Usia 35 Jadi Titik Waspada, Kemenkes Soroti Lonjakan Kematian Dini di Kelompok Produktif

- Editor

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan diabetes menjadi ancaman utama bagi usia produktif di Indonesia. (Foto: Freepik)

Penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan diabetes menjadi ancaman utama bagi usia produktif di Indonesia. (Foto: Freepik)

Jakarta, Sehatcantik.id – Usia 35 seharusnya menjadi puncak produktivitas. Karier sedang dibangun, keluarga mulai mapan, dan mimpi masih terus dikejar. Namun bagi sebagian orang Indonesia, justru di titik itulah jarum kehidupan mulai bergerak lebih cepat dari seharusnya. Kementerian Kesehatan mencatat, kematian dini pada kelompok usia 35–39 tahun mulai meningkat, dipicu penyakit yang tumbuh diam-diam dari pola hidup sehari-hari.

“Artinya meskipun kematian kita itu di usia infant atau di usia bayi itu berkurang, dan kita survive-nya lebih baik, tapi kita matinya juga kecepatan. Jadi artinya apa? Kita premature death atau kematian di usia sebelum rata-rata usia penduduk atau di bawah 72 itu tinggi. Dan ternyata mulainya di usia 35–39 itu mulai naik,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi dalam Seminar Nasional Membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk Future and Healthy Food di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Maria mengatakan usia harapan hidup masyarakat Indonesia kini mencapai 74 tahun, meningkat dari sebelumnya sekitar 72 tahun dan semakin mendekati target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 76 tahun.

Namun, usia panjang belum tentu berarti hidup lebih sehat. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya menikmati hidup sehat hingga sekitar usia 60 tahun. Setelah itu, banyak yang mulai hidup berdampingan dengan berbagai penyakit. Pemerintah pun menargetkan usia harapan hidup sehat meningkat menjadi 65 tahun.

Menurut Maria, peningkatan usia harapan hidup selama ini terutama didorong oleh menurunnya angka kematian bayi dan usia muda. Di sisi lain, kematian prematur pada kelompok usia produktif justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Pergeseran pola penyakit menjadi penyebab utamanya. Jika dahulu penyakit infeksi mendominasi, kini penyakit tidak menular mengambil alih. Stroke masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Penyakit jantung iskemik naik menjadi peringkat kedua, diabetes melonjak dari posisi kesembilan ke peringkat keempat, sementara gagal ginjal kini masuk dalam 10 besar penyebab kematian nasional.

Maria menjelaskan tingginya angka kematian dini berkaitan erat dengan meningkatnya diabetes, hipertensi, obesitas, serta pola konsumsi masyarakat yang tinggi gula, garam, dan lemak.

“Kalau kita lihat faktor risiko di dalamnya, kenapa bisa jantung, kenapa bisa strok, kenapa bisa gagal ginjal, itu sangat dipengaruhi oleh diabetes. Diabetes dipengaruhi oleh perilaku makan makanan manis, dipengaruhi oleh hipertensi, hipertensi dipengaruhi oleh perilaku makan makanan asin, kemudian juga dipengaruhi oleh status gizi obesitas,” ujarnya.

Baca Juga :  Lima Peserta SPPI Meninggal, Pemerintah Bentuk Tim Khusus Evaluasi Pelatihan

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena Indonesia hanya memiliki waktu sekitar 10 hingga 15 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Jika penyakit kronis terus menyerang kelompok usia produktif, produktivitas tenaga kerja nasional ikut terancam.

Ia juga mengingatkan bahwa penyakit kardiovaskular kini menjadi ancaman yang sulit dikenali karena sering berkembang tanpa gejala.

“Kalau kita sekarang sering mendengarkan anak muda lari meninggal serangan jantung karena apa? Karena penyakit-penyakit kardiovaskular ini enggak seperti dulu penyakit infeksi, rasanya demam, diare, keringat, sakit kepala,” katanya.

Karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong transformasi layanan kesehatan yang lebih berorientasi pada pencegahan melalui perbaikan pola konsumsi masyarakat, peningkatan asupan gizi seimbang, serta pengurangan konsumsi gula, garam, dan lemak untuk menekan risiko penyakit tidak menular sejak usia produktif. (Sbw)

Berita Terkait

Jejak Gelap Di Balik Perseteruan Selebgram: Saling Kunci Tersangka hingga Tudingan BPOM Palsu
Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda
Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu
BPOM Pangkas Batas Ambang BPA 12 Kali Lipat, Pengawasan Industri Diperketat
BPOM Hingga Fasilitas Ekspor Kini Bisa Diakses UMKM Lewat Satu Akun SAPA UMKM
Waspada, Ancaman KLB Campak, Kemenkes Instruksikan Faskes Wajib Lapor Kasus 24 Jam
Tren Racik Suplemen Tidur: Ahli Peringatkan Risiko Interaksi Zat dan Efek Samping
Stem Cell Jadi Ladang Bisnis? BPOM Ingatkan Ancaman 12 Tahun Penjara

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:57 WIB

Jejak Gelap Di Balik Perseteruan Selebgram: Saling Kunci Tersangka hingga Tudingan BPOM Palsu

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:41 WIB

Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:14 WIB

Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:09 WIB

BPOM Pangkas Batas Ambang BPA 12 Kali Lipat, Pengawasan Industri Diperketat

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:35 WIB

BPOM Hingga Fasilitas Ekspor Kini Bisa Diakses UMKM Lewat Satu Akun SAPA UMKM

Berita Terbaru

Terdakwa dr. Richard Lee memohon penundaan sidang di PN Tangerang akibat kondisi fisiknya drop, Rabu (26/8/2026). (Foto: Sehatcantik/Sbw)

Berita

Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:41 WIB

Lisa Mariana membawa persoalan legalitas produk yang dikaitkan dengan

Berita

Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu

Selasa, 25 Agu 2026 - 09:14 WIB