Puluhan Beras Fortifikasi Bermasalah, Ini Risikonya bagi Kesehatan

- Editor

Rabu, 16 September 2026 - 09:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan merek beras fortifikasi disorot pemerintah setelah hasil uji laboratorium menunjukkan kandungannya tidak sesuai dengan kadar yang seharusnya. (Foto: CNBC)

Puluhan merek beras fortifikasi disorot pemerintah setelah hasil uji laboratorium menunjukkan kandungannya tidak sesuai dengan kadar yang seharusnya. (Foto: CNBC)

Jakarta, Sehatcantik.id — Beras yang dipasarkan dengan label fortifikasi ternyata tidak semuanya memberikan kandungan gizi sesuai yang dijanjikan. Pemerintah menemukan ketidaksesuaian pada 25 dari 27 merek beras fortifikasi yang diperiksa melalui empat laboratorium.

Temuan tersebut disampaikan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman. Ia mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kandungan nutrisi dalam beras fortifikasi benar-benar sesuai dengan ketentuan dan klaim yang dicantumkan pada produk.

“Katanya fortifikasi. Setelah kita cek di lab, ada empat lab, kredibel. Kita cek ternyata tidak sesuai dengan levelnya,” kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (15/9).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan Sekadar Soal Label

Fortifikasi pada pangan bukan sekadar tambahan pada nama produk. Konsepnya adalah memperkaya pangan dengan zat gizi tertentu, seperti vitamin dan mineral, agar nilai gizinya meningkat.

Karena itu, ketika kandungan fortifikan tidak sesuai dengan kadar yang seharusnya, persoalannya bukan hanya soal ketidaktepatan informasi kepada konsumen. Ada manfaat gizi yang semestinya diterima tetapi berpotensi tidak diperoleh secara optimal.

Risikonya juga bergantung pada zat gizi apa yang tidak sesuai dan seberapa besar penyimpangannya. Jika kandungan zat gizi lebih rendah dari yang dipersyaratkan, konsumen yang mengandalkan produk tersebut sebagai sumber tambahan nutrisi bisa tidak memperoleh manfaat seperti yang diharapkan.

Sebaliknya, apabila suatu zat gizi justru berlebihan, dampaknya juga tidak bisa diabaikan. Risiko kelebihan asupan bergantung pada jenis zat gizi, kadarnya, jumlah beras yang dikonsumsi, serta sumber nutrisi lain dari makanan atau suplemen.

Namun, temuan pemerintah saat ini belum menjelaskan secara terbuka jenis zat gizi apa saja yang menyimpang pada masing-masing produk maupun besarnya penyimpangan. Karena itu, temuan tersebut belum bisa diartikan bahwa seluruh 25 produk pasti menyebabkan penyakit atau keracunan.

Yang jelas, konsumen berhak mendapatkan kandungan sesuai informasi dan standar yang dijanjikan.

Baca Juga :  Kemasan Rokok Berubah, Pesan Kesehatan Dibuat Lebih Terlihat

Harga Tinggi, Gizi Tak Sesuai

Masalah menjadi lebih serius karena beras fortifikasi dijual dengan harga jauh di atas beras biasa.

Amran menyebut harga sejumlah produk di pasaran berada pada kisaran Rp25.000 hingga Rp57.000 per kilogram. Padahal, pemerintah memperkirakan harga yang semestinya sekitar Rp13.500 per kilogram.

Dengan selisih rata-rata sekitar Rp22.000 per kilogram, Amran menilai konsumen bukan hanya berpotensi kehilangan manfaat gizi, tetapi juga membayar lebih mahal untuk produk yang kandungannya tidak sesuai.

“Itu penipuan. Rp22 ribu per kilogram, rata-rata. Ini menyusahkan konsumen kita,” ujar Amran.

Pernyataan tersebut menjadi penting terutama karena beras fortifikasi dapat dipilih konsumen bukan semata-mata berdasarkan jenis atau rasa beras, melainkan karena ada harapan memperoleh tambahan zat gizi.

Dengan kata lain, nilai tambah produk fortifikasi justru terletak pada kandungan nutrisinya. Ketika bagian tersebut tidak sesuai, konsumen kehilangan salah satu alasan utama mengapa produk itu dipilih dan dibayar lebih mahal.

Dibutuhkan untuk Kelompok Rentan

Anggota Komisi IV DPR RI Endang S. Thohari mengatakan beras fortifikasi memiliki arti penting bagi masyarakat yang membutuhkan tambahan asupan gizi.

Ia menyoroti kemungkinan pemanfaatannya untuk kelompok seperti ibu hamil dan anak-anak, termasuk mereka yang menghadapi persoalan stunting.

“Saya sangat mendukung sekali apa yang dikerjakan oleh Menteri Pertanian. Beras fortifikasi yang sudah diedarkan ke masyarakat itu sangat merugikan masyarakat yang memerlukan,” kata Endang, dikutip ANTARA, Kamis (17/9).

