Jakarta, Sehatcantik.id — Puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 membawa risiko meningkatnya gangguan kesehatan, salah satunya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap perubahan cuaca, kualitas udara, serta kondisi lingkungan selama periode panas ekstrem.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan ancaman penyakit saat musim kemarau tidak hanya dipengaruhi oleh suhu udara yang meningkat, tetapi juga berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan, sanitasi, dan daya tahan tubuh masyarakat.
“ISPA, ya penyakit memang semuanya berhubungan dengan kesehatan lingkungan. Jadi tidak hanya perubahan cuaca, tetapi juga kebersihan lingkungan, hygiene, dan sanitasi harus terus dijaga,” ujar Andi.
Menurutnya, Indonesia saat ini memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Kondisi cuaca yang semakin panas, udara lebih kering, serta perubahan suhu yang cepat perlu diantisipasi oleh masyarakat maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Musim kemarau juga berpotensi memperburuk kualitas udara akibat meningkatnya debu, polusi, serta risiko kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut dapat memperbesar paparan partikel yang mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit paru.
Kemenkes meminta masyarakat memperkuat langkah pencegahan dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, memastikan sanitasi tetap baik, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta menjaga pola hidup sehat untuk mempertahankan imunitas.
Selain masyarakat, fasilitas kesehatan juga diminta bersiap menghadapi kemungkinan peningkatan kasus penyakit yang berkaitan dengan musim kemarau.
“Cuaca yang panas, kemudian kering, perubahan cuaca yang mendadak, itu sebaiknya diantisipasi oleh seluruh masyarakat maupun fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan,” kata Andi.
Dengan meningkatnya suhu dan perubahan kondisi lingkungan, kewaspadaan menjadi kunci agar dampak musim kemarau tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih luas. (Sbw)














