Pasien BPJS Meninggal, Matinya Empati Dokter dan Perawat

- Editor

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perilaku nirempati oknum dokter dan tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS di media sosial menuai cibiran dari publik. (Foto: Kolase Digital/Istimewa)

Perilaku nirempati oknum dokter dan tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS di media sosial menuai cibiran dari publik. (Foto: Kolase Digital/Istimewa)

Bogor, Sehatcantik.id — Kematian Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien peserta BPJS Kesehatan asal Bogor, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam sekaligus sorotan tajam terhadap etika profesi medis. Kasus ini bukan sekadar persoalan antrean panjang di Instalasi Gawat Darurat (IGD), melainkan cermin krisis empati oknum tenaga medis di ruang publik.

​Sembilan hari sebelum menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 31 Juli 2026, Yurizal meluapkan kepasrahannya di platform Threads. Ia menuliskan keluhan tanpa menyebut nama rumah sakit tempatnya berobat: “8 jam belum dapat ruangan. Enggak mau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS.”

​Namun, respons yang diterima almarhum justru berbanding terbalik dengan nilai-nilai kemanusiaan. Unggahan tersebut diserbu komentar nirempati dan cemoohan dari sejumlah oknum dokter dan perawat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Cemoohan di Ruang Siber dan Efek Disinhibisi Online

​Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana komunikasi yang bijak berubah menjadi panggung kecaman. Oknum dokter berinisial E mempertanyakan kapasitas intelektual korban, sementara dokter B melontarkan kalimat satir dengan menyuruh korban pindah ke ruang jenazah. Eskalasi ucapan nirempati memuncak ketika seorang perawat berinisial W melontarkan komentar ekstrem yang menyuruh korban memotong nadinya agar cepat mendapat ruangan.

Baca Juga :  Menkes-IDI Minta Tenang, HMPV Bukan Corona, Tidak Mematikan

​Fenomena nakes yang berani melontarkan kata-kata kejam di ruang publik ini sejalan dengan teori psikologi media sosial Online Disinhibition Effect yang dirumuskan oleh John Suler (2004). Teori ini menjelaskan bahwa interaksi berbasis layar ponsel kerap menciptakan ilusi jarak dan anonimitas, sehingga seseorang merasa bebas melanggar batas etika, mengejek, atau bersikap kejam—hal yang umumnya tak berani mereka lontarkan secara langsung saat bertatap muka.

​Beban Mental di Tengah Compassion Fatigue

​Kesaksian sahabat dekat almarhum, Firhan Arief, mengungkapkan bahwa almarhum sempat membaca deretan komentar tersebut sebelum kondisi fisiknya kian merosot. Di tengah keterbatasan penanganan dan sesaknya kapasitas ruang perawatan intensif (High Care Unit), beban psikologis akibat cemoohan tersebut makin memperberat kondisi korban hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

​Secara psikologi kerja, hilangnya kepedulian oknum nakes ini juga beririsan dengan konsep Compassion Fatigue yang diteliti oleh Charles Figley (1995) serta fenomena depersonalisasi dalam instrumen burnout karya Christina Maslach (1981). Paparan beban kerja tinggi dan rasa sakit yang ditemui sehari-hari, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memicu penumpulan emosi kronis. Dampaknya, nakes berisiko memandang pasien bukan lagi sebagai manusia yang sedang cemas, melainkan sekadar objek atau beban kerja tambahan.

Baca Juga :  Akibat Cuci Muka Pakai Sabun Mandi

Pelanggaran Kode Etik dan Tanggung Jawab Digital

​Perilaku nirempati ini tidak hanya melukai rasa kemanusiaan, tetapi juga menabrak prinsip-prinsip etika dasar. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) serta Kode Etik Keperawatan Indonesia menegaskan kewajiban setiap tenaga kesehatan untuk bersikap sopan, mengedepankan empati, dan tidak membeda-bedakan pasien atas dasar status sosial maupun sistem pembayaran.

​Tokoh medis nasional seperti Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, serta pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) secara konsisten mengingatkan bahwa kebebasan di media sosial tidak pernah melepaskan sumpah profesi seorang tenaga kesehatan. Jejak digital di ruang publik tetap menjadi cermin dari profesionalisme dan integritas moral mereka.

Evaluasi Total Etika Digital Medis

​Gelombang kecaman publik akhirnya memaksa para oknum yang terlibat menyampaikan permohonan maaf terbuka, sementara RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta mengklarifikasi status perawat W sebagai peserta didik magang.

​Tragedi ini menjadi momentum evaluasi kritis bagi institusi pendidikan dan organisasi profesi kesehatan. Keahlian medis di dalam rumah sakit harus berjalan selaras dengan etika dan tenggang rasa saat berkomunikasi di ruang publik. (Sbw)

Berita Terkait

Skin Booster “Kulit Mayat”, Taruna Ikrar: “Terlarang dan Bukan Kosmetik”
Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien
Kasus Richard Lee, Saksi Ungkap Produksi dan Khasiat White Tomato
Puluhan Beras Fortifikasi Bermasalah, Ini Risikonya bagi Kesehatan
Titik Balik Perang Skincare: Doktif Minta Maaf ke Heni Sagara
Richard Lee Tantang Ahli BPOM: Anda Ahli Apa Hakim?
Pasar Estetika Medis Indonesia Diproyeksi Tembus Rp8,75 Triliun pada 2029
Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 13:27 WIB

Skin Booster “Kulit Mayat”, Taruna Ikrar: “Terlarang dan Bukan Kosmetik”

Jumat, 18 September 2026 - 11:39 WIB

Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Kamis, 17 September 2026 - 17:00 WIB

Kasus Richard Lee, Saksi Ungkap Produksi dan Khasiat White Tomato

Rabu, 16 September 2026 - 09:37 WIB

Puluhan Beras Fortifikasi Bermasalah, Ini Risikonya bagi Kesehatan

Selasa, 15 September 2026 - 16:41 WIB

Titik Balik Perang Skincare: Doktif Minta Maaf ke Heni Sagara

Berita Terbaru

Ilustrasi tenaga kesehatan yang menghadapi tekanan kerja dan risiko burnout dalam menjalankan pelayanan kepada pasien. (Foto: Freepik)

Berita

Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Jumat, 18 Sep 2026 - 11:39 WIB