Jakarta, Sehatcantik.id — Pasar Afrika dengan 1,6 miliar jiwa bukan lagi sekadar wilayah penerima hibah kesehatan. BPOM RI mulai memutar otak membidik kawasan tersebut sebagai arena ekspansi industri farmasi nasional.
Ghana dipatok menjadi pintu masuk utamanya. Ambisi itu dibungkus lewat skema Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation) dengan dukungan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI/Indonesian AID).
Bagi Indonesia, asistensi regulasi ini merupakan langkah diplomasi ekonomi yang terukur. BPOM tidak melancarkan penetrasi pasar lewat jualan langsung yang agresif (hard selling), melainkan menyusup halus lewat bantuan pelatihan regulasi dan penguatan kapasitas lembaga lokal. Begitu regulasi Ghana berhasil diselaraskan dengan standar Indonesia, pintu ekspansi vaksin buatan dalam negeri pun terbuka lebar dari dalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Strategi tersebut diawali dengan memboyong delegasi Food and Drugs Authority (FDA) Ghana serta Noguchi Memorial Institute for Medical Research untuk melahap program peningkatan kapasitas pengawasan obat dan vaksin di Jakarta.
Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menegaskan bahwa usai meraih status WHO Listed Authority (WLA), Indonesia kini resmi menjadi episentrum dan rujukan regulasi vaksin dunia. Menurutnya, program ini bukan sekadar aksi sepihak.
“South-South Cooperation bukan hubungan satu arah. Kita bertukar pengetahuan, pengalaman, dan solusi praktis agar kapasitas kelembagaan kedua negara semakin kuat,” tegas Taruna.
Selama 14 hari, utusan Afrika itu digembleng mendalami tiga fokus utama pelatihan: evaluasi izin edar (marketing authorization), inspeksi fasilitas manufaktur (GMP inspection), serta pengujian laboratorium dan pelulusan bets (potency testing & lot release). Tak hanya berkutat di kelas, para peserta juga diajak melihat langsung operasional laboratorium BPOM dan fasilitas produksi PT Bio Farma.
“Program pelatihan ini sangat penting bagi kami untuk memastikan bahwa vaksin yang diproduksi secara lokal di Ghana aman, berkhasiat, dan berkualitas baik,” ujar perwakilan FDA Ghana, Patrick Owusu-Danso.
Pintu Masuk Pasar Afrika dan Uji Klinis Malaria
Bagi Indonesia, transfer pengetahuan ini bukan aksi altruisme murni, melainkan landasan strategis untuk membuka keran ekspor vaksin buatan dalam negeri.
“Tentu dari proses awal ini, kita akan berkembang. Nanti produk-produk yang kita hasilkan dari Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan vaksin, itu bisa diekspor ke Ghana,” kata Taruna.
Taruna membaca ceruk pasar raksasa yang terhampar di Benua Hitam. Ghana dinilai memiliki posisi geopolitik yang sangat krusial.
“Ghana ini merupakan pintu gerbang untuk Afrika. Dengan populasi Ghana yang mencapai 36, hampir 40 juta jiwa, ditambah Afrika yang memiliki 1,6 miliar penduduk, potensinya sangat besar,” tuturnya.
“Ke depan, kita sedang merancang kerja sama serupa dengan beberapa negara Afrika lainnya, seperti Afrika Selatan, Nigeria, dan Ethiopia,” lanjutnya.
Target jangka panjangnya menyasar penyakit endemik yang membelit kedua wilayah: malaria. BPOM merancang skema uji klinis multi-center yang melibatkan peneliti Indonesia dan Afrika untuk mengembangkan vaksin malaria.
Pendekatan ini dinilai krusial mengingat karakteristik transmisi malaria di kawasan sub-Sahara Afrika dan Indonesia bagian timur—seperti Papua—memiliki profil epidemiologis serupa. Keterlibatan lintas benua ini memastikan sampel genetik dan daya tahan vaksin teruji secara komprehensif di kancah global.
“Contohnya, nanti kita akan kembangkan vaksin yang berhubungan dengan malaria. Kita tahu kan penyakit malaria cukup banyak di Afrika, dan di Indonesia juga cukup banyak, khususnya di bagian timur,” jelas Taruna.
“Dengan masuk uji klinis nanti, variabilitas dari vaksin anti-malaria itu akan lebih luas. Dilakukan di sini dan dilakukan juga di sana,” ia menambahkan.
Legitimasi WHO dan Transfer Teknologi Bio Farma
Keberanian BPOM memimpin penetrasi pasar ini ditopang oleh legitimasi global. Pengakuan World Health Organization (WHO) yang menetapkan BPOM sebagai WLA menjadi kartu truf utama.
“Karena kita sudah berstatus WLA, ini menambah reputasi kita, bahwa kita semakin dipercaya. Bukan hanya di negara-negara ASEAN, bukan hanya di negara Eropa karena kita selevel, tapi juga negara-negara Afrika juga mengakui kita. Itu yang paling penting,” ia menegaskan.
Di tengah dominasi pasar farmasi Afrika yang selama ini dikuasai produk impor asal India, Tiongkok, atau negara-negara Barat, langkah Indonesia menawarkan model bisnis berbeda: transfer kapabilitas.
Di tingkat manufaktur, manuver bisnis ini telah mengakar lewat kiprah BUMN farmasi PT Bio Farma yang menjalin kemitraan strategis dengan Atlantic Life Sciences of Ghana.
Kerja sama tersebut berfokus pada transfer teknologi (transfer of technology) untuk membantu Ghana memproduksi vaksin tetanus pertama secara lokal. Ini menjadi fondasi kokoh sebelum gelombang ekspor farmasi Indonesia benar-benar menguasai Benua Hitam. (Sbw)













