BPOM Bongkar 24 Obat Herbal Berbahan Kimia

- Editor

Selasa, 7 April 2026 - 17:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Herbal tak selalu alami—BPOM menemukan 24 produk mengandung bahan kimia berbahaya. (Foto: BPOM)

Herbal tak selalu alami—BPOM menemukan 24 produk mengandung bahan kimia berbahaya. (Foto: BPOM)

Jakarta, Sehatcantik.id – Di tengah meningkatnya kepercayaan publik terhadap produk berbahan alami, celah justru terbuka pada praktik yang menyimpang. Alih-alih murni dari alam, sebagian produk yang beredar ternyata disusupi zat kimia obat yang semestinya berada dalam pengawasan medis.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 24 produk obat bahan alam (OBA) di Indonesia mengandung bahan kimia obat (BKO). Temuan ini berasal dari pengawasan terhadap 1.858 sampel OBA, obat kuasi, dan suplemen kesehatan sepanjang Januari–Februari 2026.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan, penambahan BKO dalam produk herbal merupakan pelanggaran serius.

“BKO tersebut seharusnya hanya digunakan dalam obat yang diresepkan serta diawasi oleh tenaga kesehatan,” ujar Taruna di Jakarta, Sabtu, (4/4/2026).

Dari total temuan, sembilan produk dengan klaim peningkat stamina pria mengandung sildenafil, metil testosteron, dan parasetamol. Sebanyak 8 produk pegal linu mengandung kafein, natrium diklofenak, deksametason, hingga prednison.

Selain itu, empat produk pelangsing mengandung sibutramin—zat yang telah dilarang—serta 3 produk penambah nafsu makan yang mengandung deksametason dan siproheptadin.

BPOM juga menerima laporan dari otoritas Thailand terkait satu produk suplemen kesehatan merek GK24 yang mengandung sildenafil dan tadalafil. BPOM mengingatkan, penggunaan bahan kimia obat tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan risiko serius, mulai dari gangguan tekanan darah, jantung, hingga efek samping lain tergantung zat yang dikonsumsi.

Baca Juga :  Doktif Terdesak di Sidang dr. Richard Lee: Isu Pemerasan 20 Miliar hingga Skincare 1.000 Perak

Sebagai tindak lanjut, BPOM telah menertibkan fasilitas produksi dan distribusi, termasuk menarik serta memusnahkan produk yang melanggar. Sanksi administratif dijatuhkan kepada pelaku usaha, dari peringatan keras hingga pencabutan izin edar.

Dalam kasus tertentu, pelanggaran ini dapat berujung pidana sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, dengan ancaman penjara hingga 12 tahun atau denda maksimal Rp5 miliar. (Sbw)

Berita Terkait

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan
Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser
Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat
BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI
BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober
Menkes Tanggapi Polemik Beeru Stevia, BPOM Masih Telusuri Kandungan Produk
Richard Lee Ungkap Kejanggalan Barang Bukti Kasus Doktif, Pastikan White Tomatonya Palsu
Kemenkes Perluas Vaksin HPV ke Anak Laki-laki, Cegah Kanker Sejak Dini

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 08:10 WIB

TBC Renggut 136 Ribu Nyawa Setahun, Menkes Desak Percepatan Penanganan

Kamis, 5 November 2026 - 19:52 WIB

Bantah Edarkan Skincare Abal-Abal, Richard Lee Bongkar Alibi Konser

Senin, 2 November 2026 - 15:25 WIB

Taruna Ikrar Temui Suyudi, BPOM dan Polri Bidik Modus Baru Kejahatan Obat

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

BPOM Soroti Lonjakan Pengobatan Mandiri: 78 Persen Warga Andalkan Diri Sendiri dan AI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:56 WIB

BPOM Selidiki Video Viral Teh Botol Sosro Diduga Berisi Sabun Saat Demo 28 Oktober

Berita Terbaru