Jakarta, Sehatcantik.id – Bagi pencinta olahraga dan pemburu massa otot, protein sering kali dianggap sebagai “dewa selamat”.
Semakin banyak beban dibakar, semakin tinggi pula porsi daging atau suplemen yang ditumpuk di piring. Namun, ada satu realitas medis yang kerap terlewat. Tubuh manusia memiliki ambang batas.
Apa pun yang dikonsumsi berlebihan—bahkan nutrisi esensial sekalipun—bisa berbalik merusak organ dari dalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan Pukul Rata Takaran
Pakar gizi klinis dan onkologi dari KIMS Hospitals Bengaluru, Chitra B K, mengakui vitalnya peran protein. Nutrisi ini dibutuhkan untuk meregenerasi jaringan, menjaga imunitas, hingga memproduksi hormon.
Namun, ia memberi catatan tebal bahwa kebutuhan tiap orang tidak bisa dipukul rata.
“Namun, jika protein dikonsumsi secara berlebihan, dampaknya dapat merugikan kesehatan, tergantung usia dan kondisi kesehatan seseorang,” ujar Chitra.
Ginjal dan Hati Bekerja Ekstra
Setiap kali protein dicerna, proses tersebut menyisakan ampas metabolisme berupa urea dan amonia. Tugas ginjal-lah untuk menyaring dan membuang sisa limbah ini.
Saat asupan protein melonjak drastis, ginjal dipaksa bekerja di luar kapasitas normalnya.
Dalam istilah medis, kondisi ini memicu hyperfiltration—fenomena di mana saringan ginjal (glomerulus) dipaksa bekerja berkecepatan tinggi. Studi dalam Clinical Journal of the American Society of Nephrology (CJASN) mencatat bahwa fenomena ini lambat laun mengikis jaringan penyaring ginjal.
Pada organ yang sehat, beban ekstra ini mungkin masih bisa ditoleransi sementara. Namun bagi pemilik fungsi ginjal yang menurun atau gangguan hati, kebiasaan ini ibarat memaksa mesin aus berjalan kencang.
Hati kewalahan memecah amonia, sementara ginjal kelelahan menyaring sisa filtrasinya.
Jebakan Sembelit dan Mitos Tunggal
Keluhan seperti perut kembung atau susah BAB juga kerap mengintai pelaku diet tinggi protein.
Fenomena ini biasanya muncul bukan karena proteinnya, melainkan akibat memangkas porsi serat demi memberi ruang bagi daging atau suplemen.
Saat sayur, buah, dan biji-bijian diabaikan, keseimbangan bakteri baik di usus otomatis terganggu. Dampaknya mulai dari pencernaan macet hingga dehidrasi, sebab metabolisme protein butuh ekstra air.
Untuk menyiasatinya, Chitra menyarankan agar kita tidak bergantung pada satu bahan makanan saja. Variasikan sumbernya dari kacang-kacangan, olahan susu, telur, ikan, hingga kedelai.
Rapuhnya Tulang dan Ancam Jantung
Studi dalam ISRN Nutrition menyebutkan kecukupan harian ideal orang dewasa sehat sebenarnya berada di kisaran 0,8 gram per kilogram berat badan.
Menjejali tubuh di atas batas ini dalam jangka panjang memicu efek berantai:
* Pengeroposan Tulang: Asidosis ringan akibat metabolisme protein berlebih memaksa tubuh mengambil kalsium dari tulang untuk menetralkan asam, lalu membuangnya lewat urine.
* Risiko Pembuluh Darah: Riset terbitan jurnal Circulation menegaskan bahwa diet tinggi protein yang bersumber dominan dari daging merah meningkatkan kadar trimetilamina N-oksida (TMAO) dalam darah—zat yang mempercepat penumpukan plak di pembuluh jantung.
* Ancaman Kanker: Konsumsi daging merah dan daging olahan berlebih dalam jangka panjang juga terbukti mendongkrak risiko kanker usus besar, lambung, dan payudara.
Keseimbangan di Atas Kuantitas
Mencukupi nutrisi bukanlah tentang seberapa banyak protein yang sanggup kita telan. Ini tentang seberapa presisi porsinya dengan usia, gaya hidup, dan kondisi medis tubuh.
“Kebutuhan protein setiap orang berbeda. Namun, lebih banyak bukan berarti selalu lebih baik,” pungkas Chitra. (Sbw)













