Pasien BPJS Curhat di Threads: Meninggal Dunia di Sela Komentar Jahat Dokter dan Nakes

- Editor

Rabu, 5 Agustus 2026 - 07:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perilaku nirempati oknum dokter dan tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS di media sosial menuai cibiran dari publik. (Foto: Istimewa/Tangkapan Layar)

Perilaku nirempati oknum dokter dan tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS di media sosial menuai cibiran dari publik. (Foto: Istimewa/Tangkapan Layar)

Bogor, Sehatcantik.id — Yurizal Tri Chaerawan, pasien peserta BPJS Kesehatan asal Bogor, Jawa Barat, meninggal dunia pada Jumat, 31 Juli 2026.

​Yurizal berpulang sembilan hari setelah keluhannya di media sosial terkait lamanya antrean ruang perawatan memicu gelombang perundungan (cyberbullying) oleh sejumlah oknum tenaga kesehatan (nakes).

​Peristiwa ini bermula pada 22 Juli 2026. Yurizal, yang saat itu terdampar di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Bogor, mengunggah pesan singkat di platform Threads:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​”8 jam belum dapat ruangan. Enggak mau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS,” ungkap Yurizal.

​Meski tidak menyebutkan nama rumah sakit tempatnya berobat, unggahan tersebut justru diserbu komentar nirempati dari sejumlah oknum nakes.

​Dokter berinisial E mengejek kapasitas intelektual korban (“PPnya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? haven’t some brain cells”).

​Sementara itu, dokter B menyuruh korban pindah ke ruang jenazah (“Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong”).

​Perawat berinisial W bahkan melontarkan komentar ekstrem (“Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan”).

​Kesaksian Sahabat dan Keluarga: Keterlambatan Medis serta Tekanan Mental

​Firhan Arief, sahabat dekat yang mendampingi almarhum sejak awal, membeberkan kronologi penanganan medis yang dinilai lambat sekaligus dampak psikologis fatal yang dialami almarhum.

​Menurut Firhan, Yurizal harus menunggu hingga 48 jam di ruang IGD hanya untuk menjalani prosedur pemeriksaan CT Scan. Baru setelah dua hari di IGD, ia mendapatkan kamar rawat inap biasa.

​Saat kondisi fisiknya semakin merosot dan membutuhkan penanganan intensif di High Care Unit (HCU), pihak rumah sakit menyatakan ruangan tersebut penuh. Yurizal akhirnya hanya diberikan tindakan khusus di ruang perawatan biasa.

Baca Juga :  BPOM Bangun Jejaring Regulasi Kosmetik Global

​Di tengah penanganan yang terbatas, beban psikologis korban memuncak akibat komentar-komentar beracun para nakes. Firhan menceritakan momen-momen kritis tersebut:

​”Saya sahabat dekat Alm Yurizal. Saya yang tau riwayat penyakit Alm dari awal sampai Alm hembuskan nafas terakhir.”

​”Saya yang betul betul mendampingi Alm dari awal masuk IGD, nunggu CT Scan sampai 48 jam, dapat ruangan setelah 2 hari di IGD, dan bahkan ketika Alm mau masuk HCU ruangan penuh, akhirnya Alm diberikan tindakan khusus di ruang ranap,” ungkap Firhan.

​Firhan juga bersaksi bahwa almarhum sempat membaca seluruh komentar jahat tersebut sebelum kondisi kesehatannya kian memburuk:

​”Saya juga bersaksi, alm menangis dan sedih lihat threads ini. Alm capek, lelah, tapi saya gak ada di sebelah nya jadi beliau luapkan rasa sedih nya di sini.”

​”Ketika baca threads ini, Alm kondisi menurun dan sudah tidak megang alat komunikasi, airplane mode karena gk mau buka social media lagi,” lanjut Firhan.

​Sepupu korban, Hilda Aprianti, turut menegaskan bahwa Yurizal selama ini adalah sosok yang tidak pernah mengeluhkan penyakitnya kepada keluarga.

​”Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 juli kemarin, karena terlambat ditanganin RS karena sudah gawat bgt, maafin sepupu saya kalo curhat gini di threads, sebelumnya dia sakit ga pernah cerita2 kmn bahkan ke keluarga, apa2 nyimpen sendiri, sudah ya jgn ada hate lg di sini,” imbuh Hilda.

​Permintaan Maaf Terbuka dari Dokter E dan Perawat W

​Kasus ini memicu gelombang kecaman luas dari publik di media sosial.

Baca Juga :  Efek Memakai Sunscreen di Malam Hari

​Setelah desakan masif netizen, para oknum yang terlibat satu per satu menyampaikan permohonan maaf terbuka secara tertulis.

​Dokter E menyampaikan penyesalannya melalui akun media sosial:

​”Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi oleh almarhum saat mencari penanganan medis.”

​”Saya mengakui kekhilafan saya dalam menjaga etika profesi serta moralitas saat merespons keluhan mendiang,” tulisnya.

​Sementara itu, perawat W juga melayangkan permohonan maaf resmi kepada keluarga korban dan instansinya:

​”Saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak keluarga dari almarhum Yurizal. Atas utas saya yang menambah beban emosional dan luka pada keluarga.”

​”Saya menyadari kesalahan saya dan ketidakprofesionalan saya sebagai tenaga kesehatan. Saya juga meminta maaf kepada instansi saya karena utas saya tersebut mencoreng nama baik instansi saya. Di sini saya bersungguh-sungguh meminta maaf, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi di kemudian hari,” ungkap W.

​Pernyataan Resmi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

​Seiring beredarnya isu di media sosial yang mengaitkan perawat W dengan fasilitas kesehatan di Yogyakarta, manajemen RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memberikan klarifikasi resmi.

​Pihak rumah sakit menegaskan bahwa perawat W bukan merupakan pegawai resmi RSUP Dr. Sardjito. Ia adalah peserta didik/mahasiswa yang tengah menjalani proses pendidikan atau magang di lingkungan rumah sakit tersebut.

​Manajemen RSUP Dr. Sardjito menyatakan sangat menyayangkan dan tidak mentolerir segala bentuk perundungan maupun pelanggaran etika digital di lingkungan pelayanan medis mereka.

​Pihak rumah sakit kini berkoordinasi dengan institusi pendidikan terkait untuk mengambil tindakan tegas sesuai aturan disiplin yang berlaku. (Sbw)

Berita Terkait

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan
Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser
Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat
BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI
BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober
Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk
Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu
Kemenkes Perluas Vaksin HPV ke Anak Laki-laki, Cegah Kanker Sejak Dini

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 08:10 WIB

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan

Kamis, 5 November 2026 - 19:52 WIB

Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser

Senin, 2 November 2026 - 15:25 WIB

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:56 WIB

BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober

Berita Terbaru