Ketika Kedaulatan Obat Mulai Diracik Dari Dalam Negeri

- Editor

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolaborasi Tempo Scan dan Sino Biopharmaceutical membuka jalan bagi penguatan industri biofarmasi nasional dari hulu hingga hilir. (Foto: Sbw)

Kolaborasi Tempo Scan dan Sino Biopharmaceutical membuka jalan bagi penguatan industri biofarmasi nasional dari hulu hingga hilir. (Foto: Sbw)

Jakarta, Sehatcantik.id – Ada ironi yang sudah terlalu lama terjadi. Pasar obat Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, tetapi rak-raknya masih dipenuhi produk impor. Indonesia menjadi pasar yang menguntungkan, namun belum sepenuhnya menjadi produsen yang diperhitungkan.

Lahirnya PT Tempo Chia Tai Tianqing (TCBI) Biopharmaceutical Indonesia, hasil kolaborasi Tempo Scan Group dan Sino Biopharmaceutical Limited, menjadi penanda bahwa arah itu mulai berubah. Bukan sekadar membangun perusahaan baru, tetapi menanam fondasi agar obat-obatan berteknologi tinggi suatu hari diproduksi dari dalam negeri.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan Indonesia memiliki kebutuhan mendesak untuk memperkuat industri farmasi nasional. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, kebutuhan obat terus meningkat, sementara ketergantungan terhadap produk impor masih sangat tinggi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Data BPOM menunjukkan sekitar 90 persen obat berbasis sintesis kimia masih didatangkan dari luar negeri. Untuk produk biologis, termasuk biosimilar, hampir seluruhnya masih bergantung pada impor. Karena itu, investasi Tempo Scan dan Sino Biopharmaceutical untuk mengembangkan terapi biologis, termasuk obat kanker dan diabetes, dinilai menjadi langkah strategis.

“Target obat-obatan yang akan dikembangkan melalui joint venture ini sangat luar biasa. Ini sangat membantu masyarakat, terutama terapi kanker dan diabetes yang masih didominasi produk impor,” ujar Taruna.

Baca Juga :  Efek Samping Tanam Benang di Wajah, Cari Tahu Dulu

Taruna menambahkan BPOM kini tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga membangun ekosistem regulasi yang mampu mempercepat inovasi dan meningkatkan daya saing industri farmasi nasional.

Hal itu diperkuat dengan keberhasilan BPOM meraih pengakuan WHO-Listed Authority (WLA) yang menempatkan Indonesia sejajar dengan regulator obat terbaik dunia.

“Status WLA bukan sekadar kebanggaan Indonesia. Ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena produk yang telah disahkan BPOM memiliki kredibilitas untuk memasuki pasar global,” kata Taruna.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pembentukan TCBI sejalan dengan agenda pemerintah membangun kemandirian industri farmasi nasional.

Pengalaman pandemi COVID-19, menurutnya, menjadi pelajaran bahwa kemampuan memproduksi obat sendiri merupakan bagian dari ketahanan nasional.

“Presiden selalu mengharapkan Indonesia memiliki kemandirian di sektor obat. Pengalaman pandemi membuktikan setiap negara lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya. Karena itu Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi obat sendiri,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, Indonesia memiliki pasar biofarmasi yang sangat besar, mulai dari terapi kanker, penyakit hati, diabetes, penyakit pernapasan, hingga berbagai produk bioteknologi seperti monoclonal antibody, biosimilar, dan protein rekombinan. Melalui kerja sama tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperoleh obat biologis dengan harga yang lebih terjangkau.

Airlangga juga mengapresiasi keberhasilan BPOM masuk dalam jajaran WHO-Listed Authority. Menurutnya, pengakuan itu memperkuat posisi Indonesia di mata dunia sekaligus meningkatkan kepercayaan internasional terhadap sistem regulasi nasional.

Baca Juga :  Bahaya Obat Herbal, Ini Ciri-cirinya

Sementara itu, Executive Chairman & Co-Founder Tempo Scan Group Handojo S. Muljadi menegaskan pembentukan TCBI merupakan investasi jangka panjang untuk membangun industri biofarmasi nasional, bukan sekadar memperluas pasar.

“Hari ini menandai lahirnya PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia sebagai kemitraan strategis jangka panjang untuk menghadirkan obat-obatan inovatif dan berkualitas tinggi dengan harga yang relatif terjangkau bagi pasien di Indonesia,” kata Handojo.

TCBI dibentuk melalui skema joint venture dengan komposisi kepemilikan 51 persen oleh Sino Biopharmaceutical dan 49 persen oleh Tempo Scan. Skema tersebut dipilih untuk mendorong investasi jangka panjang, mempercepat alih teknologi, sekaligus membangun kapasitas produksi di dalam negeri.

Pada tahap awal, perusahaan akan memprioritaskan komersialisasi produk, pengembangan pasar, pemenuhan regulasi, serta pelaksanaan uji klinis di Indonesia.

Setelah itu, proses alih teknologi akan dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan fasilitas manufaktur Tempo Scan agar produksi obat biologis dapat dilakukan di dalam negeri.

Kolaborasi pemerintah, regulator, dan industri tersebut diharapkan menjadi fondasi baru bagi industri biofarmasi nasional. Jika proses ini berjalan sesuai rencana, Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi obat-obatan modern, tetapi juga ikut memproduksi dan memasoknya ke pasar global. (Sbw)

Berita Terkait

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan
Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser
Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat
BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI
BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober
Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk
Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu
Kemenkes Perluas Vaksin HPV ke Anak Laki-laki, Cegah Kanker Sejak Dini

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 08:10 WIB

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan

Kamis, 5 November 2026 - 19:52 WIB

Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser

Senin, 2 November 2026 - 15:25 WIB

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:56 WIB

BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober

Berita Terbaru