Menurut dia, masyarakat mengharapkan beras fortifikasi benar-benar memiliki kualitas dan kandungan nutrisi sebagaimana yang diinformasikan.

“Karena ternyata setelah dianalisa ada beberapa perusahaan yang memalsukan kualitasnya. Nah ini sangat disesalkan karena kita di masyarakat itu sangat mengharapkan bahwa beras-beras fortifikasi itu adalah beras yang berkualitas tinggi, yang mengandung vitamin, antioksidan dan juga keperluan untuk ibu-ibu hamil dan juga stunting anak-anak,” ujarnya.

Baca Juga :  Balai Besar POM Jakarta Ingatkan Warga Waspada Takjil Berwarna Mencolok

Endang meminta pengawasan diperketat, termasuk melalui pemeriksaan langsung ke gerai yang menjual produk tersebut.

“Saya sangat mendukung bahwa harus ada pengawasan yang ketat dan sidak kepada gerai-gerai yang menjual beras-beras fortifikasi,” katanya.

25 Merek Masuk Temuan

Pemerintah menyatakan produk yang terbukti tidak memenuhi ketentuan akan ditarik dari peredaran. Perizinannya juga akan dicabut dan pelanggar diproses sesuai ketentuan hukum.

“Pertama kami sudah perintahkan tarik, yang kedua cabut izinnya, yang ketiga diproses,” kata Amran.

Dua hari kemudian, Amran kembali menegaskan langkah tersebut. Sebagai Kepala Bapanas, ia meminta jajaran lembaga tersebut memperketat pengawasan terhadap peredaran beras fortifikasi.

“Kami sudah minta Sestama (Sekretaris Utama Bapanas), Deputi yang baru kami lantik, awasi, tindak. Dan yang sudah melanggar kemarin yang fortifikasi, izinnya dicabut. Tidak boleh lagi memasarkan beras di Republik Indonesia,” ujar Amran di Jakarta, Kamis (17/9).

Adapun 25 merek yang disebut pemerintah dalam temuan tersebut adalah:

1. Idola Fortifikasi

2. Idola High Quality Whole Grain Rice

3. Idola Long Grain Rice

4. Ikan Mas Cupang

5. AAA Wijaya Kusuma

6. Cantik Manis

7. Penari Bangkok

8. Topi Koki Short Grain

9. Topi Koki Setra Royale

10. Topi Koki Long Grain Crystal

11. HOK-1 Gohan

12. Maknyuss Pulen Gizi

13. Anak Raja Fortifikasi

14. Anak Raja Nusantara

15. Top Anak Raja

16. PMS Induk Ayam

17. Sumo

18. Rasvit

19. FS Nutri Rice

20. Pelikan

21. Rice Rojolele

22. Super Kepala Beras Premium 111

23. 111 Golden Number

24. Putri Koki

25. Wellfarm Beras Diabetes

Bagi konsumen, temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa label fortifikasi bukan sekadar embel-embel pada kemasan. Kandungan yang dijanjikan harus benar-benar sesuai standar, terlebih ketika produk tersebut menyasar konsumen yang berharap memperoleh tambahan nutrisi. (Sbw)

Berita Terkait

Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien
Titik Balik Perang Skincare: Doktif Minta Maaf ke Heni Sagara
Richard Lee Tantang Ahli BPOM: Anda Ahli Apa Hakim?
Pasar Estetika Medis Indonesia Diproyeksi Tembus Rp8,75 Triliun pada 2029
Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan
Diplomasi Vaksin Ala BPOM, Siasat Tembus Pasar Afrika
Jejak Gelap Di Balik Perseteruan Selebgram: Saling Kunci Tersangka hingga Tudingan BPOM Palsu
Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 11:39 WIB

Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Rabu, 16 September 2026 - 09:37 WIB

Puluhan Beras Fortifikasi Bermasalah, Ini Risikonya bagi Kesehatan

Selasa, 15 September 2026 - 16:41 WIB

Titik Balik Perang Skincare: Doktif Minta Maaf ke Heni Sagara

Kamis, 10 September 2026 - 23:29 WIB

Richard Lee Tantang Ahli BPOM: Anda Ahli Apa Hakim?

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:10 WIB

Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan

Berita Terbaru

Ilustrasi tenaga kesehatan yang menghadapi tekanan kerja dan risiko burnout dalam menjalankan pelayanan kepada pasien. (Foto: Freepik)

Berita

Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Jumat, 18 Sep 2026 - 11:39 WIB

Tak Berkategori

Obat Kuat hingga Pelangsing Dibongkar BPOM

Jumat, 11 Sep 2026 - 14:17 WIB

Richard Lee tampak emosional saat mencecar saksi ahli BPOM dalam sidang lanjutan perkara yang menjeratnya di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten. (Foto: Sehatcantik.id/Sbw)

Berita

Richard Lee Tantang Ahli BPOM: Anda Ahli Apa Hakim?

Kamis, 10 Sep 2026 - 23:29 WIB