Jakarta, Sehatcantik.id — Pangan tidak lagi berhenti di satu meja makan. Dalam rantai pasok global yang semakin terhubung, satu ancaman kecil di satu negara dapat berubah menjadi persoalan besar bagi kawasan. Karena itu, ASEAN memperkuat sistem bersama untuk menghadapi kedaruratan keamanan pangan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar simulasi penanganan darurat keamanan pangan bersama negara-negara ASEAN di Jakarta. Kegiatan ini bertujuan menguji kesiapan kawasan dalam mendeteksi ancaman, bertukar informasi, menilai risiko, hingga mengambil langkah cepat ketika terjadi insiden pangan yang membahayakan masyarakat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, keamanan pangan membutuhkan kerja sama lintas negara. Sistem yang kuat harus dibangun melalui koordinasi, kecepatan respons, dan pengambilan keputusan berbasis sains.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mari kita gunakan simulasi ini, tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas teknis, melainkan untuk mempererat kerja sama, solidaritas, dan terutama komitmen kita untuk melindungi kesehatan masyarakat di ASEAN,” ujar Taruna.
Menurutnya, tantangan keamanan pangan kini semakin kompleks. Ancaman tidak hanya berasal dari bahaya biologis, tetapi juga kontaminasi kimia, faktor lingkungan, hingga pergerakan produk pangan yang semakin luas antarnegara.
“Munculnya bahaya biologis, kimia, dan lingkungan memerlukan sistem darurat keamanan pangan yang mampu melakukan deteksi cepat, berbagi informasi tepat waktu, penilaian risiko berbasis sains, dan respons regional yang terkoordinasi,” tutur Taruna Ikrar.
Melalui mekanisme Food Safety Emergency Response (FSER), negara-negara ASEAN dilatih menghadapi berbagai skenario, mulai dari munculnya penyakit akibat pangan terkontaminasi, penelusuran sumber masalah, hingga koordinasi antarotoritas.
Bagi BPOM, keamanan pangan bukan lagi sekadar urusan pengawasan produk. Keamanan pangan menjadi bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan kepercayaan konsumen.
“Penguatan kesiapsiagaan darurat keamanan pangan merupakan investasi dalam pembangunan berkelanjutan ASEAN dan daya saing regional,” ujarnya.
Indonesia sendiri telah mendorong penguatan sistem keamanan pangan ASEAN sejak 2020 melalui berbagai program peningkatan kapasitas respons cepat terhadap insiden pangan. Upaya itu terus diperkuat melalui kerja sama regional dan dukungan mitra internasional.
Head of Strategy from UK Mission to ASEAN Harrison Massey menilai ASEAN telah menunjukkan kemajuan melalui pembentukan sistem peringatan dini dan pusat kajian risiko pangan. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada satu negara maupun lembaga yang mampu menghadapi krisis pangan sendirian.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, keamanan pangan menjadi tantangan bersama. Ancaman yang tak terlihat dapat bergerak melintasi batas negara, sehingga kesiapan dan kolaborasi menjadi kunci untuk melindungi masyarakat. (Sbw)













