Jangan Stres, Ini Strategi Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja

- Editor

Senin, 9 Juni 2025 - 16:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karyawan seringkali enggan mengungkapkan perasaan tertekan atau cemas karena khawatir dianggap lemah atau tidak profesional. (Ilustrasi Foto: Model Fani/Zul/Sehatcantik.id

Karyawan seringkali enggan mengungkapkan perasaan tertekan atau cemas karena khawatir dianggap lemah atau tidak profesional. (Ilustrasi Foto: Model Fani/Zul/Sehatcantik.id

Jakarta, Sehatcantik.id – Kabar duka yang mengejutkan dalam beberapa pekan terakhir, terkait kematian seorang Asisten Manajer Bank Indonesia yang diduga meninggal dunia karena melompat dari helipad Gedung BI, membuat banyak orang terperanjat.

Kejadian ini mengguncang banyak pihak dan memunculkan kembali satu isu penting yang selama ini kerap menjadi api dalam sekam, yakni, kesehatan mental di tempat kerja.

Sudah menjadi rahasia umum, kehidupan masyarakat modern, terutama di kota besar, kesuksesan kerap diukur dari titel akademik, jabatan pekerjaan, atau penghasilan bulanan. Namun, di balik semua itu, sering kali tersimpan beban psikologis yang berat berupa tekanan kerja, tuntutan produktivitas tinggi, yang berujung pada kesepian emosional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasus karyawan BI adalah contoh bahwa asumsi bekerja di tempat bergengsi dengan jabatan mumpuni, tak menjamin mental menjadi lebih baik.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2022, sebanyak 15% orang dewasa usia kerja mengalami gangguan mental seperti depresi atau kecemasan, dan banyak dari mereka tidak mendapatkan pertolongan yang layak.

Bahkan WHO menekankan bahwa lingkungan kerja berisiko tinggi yang penuh tekanan, minim dukungan sosial, dan tidak fleksibel menjadi pemicu gangguan mental yang serius.

Laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO), menyoroti bahwa beban kerja berlebih, target tak realistis, serta jam kerja yang panjang dapat memicu burnout, yaitu kondisi kelelahan mental dan emosional yang ekstrem. Burnout bukan hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga berisiko pada tindakan ekstrem seperti keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Baca Juga :  Cek Darah DBD Hari ke Berapa? Baca Artikelnya

Sayangnya, di banyak tempat kerja di Indonesia, stigma terhadap kesehatan mental masih kuat. Karyawan seringkali enggan mengungkapkan perasaan tertekan atau cemas karena khawatir dianggap lemah atau tidak profesional.

Apa Itu Kesehatan Mental?

Kesehatan mental adalah kondisi di mana seseorang mampu menghadapi tekanan hidup sehari-hari, bekerja secara produktif, dan berkontribusi di komunitasnya. Kesehatan mental mencakup aspek emosional, psikologis, dan sosial. Saat seseorang mengalami gangguan pada keseimbangan ini, muncullah masalah seperti:

• Stres berat

• Kecemasan berlebihan

• Depresi

• Gangguan tidur

• Perasaan tidak berharga

• Keinginan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri

Perlu dipahami:  gangguan mental tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap bekerja, bersosialisasi, bahkan tertawa namun menyimpan luka dan tekanan hebat di dalam dirinya.

Mengatasi Stres di Tempat Kerja

Di mana pun, lingkungan kerja sering kali menjadi pemicu stres yang signifikan. Tekanan target, konflik dengan rekan kerja, dan dinamika organisasi yang menuntut bisa berdampak pada kesehatan mental. Salah satu pemicu utama adalah kehadiran individu yang bersikap toksik—rekan kerja atau atasan yang menciptakan suasana negatif, manipulatif, dan melelahkan secara emosional.

Menjaga kesehatan mental di tempat kerja perlu strategi sendiri. (Ilustrasi Foto: Model Fani/Zul/Sehatcantik.id)

Adapun ciri-ciri lingkungan kerja yang tak sehat atau toksik adalah sebagai berikut:

Baca Juga :  Gejala Usus Buntu pada Wanita Perlu Hati-hati

– Komunikasi pasif-agresif atau tidak jujur

– Rekan kerja yang gemar menyalahkan tanpa solusi

– Budaya kerja yang tidak menghargai keseimbangan hidup

– Kurangnya apresiasi dan feedback yang membangun.

