Tangerang, Sehatcantik.id — L-Glutathione menjadi salah satu kandungan yang disorot dalam sidang perkara Richard Lee di Pengadilan Negeri Tangerang, Kamis (17/9/2026).
Saksi dari PT Imedco Djaja, perusahaan yang disebut memproduksi White Tomato, mengaitkan kandungan tersebut dengan efek pencerahan kulit.
“Secara scientific, tomat putih salah satu kandungannya L-Glutathione. L-Glutathione itu bisa membuat kulit menjadi putih,” kata saksi dalam persidangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika ditanya mengenai keyakinannya terhadap efek tersebut, saksi menjawab, “Sangat yakin.”
Lantas, apa sebenarnya glutathione?
Antioksidan Alami Tubuh
Glutathione atau GSH merupakan senyawa yang diproduksi secara alami oleh tubuh. Senyawa ini tersusun dari tiga asam amino, yakni glutamat, sistein, dan glisin.
Fungsi utamanya adalah sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel dari stres oksidatif. Glutathione juga terlibat dalam sejumlah proses metabolisme dan sistem pertahanan sel.
Karena fungsi tersebut, glutathione kemudian banyak diteliti untuk berbagai keperluan kesehatan, termasuk kulit.
Mengapa Dikaitkan dengan Kulit Cerah?
Warna kulit terutama ditentukan oleh melanin, pigmen yang diproduksi sel melanosit.
Sejumlah penelitian menunjukkan glutathione dapat memengaruhi proses pembentukan melanin atau melanogenesis, antara lain melalui pengaruh terhadap enzim tirosinase. Glutathione juga diduga menggeser pembentukan pigmen ke arah pheomelanin yang relatif lebih terang dibandingkan eumelanin.
Mekanisme inilah yang kemudian membuat glutathione populer sebagai bahan pencerah kulit.
Namun, mekanisme biologis tidak otomatis berarti hasilnya pasti sama pada setiap orang.
Bukti Ilmiahnya
Penelitian terhadap glutathione menunjukkan hasil yang cukup beragam.
Salah satu uji klinis terhadap 60 orang sehat menemukan konsumsi glutathione 500 miligram per hari selama empat minggu berkaitan dengan penurunan indeks melanin pada beberapa bagian kulit. Namun, peneliti juga menyebut keamanan penggunaan jangka panjang masih perlu diteliti.
Penelitian lain terhadap 83 peserta selama 12 minggu menemukan beberapa perubahan pigmentasi pada kelompok yang mengonsumsi suplemen yang mengandung glutathione, tetapi hasilnya tidak konsisten pada seluruh parameter yang diperiksa.
Tinjauan sistematis terbaru juga menemukan sejumlah penelitian yang menunjukkan efek pencerahan dari glutathione oral maupun topikal. Namun kualitas penelitian tidak seragam dan sebagian memiliki keterbatasan.
Jadi, glutathione memang memiliki dasar penelitian terkait pigmentasi kulit, tetapi belum tepat jika disederhanakan sebagai bahan yang pasti membuat kulit putih.
Oral, Oles, dan Suntik
Glutathione digunakan dalam beberapa bentuk, antara lain suplemen oral dan produk topikal.
Untuk penggunaan oral, salah satu persoalannya adalah penyerapan glutathione setelah dikonsumsi. Sementara penggunaan topikal telah diteliti dalam sejumlah penelitian dan menunjukkan kemungkinan manfaat terhadap pigmentasi, meski bukti klinisnya masih terbatas.
Berbeda dengan itu, penggunaan glutathione melalui suntikan sebagai agen pemutih kulit memiliki bukti manfaat yang lebih lemah dan persoalan keamanan yang lebih besar.
Karena itu, bentuk penggunaan dan dosis menjadi bagian penting ketika membicarakan glutathione.
Ada Batasan BPOM
Di Indonesia, BPOM menyebut glutathione dapat digunakan dalam suplemen kesehatan dengan batas konsumsi maksimal 600 miligram per hari.
Namun, klaim glutathione sebagai pemutih kulit tidak diperbolehkan dalam ketentuan klaim suplemen kesehatan.
BPOM juga pernah menemukan produk ilegal yang mengandung L-glutathione 500 miligram dan dipasarkan dengan klaim sebagai pemutih kulit.
Artinya, keberadaan glutathione dalam sebuah produk tidak otomatis membuat produk tersebut boleh dipasarkan dengan klaim memutihkan kulit.
Kembali ke White Tomato
Dalam sidang 17 September, saksi menyebut L-Glutathione ketika menjelaskan kandungan White Tomato dan kaitannya dengan kulit.
Di satu sisi, sejumlah penelitian memang menunjukkan kemungkinan glutathione memengaruhi pigmentasi kulit. Di sisi lain, hasil penelitian belum seragam dan manfaatnya tidak dapat disamaratakan kepada semua orang.
Sementara secara regulasi, BPOM membatasi klaim glutathione dalam suplemen kesehatan.
Karena itu, persoalan glutathione dalam perkara White Tomato bukan sekadar apakah kandungan tersebut ada atau tidak.
Yang juga penting adalah apa manfaat yang benar-benar dapat dibuktikan, berapa dosisnya, dan klaim apa yang boleh disampaikan kepada konsumen. (Sbw)













