Jakarta, Sehatcantik.id – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kian terasa pada kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla hingga 21 Oktober 2026.
Dari jumlah tersebut, 75.172 kasus dialami anak berusia nol hingga lima tahun atau balita. Sementara 258.298 kasus lainnya tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun.
Kasus ISPA tersebut tersebar di 68 kabupaten dan kota di tujuh provinsi yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lonjakan penderita gangguan pernapasan terjadi seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap di sejumlah wilayah.
Udara Berbahaya
Kondisi kualitas udara di beberapa daerah bahkan sempat masuk kategori berbahaya.
Berdasarkan pemantauan Kemenkes pada 22 Oktober 2026, sejumlah wilayah tercatat berada dalam kategori hitam dengan konsentrasi partikel PM2.5 di atas angka 300.
Partikel halus PM2.5 menjadi salah satu ancaman utama dalam kabut asap karena dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Paparan asap tidak hanya berpotensi menyebabkan batuk dan gangguan pernapasan. Kondisi tersebut juga dapat memicu iritasi mata serta memperburuk penyakit paru-paru yang telah diderita sebelumnya.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling membutuhkan perlindungan karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Ribuan Fasilitas Kesehatan Disiagakan
Untuk menghadapi dampak kesehatan akibat karhutla, Kemenkes menyiagakan 1.691 puskesmas di wilayah terdampak.
Sebanyak 360 rumah sakit rujukan juga disiapkan untuk menangani pasien yang membutuhkan layanan lebih lanjut.
Selain itu, terdapat 87 laboratorium kesehatan masyarakat yang mendukung penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan.
Pemerintah daerah juga menyediakan 491 rumah oksigen bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.
Kemenkes turut menyiapkan dukungan tenaga medis, termasuk dokter umum dan dokter spesialis seperti spesialis paru, mata, THT, serta dermatologi dan venereologi.
Masyarakat diminta memantau kondisi kualitas udara secara berkala, terutama ketika kabut asap masih menyelimuti wilayah tempat tinggal.
Warga juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, memperbanyak minum air putih, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas atau batuk yang semakin berat.
Angka 333.470 kasus ISPA menunjukkan dampak karhutla tidak hanya berhenti pada hutan yang terbakar. Ketika asap menyebar, ancamannya ikut masuk ke rumah-rumah dan saluran pernapasan masyarakat—dengan balita menjadi salah satu kelompok yang paling rentan. (Sbw)












