Jakarta, Sehatcantik.id – El Nino “Godzilla” masih menjadi perhatian memasuki September 2026. BMKG mencatat kondisi El Nino masih berada pada kategori sangat kuat, dengan sebagian wilayah Indonesia menghadapi periode panas dan kering.
Situasi ini bukan sekadar membuat udara terasa lebih gerah. Kemarau panjang dapat memperburuk kualitas udara, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, sekaligus memengaruhi kondisi lingkungan yang berkaitan dengan kesehatan.
Kementerian Kesehatan sebelumnya mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap dampaknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan minimnya hujan membuat proses alami pembersihan polutan di udara berkurang. Risiko tersebut dapat semakin besar ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan.
“Udara menjadi stagnan, diperparah lapisan inversi dan angin lemah. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat, sehingga menimbulkan kabut asap yang berdampak langsung pada kesehatan,” kata Aji.
Bukan hanya polusi yang perlu diwaspadai. Perubahan kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, termasuk demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
Kualitas air dan sanitasi yang menurun juga berpotensi memicu penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kolera, hingga leptospirosis.
Anak Perlu Pengawasan Ekstra
Kelompok anak menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian lebih saat cuaca ekstrem.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan perubahan cuaca drastis membuat tubuh anak harus bekerja lebih keras untuk beradaptasi. Anak pun dapat lebih cepat lelah dan rentan mengalami gangguan kesehatan.
“Secara umum, sebaiknya anak-anak berada di dalam ruangan saat cuaca ekstrem. Jangan sampai dibiarkan tanpa pengawasan karena di musim seperti ini daya tahan tubuh bisa menurun,” ujar Piprim.
Orang tua juga disarankan menyesuaikan aktivitas anak dengan kondisi cuaca dan kualitas udara. Ketika polusi sedang tinggi, kegiatan di luar ruangan sebaiknya dikurangi.
Selain aktivitas, asupan makanan juga tidak boleh luput dari perhatian.
Piprim menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi, terutama protein hewani, untuk membantu menjaga kondisi tubuh anak.
“Nutrisi harus diperbaiki, terutama protein hewani, supaya anak lebih fit menghadapi kondisi cuaca ekstrem seperti ini,” katanya.
Orang tua juga perlu memperhatikan tanda-tanda ketika anak mulai tidak fit, seperti mudah lelah, kurang aktif, atau muncul keluhan kesehatan.
Dengan kondisi cuaca yang masih perlu diwaspadai, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menghindari panas. Kualitas udara, aktivitas, asupan nutrisi, kebersihan lingkungan, dan kondisi kesehatan perlu diperhatikan secara bersamaan. (Sbw)













