Topik Rawan Pangan

BPOM Perketat Pengawasan Pangan Hadapi El Niño dan Nataru

Jakarta, Sehatcantik.id – Ancaman El Niño yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027 membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperketat pengawasan keamanan pangan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko gangguan mutu pangan akibat cuaca ekstrem, sekaligus menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan perubahan suhu ekstrem dan keterbatasan air bersih dapat memengaruhi keamanan pangan sejak tahap produksi hingga distribusi.

“Keamanan pangan adalah bagian integral dari ketahanan pangan. Menghadapi El Niño, mutu dan keamanan pangan, termasuk cadangan beras, harus dijaga di sepanjang rantai pasok,” kata Taruna seusai Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Pangan di Jakarta, Senin (26/10/2026).

BPOM memetakan sedikitnya empat titik rawan yang perlu diantisipasi. Mulai dari potensi pemalsuan atau pengoplosan pangan ketika pasokan menipis, hingga cemaran kimia akibat pertumbuhan kapang penghasil aflatoksin pada komoditas seperti jagung dan kacang tanah.

Risiko lain adalah kerusakan fisik pangan akibat suhu tinggi serta persoalan sanitasi ketika ketersediaan air bersih berkurang selama musim kemarau panjang.

Empat Titik Rawan Pangan

Menurut Taruna, pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap produk yang telah beredar di pasar. BPOM juga memperkuat pemeriksaan pada rantai pasok pangan, terutama terhadap komoditas yang rentan mengalami penurunan mutu akibat kondisi cuaca.

Untuk cadangan beras pemerintah, BPOM mengusulkan penguatan pemeriksaan mutu sebelum beras disalurkan kepada masyarakat. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan beras tetap layak konsumsi dan tidak mengalami perubahan warna, bau, maupun pertumbuhan kapang.

Sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2026, BPOM telah menerbitkan 1.074 Sertifikat Sistem Manajemen Keamanan Pangan Olahan (SMKPO). Pengambilan sampel juga terus dilakukan terhadap sejumlah komoditas yang rentan, seperti ayam, telur, ikan, dan sayuran, khususnya di wilayah yang menghadapi risiko kekeringan.

Pengawasan keamanan pangan menjadi semakin penting menjelang Nataru, ketika kebutuhan masyarakat dan pergerakan distribusi pangan biasanya meningkat.

Pemerintah juga menyiapkan langkah untuk menjaga pasokan dan harga melalui perdagangan antardaerah serta operasi pasar. Sejumlah komoditas, terutama cabai merah dan cabai rawit, menjadi perhatian karena kenaikan harga yang dipengaruhi gangguan produksi dan cuaca ekstrem.

Dengan ancaman El Niño yang belum sepenuhnya berakhir, BPOM menegaskan keamanan pangan harus dijaga dari hulu hingga hilir—agar persoalan iklim tidak berubah menjadi ancaman baru di meja makan masyarakat.

BPOM Perketat Pengawasan Pangan Hadapi El Niño dan Nataru

Jakarta, Sehatcantik.id – Ancaman El Niño yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027 membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperketat pengawasan keamanan pangan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko gangguan mutu pangan akibat cuaca ekstrem, sekaligus menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan perubahan suhu ekstrem dan keterbatasan air bersih dapat memengaruhi keamanan pangan sejak tahap produksi hingga distribusi.

“Keamanan pangan adalah bagian integral dari ketahanan pangan. Menghadapi El Niño, mutu dan keamanan pangan, termasuk cadangan beras, harus dijaga di sepanjang rantai pasok,” kata Taruna seusai Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Pangan di Jakarta, Senin (26/10/2026).

BPOM memetakan sedikitnya empat titik rawan yang perlu diantisipasi. Mulai dari potensi pemalsuan atau pengoplosan pangan ketika pasokan menipis, hingga cemaran kimia akibat pertumbuhan kapang penghasil aflatoksin pada komoditas seperti jagung dan kacang tanah.

Risiko lain adalah kerusakan fisik pangan akibat suhu tinggi serta persoalan sanitasi ketika ketersediaan air bersih berkurang selama musim kemarau panjang.

Empat Titik Rawan Pangan

Menurut Taruna, pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap produk yang telah beredar di pasar. BPOM juga memperkuat pemeriksaan pada rantai pasok pangan, terutama terhadap komoditas yang rentan mengalami penurunan mutu akibat kondisi cuaca.

Untuk cadangan beras pemerintah, BPOM mengusulkan penguatan pemeriksaan mutu sebelum beras disalurkan kepada masyarakat. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan beras tetap layak konsumsi dan tidak mengalami perubahan warna, bau, maupun pertumbuhan kapang.

Sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2026, BPOM telah menerbitkan 1.074 Sertifikat Sistem Manajemen Keamanan Pangan Olahan (SMKPO). Pengambilan sampel juga terus dilakukan terhadap sejumlah komoditas yang rentan, seperti ayam, telur, ikan, dan sayuran, khususnya di wilayah yang menghadapi risiko kekeringan.

Pengawasan keamanan pangan menjadi semakin penting menjelang Nataru, ketika kebutuhan masyarakat dan pergerakan distribusi pangan biasanya meningkat.

Pemerintah juga menyiapkan langkah untuk menjaga pasokan dan harga melalui perdagangan antardaerah serta operasi pasar. Sejumlah komoditas, terutama cabai merah dan cabai rawit, menjadi perhatian karena kenaikan harga yang dipengaruhi gangguan produksi dan cuaca ekstrem.

Dengan ancaman El Niño yang belum sepenuhnya berakhir, BPOM menegaskan keamanan pangan harus dijaga dari hulu hingga hilir—agar persoalan iklim tidak berubah menjadi ancaman baru di meja makan masyarakat. (Foto: BPOM)

Berita

BPOM Perketat Pengawasan Pangan Hadapi El Niño dan Nataru

Berita | BPOM | Health | Kemenkes | Kesehatan | News | Populer | Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Jakarta, Sehatcantik.id – Ancaman El Niño yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027 membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperketat pengawasan keamanan pangan. Langkah…