Deteksi Dini Jadi Senjata Baru Lawan Kanker

- Editor

Minggu, 12 Juli 2026 - 14:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teknologi deteksi dini kanker diperluas hingga Puskesmas untuk memperbesar peluang kesembuhan pasien. (Foto: Kemenkes)

Teknologi deteksi dini kanker diperluas hingga Puskesmas untuk memperbesar peluang kesembuhan pasien. (Foto: Kemenkes)

Jakarta, Sehatcantik.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mendorong perubahan besar dalam penanganan kanker di Indonesia. Salah satu fokus utama pemerintah adalah memperkuat deteksi dini agar pasien tidak datang ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, keterlambatan diagnosis masih menjadi penyebab tingginya angka kematian akibat kanker di Indonesia. Lebih dari 80 persen pasien kanker baru mengetahui penyakitnya saat sudah berada pada stadium tiga atau empat.

“Kunci utama penanggulangan kanker adalah deteksi cepat dan pengobatan cepat. Jika diketahui pada stadium satu, peluang kesembuhan dengan teknologi yang ada saat ini sangat tinggi,” ujar Menkes Budi dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 di Jakarta, Minggu (12/7).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data GLOBOCAN, Indonesia mencatat 408.661 kasus baru kanker dengan 242.988 kematian setiap tahun. Penyakit ini menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga secara nasional. Pada perempuan, kanker payudara dan kanker serviks menjadi kasus yang paling banyak ditemukan, sementara laki-laki lebih banyak menghadapi kanker paru dan kanker kolorektal.

Baca Juga :  Penyebab Tipes pada Orang Dewasa dan Cara Mengobatinya

Untuk menekan angka tersebut, Kemenkes mulai mengubah pola layanan kanker yang selama ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Pemerintah memperluas akses teknologi deteksi hingga tingkat layanan kesehatan primer.

Sebanyak 10 ribu Puskesmas disiapkan dengan perangkat X-ray digital dan ultrasonografi (USG) berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu mendeteksi tanda awal kanker paru serta benjolan pada payudara. Pemeriksaan HPV DNA juga diperluas untuk mendeteksi risiko kanker serviks sejak dini.

Selain penguatan layanan primer, Kemenkes menyiapkan fasilitas diagnosis lanjutan di tingkat kabupaten/kota. Sebanyak 514 daerah ditargetkan memiliki layanan CT scan, sementara pengadaan 60 alat PET scan ditargetkan terealisasi pada 2028. Pemerintah juga memperluas layanan kemoterapi di 500 kabupaten/kota serta membangun fasilitas terapi proton pertama di RS Kanker Dharmais.

Namun, perluasan fasilitas kesehatan harus diikuti kesiapan tenaga medis. Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Arianti Anaya mengatakan pemerintah mempercepat pemenuhan dokter spesialis onkologi melalui jalur pendidikan tambahan.

Baca Juga :  Merawat Kuku agar Sehat, Ini Tips Mudahnya

“Langkah ini kami lakukan melalui jalur program Fellowship dan Advanced Clinical Training. Dengan demikian, kebutuhan SDM kesehatan khusus penanganan kanker dapat segera terpenuhi untuk melayani masyarakat,” tegas Arianti.

Dalam jangka panjang, Kemenkes juga menjalankan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker 2024–2034 serta memperkuat registri kanker nasional agar terhubung dengan laporan global WHO. Ke depan, layanan kanker diarahkan menuju era kedokteran genomik atau precision medicine, sehingga risiko kanker dapat diketahui lebih awal melalui pemeriksaan genetik.

“Melalui pemerataan teknologi, pembenahan SDM, serta penguatan registri nasional, kita optimistis angka kematian akibat kanker di Indonesia dapat ditekan secara drastis,” pungkas Menkes Budi.

ICCF 2026 mengusung tema “Next-Generation Oncology: Management, Technology and Holistic Care”. Forum yang mempertemukan sekitar 350 peserta dari kalangan dokter hingga mahasiswa kedokteran itu menjadi ajang pertukaran pengetahuan dan penguatan kerja sama layanan kanker antara Indonesia dan China. (Sbw)

Berita Terkait

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan
Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser
Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat
BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI
BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober
Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk
Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu
Kemenkes Perluas Vaksin HPV ke Anak Laki-laki, Cegah Kanker Sejak Dini

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 08:10 WIB

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan

Kamis, 5 November 2026 - 19:52 WIB

Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser

Senin, 2 November 2026 - 15:25 WIB

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:56 WIB

BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober

Berita Terbaru