Jakarta, Sehatcantik.id — Setiap lima menit, rata-rata dua orang Indonesia meninggal akibat tuberkulosis (TBC). Dengan angka kematian mencapai 136 ribu jiwa setiap tahun, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah menghadapi pekerjaan besar: mempercepat pengobatan, mengembangkan vaksin, dan memastikan inovasi medis tidak terhenti di meja birokrasi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta jajarannya tidak terlalu lama berkutat pada diskusi dan proses administratif. Ia mendesak percepatan tindakan konkret, termasuk persetujuan obat dan vaksin melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atau Indonesian FDA.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Budi mengingatkan keterlambatan persetujuan hingga satu tahun dapat berdampak besar terhadap keselamatan masyarakat.
“Lebih baik kita mempercepat persetujuan dan mempercepat tindakan,” ujar Budi dalam forum The 40th Stop TB Partnership Board Meeting 2026 di Sunset Road, Kabupaten Badung, Bali, Kamis, 5 November 2026.
Menurut dia, pemerintah perlu mengurangi waktu untuk berdiskusi dan lebih memusatkan perhatian pada pelaksanaan program. Percepatan regulasi harus berjalan beriringan dengan perluasan skrining dan pengobatan pasien.
Tiga Varian Genom TBC Ditemukan di Indonesia
Di tengah upaya mempercepat penanganan, Kementerian Kesehatan mengungkap temuan penting dari penelitian terhadap 7.000 pasien TBC di berbagai wilayah Indonesia. Hasilnya, ditemukan tiga varian genom bakteri TBC dengan karakteristik berbeda berdasarkan persebaran geografis: Indonesia bagian barat, tengah, dan timur.
Penelitian tersebut menggunakan teknologi pengurutan genom (genome sequencing) dari Illumina dan Oxford Nanopore, dengan dukungan pendanaan Global Fund.
Budi mengatakan pemetaan karakteristik genom diperlukan untuk mengetahui apakah perbedaan genetik bakteri berpengaruh terhadap sensitivitas pengobatan maupun efektivitas vaksin baru.
“Saya ingin memeriksa apakah hal ini akan berdampak pada sensitivitas atau kurangnya sensitivitas serta efektivitas vaksin dan pengobatan baru tersebut, mengingat terdapat varian-varian yang sangat jelas perbedaannya, tiga varian berbeda, yakni varian Indonesia bagian barat, Indonesia bagian tengah, dan Indonesia bagian timur,” kata Budi.
Temuan tersebut membuka peluang pengembangan strategi penanganan yang lebih presisi. Karakteristik bakteri di setiap wilayah dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penelitian vaksin dan pengembangan terapi.
Meski demikian, perbedaan genom itu masih perlu diteliti lebih lanjut. Belum ada kesimpulan bahwa ketiga varian tersebut memiliki respons berbeda terhadap vaksin atau obat yang sedang dikembangkan.
Vaksin M72 Masuk Uji Klinis Fase Ketiga
Indonesia juga terlibat dalam pengembangan vaksin TBC M72 yang telah memasuki uji klinis fase ketiga bersama sejumlah negara. Pemerintah sekaligus mempersiapkan uji klinis obat baru yang diharapkan dapat memperpendek masa pengobatan.
Budi mengapresiasi dukungan Global Fund dalam penelitian genom terhadap 7.000 pasien tersebut. Ia berharap penguatan riset dapat mempercepat pengembangan teknologi kesehatan yang sesuai dengan karakteristik penyakit di Indonesia.
Namun, hasil penelitian harus berujung pada manfaat nyata bagi pasien. Vaksin dan obat baru perlu dikembangkan, diuji, dan dipastikan keamanannya sebelum digunakan secara luas.
“Tidak ada satu pun hal yang sampai ke tangan pasien secara kebetulan. Kita perlu melakukan skrining terhadap pasien, memberikan pengobatan, serta menyalurkan vaksin kepada mereka,” ujar Budi.
Di tengah beban TBC yang masih tinggi, tantangan Indonesia bukan semata menemukan cara baru melawan penyakit ini, melainkan memastikan setiap kemajuan penelitian segera diterjemahkan menjadi tindakan. (Sbw)













