Jakarta, SehatCantik.id – Melawan tuberkulosis bukan sekadar memberi obat. Obat memang membunuh kuman, tetapi tubuh yang rapuh juga membutuhkan tenaga untuk bangkit. Tanpa gizi yang cukup, proses penyembuhan ibarat menyalakan pelita dengan minyak yang hampir habis.
Itulah yang ingin ditekankan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak semestinya hanya dipandang sebagai program pemenuhan kebutuhan pangan. Di tangan yang tepat, ia bisa menjadi bagian dari terapi penyelamat nyawa.
Budi mengusulkan agar penderita TBC masuk dalam kelompok penerima manfaat MBG. Menurutnya, selama enam hingga dua belas bulan menjalani pengobatan, kondisi fisik pasien cenderung melemah sehingga membutuhkan dukungan gizi.
“Kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya,” kata Budi Gunadi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.
Ia mengutip berbagai penelitian internasional serta pengalaman India dan China yang menunjukkan bahwa dukungan nutrisi mampu mempercepat pemulihan pasien TBC.
Usulan itu lahir dari kenyataan yang tidak ringan. Setiap tahun sekitar 126 ribu orang Indonesia meninggal akibat TBC. Jika dihitung, rata-rata dua nyawa padam setiap lima menit. Angka itu menjadi pengingat bahwa TBC bukan sekadar penyakit, melainkan perlombaan melawan waktu.
“Jadi kita ngomong lima menit, yang meninggal dua di Indonesia karena TBC,” ujar Budi.
Karena itu, ia telah menyampaikan gagasan tersebut kepada Badan Gizi Nasional. Menurutnya, bila MBG diarahkan kepada kelompok yang paling rentan, dampaknya terhadap kesehatan masyarakat akan jauh lebih besar.
Budi menyebut ada empat kelompok yang perlu menjadi prioritas penerima MBG, yakni ibu hamil, ibu menyusui, balita di bawah usia lima tahun, dan penderita TBC.
“Kalau empat target ini kecukupan gizinya dipenuhi, masalah kesehatan kita akan turun drastis. Buktinya sudah ada di jurnal-jurnal internasional,” katanya.
Dengan kata lain, sepiring makanan bergizi bukan hanya mengenyangkan perut. Bagi sebagian orang, ia bisa menjadi bahan bakar bagi tubuh untuk bertahan, melawan penyakit, dan melanjutkan hidup. (Sbw)














