Jakarta, Sehatcantik.id — Kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino membawa ancaman yang tidak terlihat. Selain memicu kekeringan dan meningkatkan potensi kebakaran hutan, kondisi ini juga memperburuk kualitas udara yang berdampak langsung pada kesehatan pernapasan masyarakat.
Dokter spesialis paru dan pernapasan Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. Christian Febriandri, mengatakan perubahan lingkungan selama musim kering membuat risiko gangguan pernapasan meningkat. Kebakaran hutan, debu, dan polusi menghasilkan partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.
“Ketahanan tubuh manusia menjadi rentan, kemudian kualitas udara menjadi rendah. Polusi udara sulit dikontrol terutama di kawasan industri besar,” ujar Christian dalam Webinar Kesiapsiagaan Dampak El Nino: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia.
Menurutnya, salah satu ancaman terbesar berasal dari paparan partikel PM2,5 yang berukuran sangat kecil. Partikel ini dapat memicu iritasi saluran napas, memperburuk asma, meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga mengganggu perkembangan paru pada anak.
“Paparan PM2,5 dapat menyebabkan gangguan paru atau perkembangan paru pada anak kecil,” katanya.
Dampak polusi udara juga tidak berhenti pada keluhan sementara. Jika terjadi terus-menerus, paparan udara buruk dapat menyebabkan perubahan fungsi paru, baik yang masih bisa pulih maupun yang bersifat permanen. Risiko gangguan kesehatan juga dapat menjalar ke organ lain, termasuk jantung.
Pada kondisi akut, masyarakat dapat mengalami mata merah, hidung berair, iritasi tenggorokan, hingga peradangan saluran napas bagian bawah. Kelompok yang memiliki riwayat asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), maupun penyakit jantung perlu lebih waspada karena kondisi mereka dapat memburuk lebih cepat.
Christian mengingatkan masyarakat untuk memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker saat udara memburuk, menghindari olahraga berat di luar rumah, serta tidak membakar sampah sembarangan menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko.
“Apabila terjadi masalah kesehatan yang mengganggu atau terjadi serangan, segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tegasnya.
Kemarau kali ini mengingatkan bahwa ancaman lingkungan tidak hanya datang dari tanah yang mengering, tetapi juga dari udara yang semakin sulit dihirup. Pencegahan menjadi benteng pertama sebelum gangguan kesehatan datang. (Sbw)














