sep 2026 - 19:37 WIB