Jakarta, Sehatcantik.id – Selepas Subuh, Taruna Ikrar sudah bergerak. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makamam (BPOM) RI ini tidak mau hanya diam di kantor. Menunggu laporan di balik meja.
Itulah sebabnya, Kamis pagi 30 April 2026, Taruna memilih turun gunung. Langsung ke lapangan saat kuali-kuali besar di dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis mulai dipanaskan. Mengecek bahan baku. Melihat bagaimana nasi dan lauk untuk rakyat dimasak.
Setidaknya ada lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jakarta yang disambangi Taruna bersama tim dari BPOM.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini bukan sidak biasa. Ini soal mengawal program unggulan negara, yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Skalanya raksasa. Di Tebet saja, ada 2.858 porsi. Di Palmerah malah lebih banyak lagi: 4.100 penerima manfaat. Belasan ribu porsi per hari harus keluar dari dapur-dapur tersebut. Taruna ingin memastikan segalanya aman sejak uap pertama mengepul.
“BPOM ingin memastikan program Presiden Prabowo Subianto berjalan memenuhi standar keamanan, higiene, dan sanitasi agar makanan yang diterima masyarakat aman, bermutu, serta bergizi,” tegasnya.
Ada masalah besar sebenarnya. Anggaran BPOM boleh dibilang cekak. Sangat terbatas. Bahkan, dalam Rapat Dengar Pendapat pada 20 April lalu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyebut anggaran BPOM kalah jumlah dengan pengadaan kaos kaki di instansi lain.
Tapi, Taruna tampaknya punya prinsip. Sebab, ini soal perut jutaan anak, termasuk lansia dan ibu menyusui. Pengawasan tidak boleh ikut ikutan minim meski anggaran tak memadai.
Maka, meski kantong anggaran tipis, pendekatan di lapangan dibuat lentur.
“Meski anggaran terbatas, pendekatan pengawasan dilakukan lebih adaptif, responsif, dan berbasis risiko,” kata Taruna.
Bagi Taruna, kuncinya ada pada kecepatan eksekusi.
“Monitoring yang baik serta tindak lanjut yang cepat akan menentukan keberhasilan program ini. Risiko insiden keamanan pangan harus dicegah sejak awal,” tamba Taruna.
Lantas bagaimana hasil sidaknya? Tentu ada temuan. Namanya juga “penggerebekan”. Misalnya, ada catatan soal konsistensi pemakaian masker oleh petugas. Ada pula soal kebersihan alat atau soal suhu penyimpanan. Terkait administrasi pencatatan bahan baku juga menjadi catatan. Tapi, catatan itu bukan untuk menghukum.
“BPOM hadir bukan untuk mencari kesalahan, tetapi memastikan program MBG berjalan lebih baik. Ini adalah bagian dari upaya continuous improvement yang harus kita jaga bersama,” ujar Taruna.

Data dari lapangan ini tidak akan masuk laci. Taruna akan menyodorkannya ke Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi. Baginya, kunci sukses bukan sekadar makanan ada. Tapi kualitasnya harus terjaga.
“Sinergi seluruh pihak menjadi kunci. Dengan pengawasan yang kuat, kita pastikan program strategis ini benar-benar memberi manfaat tanpa menimbulkan risiko kesehatan,” jelasnya lagi.
Negara memang sedang berhemat. Anggaran memang sedang diperas habis-habisan. Tapi bagi BPOM, urusan perlindungan publik tidak boleh mundur selangkah pun.
”BPOM menegaskan, keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama dalam mendukung program-program strategis nasional,” pungkasnya.
Begitulah. Kalau dapur sudah diawasi ketat sejak matahari belum muncul, rakyat bisa makan dengan tenang. Perut kenyang, hati senang, meski anggaran hanya seharga kaos kaki.
Sinergi adalah koentji. (Sbw)