Namun, bukan tak ada solusi untuk mengatasi problem kesehatan mental di tempat kerja, tanpa perlu terus menerus mengalami stres, yaitu;

1. Kenali Sumber Stres:

Evaluasi penyebab utama stres—apakah karena beban kerja, komunikasi, atau konflik personal.

2. Tetapkan Batas Sehat (Boundaries):

Belajar berkata tidak, dan atur batas waktu kerja. Jangan bawa urusan kantor ke rumah.

3. Manajemen Emosi dan Mindfulness:

Latihan pernapasan, meditasi, atau journaling bisa membantu menjaga kejernihan pikiran.

4. Bangun Dukungan Sosial:

Carilah rekan kerja yang suportif atau berbicara dengan profesional seperti psikolog industri.

5. Laporkan Perilaku Toksik:

Jika memungkinkan, sampaikan ke HRD atau manajemen untuk penanganan formal.

6. Perhatikan Kesehatan Fisik:

Pola makan sehat, tidur cukup, dan olahraga dapat membantu menjaga daya tahan mental.

Lingkungan kerja yang sehat mampu mendorong kreativitas, produktivitas, dan loyalitas. Karyawan yang merasa dihargai dan aman secara emosional cenderung bekerja lebih optimal.

Menjaga kesehatan mental di tempat kerja adalah investasi jangka panjang, baik untuk individu maupun perusahaan. Dengan kesadaran dan strategi yang tepat, stres kerja bisa dikelola dan bahkan menjadi motivasi untuk tumbuh. (sbw)

Berita Terkait

Lagi, BPOM Cabut Izin 11 Kosmetik Berbahaya
BPOM Wajibkan Minimarket Punya Pengawas Obat, Tak Harus Apoteker
Meski Anggaran Kalah dengan Pengadaan Kaos Kaki, Taruna Ikrar Tancap Gas Sidak MBG
Kemenkes Siapkan RS PON, RSCM hingga RSJ Disiapkan untuk Korban Tabrakan Kereta di Bekasi
BPOM Gandeng Finalis Puteri Indonesia Perkuat Keamanan Obat dan Makanan
BPOM Sikat Peredaran Gas Tertawa di Marketplace, Baby Whip Jadi Kedok
Vaksin Campak Dewasa, Langkah Baru BPOM Melawan Kejadian Luar Biasa
Pemeriksaan Richard Lee Ditunda Senin, Doktif Tetap Siap Kawal Kasus

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 18:23 WIB

Lagi, BPOM Cabut Izin 11 Kosmetik Berbahaya

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:21 WIB

BPOM Wajibkan Minimarket Punya Pengawas Obat, Tak Harus Apoteker

Kamis, 30 April 2026 - 10:59 WIB

Meski Anggaran Kalah dengan Pengadaan Kaos Kaki, Taruna Ikrar Tancap Gas Sidak MBG

Senin, 13 April 2026 - 19:49 WIB

BPOM Gandeng Finalis Puteri Indonesia Perkuat Keamanan Obat dan Makanan

Senin, 13 April 2026 - 15:47 WIB

BPOM Sikat Peredaran Gas Tertawa di Marketplace, Baby Whip Jadi Kedok

Berita Terbaru

BPOM kembali menegaskan sikap tegasnya dengan menarik produk kosmetik bermasalah dari peredaran tanpa kompromi. (Foto: BPOM RI)

Berita

Sampo Selsun Ditarik BPOM, Rohto Minta Maaf

Senin, 11 Mei 2026 - 17:23 WIB

BPOM mencabut izin 11 kosmetik berbahaya yang mengandung merkuri, hidrokinon, dan zat lain yang mengancam kesehatan di balik janji kulit cantik instan. (Foto: BPOM)

Berita

Lagi, BPOM Cabut Izin 11 Kosmetik Berbahaya

Kamis, 7 Mei 2026 - 18:23 WIB

Pihak dr. Richard Lee menyiapkan langkah hukum untuk melaporkan Dokter Detektif atas tuduhan soal status mualaf yang dinilai sebagai pencemaran nama baik dan fitnah. (Foto: Danu Baharuddin/Sehatcantik.id)

Berita

Tuding Mualaf Settingan, Richard Lee Siap Seret Doktif

Rabu, 29 Apr 2026 - 16:39 WIB