Jakarta, Sehatcantik.id – Tidak semua olahraga harus membuat tubuh berkeringat deras atau jantung berdegup kencang. Bagi perempuan yang memasuki masa perimenopause dan menopause, gerakan yang perlahan justru bisa menjadi pilihan untuk tetap aktif sambil lebih mengenali perubahan yang terjadi pada tubuh.
Salah satunya adalah senam somatik. Latihan ini menekankan kesadaran terhadap gerakan tubuh, postur, pernapasan, serta ketegangan otot.
Instruktur senam somatik, Andy Batari Yulianin, mengatakan latihan tersebut tidak berorientasi pada banyaknya gerakan maupun besarnya kalori yang terbakar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Senam Somatik adalah latihan yang menggabungkan gerakan tubuh secara perlahan, terkontrol, dan penuh kesadaran. Fokusnya bukan pada seberapa banyak gerakan yang dilakukan, melainkan bagaimana kita merasakan dan mengendalikan tubuh, termasuk memerhatikan postur, pernapasan, serta ketegangan otot,” ujar Andy dalam keterangannya.
Memasuki masa menopause, perempuan dapat mengalami berbagai perubahan akibat fluktuasi dan penurunan hormon. Gangguan tidur, perubahan suasana hati, rasa tidak nyaman pada otot dan persendian hingga berkurangnya fleksibilitas dapat menjadi bagian dari fase tersebut.
Karena itu, aktivitas fisik yang dapat disesuaikan dengan kemampuan tubuh menjadi penting untuk menjaga kebugaran.
Andy menjelaskan, senam somatik dapat membantu meningkatkan kesadaran tubuh dan membuat seseorang lebih peka terhadap cara tubuh bergerak.
“Jika dilakukan secara rutin, senam Somatik dapat membantu meningkatkan kesadaran tubuh, memperbaiki koordinasi gerakan, menjaga fleksibilitas, serta mengurangi ketegangan otot,” katanya.
Gerakan yang dilakukan secara perlahan juga memberi ruang bagi tubuh untuk lebih rileks. Pengaturan napas menjadi bagian penting dalam latihan untuk membantu mengelola ketegangan dan meningkatkan kenyamanan saat bergerak.
Namun, senam somatik bukanlah olahraga yang dirancang untuk mengejar pembakaran kalori tinggi.
Menurut Andy, jumlah kalori yang terbakar bergantung pada berbagai faktor, termasuk durasi, intensitas gerakan, berat badan, dan kondisi fisik masing-masing orang.
“Karena senam Somatik umumnya berintensitas ringan, pembakaran kalorinya relatif lebih rendah dibandingkan olahraga kardio seperti berlari atau bersepeda. Namun, manfaat utamanya bukan sekadar membakar kalori, melainkan meningkatkan kesadaran tubuh, mobilitas, dan relaksasi,” jelasnya.
Bagi pemula, senam somatik dapat dilakukan sekitar 15 hingga 30 menit dalam satu sesi. Latihan dapat dilakukan dua sampai empat kali dalam seminggu dan disesuaikan secara bertahap dengan kemampuan tubuh.
Meski demikian, senam somatik sebaiknya tidak menjadi satu-satunya aktivitas fisik. Perempuan yang memasuki masa perimenopause maupun menopause tetap perlu menjaga kebugaran melalui kombinasi aktivitas aerobik dan latihan kekuatan.
Latihan kekuatan dan aktivitas menahan beban penting untuk membantu mempertahankan massa otot serta mendukung kesehatan tulang yang menjadi perhatian seiring bertambahnya usia.
Senam somatik juga bukan pengobatan khusus untuk seluruh keluhan menopause. Namun, latihan ini dapat menjadi salah satu cara untuk tetap bergerak, mengenali tubuh dengan lebih baik, dan menciptakan ruang relaksasi di tengah berbagai perubahan yang menyertai fase menopause.
Pada akhirnya, tubuh tidak selalu membutuhkan gerakan yang keras untuk tetap aktif. Kadang, bergerak lebih pelan justru menjadi cara untuk mendengarkan apa yang sedang dibutuhkan tubuh. (Sbw)












