BPOM–AmCham Bahas Kepastian Regulasi dan Dorong Investasi Kesehatan

- Editor

Sabtu, 28 Maret 2026 - 01:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BPOM RI dan AmCham Indonesia menegaskan kepastian regulasi jadi kunci investasi kesehatan. (Foto: BPOM)

BPOM RI dan AmCham Indonesia menegaskan kepastian regulasi jadi kunci investasi kesehatan. (Foto: BPOM)

Jakarta, Sehatcantik.id – Di tengah persaingan global yang makin ketat, regulasi tidak lagi sekadar alat kontrol, melainkan faktor penentu apakah investasi masuk atau justru beralih ke negara lain. Dalam konteks itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan American Chamber of Commerce in Indonesia (AmCham) menjajaki penguatan kolaborasi untuk mendorong investasi dan inovasi di sektor kesehatan dan pangan.

Audiensi pada Kamis 26 Maret 2026 ini mempertemukan regulator dengan pelaku industri Amerika Serikat yang telah lama beroperasi di Indonesia. Delegasi AmCham dipimpin Donna Priadi, mewakili perusahaan lintas sektor mulai dari farmasi hingga produk konsumen.

Dalam forum tersebut, AmCham menegaskan bahwa kepastian regulasi menjadi faktor krusial dalam keputusan investasi jangka panjang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Delegasi AmCham Indonesia dipimpin oleh Managing Director AmCham Indonesia Donna Priadi. Turut hadir sejumlah perwakilan perusahaan anggota AmCham, yaitu PepsiCo, Coca Cola Indonesia, Cargill, Haleon, Reckitt/Mead Jhonson, dan L’Oréal Indonesia.

“Hal yang paling penting bagi investor adalah investment climate dan certainty dari regulasi serta kebijakan untuk terus beroperasi dan berkembang di Indonesia,” ujar Managing Director AmCham Indonesia Donna Priadi.

Baca Juga :  Tips Membuat Bibir Menjadi Merah Merona

Bagi industri, persoalannya bukan hanya perizinan, tetapi biaya dari ketidakpastian. Proses yang panjang dan tidak efisien langsung diterjemahkan sebagai beban operasional. Di titik ini, tekanan terhadap regulator menjadi jelas: kecepatan dan konsistensi bukan lagi nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa reformasi regulasi terus dipercepat.

“Kalau kita percepat (evaluasi izin edar obat) dari 300 hari menjadi 90 hari, banyak biaya yang sebelumnya tidak perlu bisa diefisiensikan. Bagi industri, waktu menunggu itu adalah cost yang besar,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kontribusi BPOM tidak berhenti pada fungsi pengawasan. “Total revenue dari industri obat dan makanan sangat besar. Oleh karena itu, kami ingin memastikan BPOM juga dapat berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui regulasi yang efisien dan kondusif bagi investasi,” kata Taruna.

Selain percepatan izin edar obat, BPOM mendorong efisiensi layanan lain seperti percepatan penerbitan Surat Keterangan Impor (SKI) guna menjaga kelancaran rantai pasok. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang lebih kompetitif di tengah tekanan global.

Baca Juga :  BPOM Dorong ASEAN Bangun Sistem Cepat Hadapi Krisis Pangan

Dalam pembahasan lebih luas, BPOM juga menyinggung kerja sama ekonomi Indonesia–Amerika Serikat, termasuk dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Menurut Taruna, kerja sama tersebut tidak mengurangi kedaulatan nasional, tetapi justru memperkuat efisiensi melalui pemanfaatan hasil evaluasi regulator lain sebagai referensi ilmiah.

Di sisi lain, AmCham menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan-perusahaan Amerika untuk terus berinvestasi di Indonesia. Rencana trade mission pada April 2026 diharapkan membuka peluang kerja sama baru di berbagai sektor, khususnya kesehatan dan pangan.

Taruna Ikrar dorong percepatan izin, industri tuntut kepastian regulasi. (Foto: BPOM)

BPOM menyatakan kesiapan memfasilitasi investasi, termasuk mendorong pemanfaatan sumber daya alam Indonesia sebagai bahan baku produk kesehatan dan kosmetik bernilai tambah tinggi. Namun, batasnya tetap tegas.

“BPOM siap memfasilitasi investasi selama tetap memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu produk yang beredar di masyarakat,” ujar Taruna.

Pada akhirnya, isu yang mengemuka bukan sekadar kolaborasi, melainkan posisi Indonesia dalam peta persaingan global. Tanpa regulasi yang cepat, pasti, dan konsisten, potensi pasar besar tidak otomatis menjadi daya tarik. Sebaliknya, dengan reformasi yang kredibel, regulasi justru bisa menjadi instrumen untuk menarik investasi sekaligus mendorong inovasi. (Sbw)

Berita Terkait

Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional
Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi
Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?
Doktif Terdesak di Sidang dr. Richard Lee: Isu Pemerasan 20 Miliar hingga Skincare 1.000 Perak
Pasar Estetika Medis Diproyeksi Rp8,75 Triliun, BPOM Perketat Pengawasan
Segudang Keluhan Lansia: Ke Mana Harus Berobat?
Skin Booster “Kulit Mayat”, Taruna Ikrar: “Terlarang dan Bukan Kosmetik”
Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 17:54 WIB

Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional

Minggu, 27 September 2026 - 13:46 WIB

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Sabtu, 26 September 2026 - 21:39 WIB

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Kamis, 24 September 2026 - 19:32 WIB

Doktif Terdesak di Sidang dr. Richard Lee: Isu Pemerasan 20 Miliar hingga Skincare 1.000 Perak

Rabu, 23 September 2026 - 10:34 WIB

Pasar Estetika Medis Diproyeksi Rp8,75 Triliun, BPOM Perketat Pengawasan

Berita Terbaru

Sekitar 363 ribu anak terindikasi mengalami gejala depresi berdasarkan skrining kesehatan Kemenkes. (Foto: Pexels)

Anak

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Minggu, 27 Sep 2026 - 13:46 WIB

Produk pangan olahan kemasan wajib mengantongi sertifikat halal demi syarat izin edar BPOM. (Foto: pexels)

Berita

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:39 WIB