Diplomasi Vaksin Ala BPOM, Siasat Tembus Pasar Afrika

- Editor

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BPOM RI memanfaatkan status rujukan WHO dan skema South-South Cooperation untuk memperkuat regulasi FDA Ghana sekaligus membuka pintu ekspor vaksin Indonesia ke pasar Afrika. (Foto: Dok. BPOM RI)

BPOM RI memanfaatkan status rujukan WHO dan skema South-South Cooperation untuk memperkuat regulasi FDA Ghana sekaligus membuka pintu ekspor vaksin Indonesia ke pasar Afrika. (Foto: Dok. BPOM RI)

Jakarta, Sehatcantik.id — Pasar Afrika dengan 1,6 miliar jiwa bukan lagi sekadar wilayah penerima hibah kesehatan. BPOM RI mulai memutar otak membidik kawasan tersebut sebagai arena ekspansi industri farmasi nasional.

Ghana dipatok menjadi pintu masuk utamanya. Ambisi itu dibungkus lewat skema Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation) dengan dukungan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI/Indonesian AID).

Bagi Indonesia, asistensi regulasi ini merupakan langkah diplomasi ekonomi yang terukur. BPOM tidak melancarkan penetrasi pasar lewat jualan langsung yang agresif (hard selling), melainkan menyusup halus lewat bantuan pelatihan regulasi dan penguatan kapasitas lembaga lokal. Begitu regulasi Ghana berhasil diselaraskan dengan standar Indonesia, pintu ekspansi vaksin buatan dalam negeri pun terbuka lebar dari dalam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Strategi tersebut diawali dengan memboyong delegasi Food and Drugs Authority (FDA) Ghana serta Noguchi Memorial Institute for Medical Research untuk melahap program peningkatan kapasitas pengawasan obat dan vaksin di Jakarta.

Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menegaskan bahwa usai meraih status WHO Listed Authority (WLA), Indonesia kini resmi menjadi episentrum dan rujukan regulasi vaksin dunia. Menurutnya, program ini bukan sekadar aksi sepihak.

“South-South Cooperation bukan hubungan satu arah. Kita bertukar pengetahuan, pengalaman, dan solusi praktis agar kapasitas kelembagaan kedua negara semakin kuat,” tegas Taruna.

Selama 14 hari, utusan Afrika itu digembleng mendalami tiga fokus utama pelatihan: evaluasi izin edar (marketing authorization), inspeksi fasilitas manufaktur (GMP inspection), serta pengujian laboratorium dan pelulusan bets (potency testing & lot release). Tak hanya berkutat di kelas, para peserta juga diajak melihat langsung operasional laboratorium BPOM dan fasilitas produksi PT Bio Farma.

Baca Juga :  Taruna Ikrar Diundang Universitas Harvard, Bicara Strategi Kesehatan Global

“Program pelatihan ini sangat penting bagi kami untuk memastikan bahwa vaksin yang diproduksi secara lokal di Ghana aman, berkhasiat, dan berkualitas baik,” ujar perwakilan FDA Ghana, Patrick Owusu-Danso.

Pintu Masuk Pasar Afrika dan Uji Klinis Malaria

Bagi Indonesia, transfer pengetahuan ini bukan aksi altruisme murni, melainkan landasan strategis untuk membuka keran ekspor vaksin buatan dalam negeri.

“Tentu dari proses awal ini, kita akan berkembang. Nanti produk-produk yang kita hasilkan dari Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan vaksin, itu bisa diekspor ke Ghana,” kata Taruna.

Taruna membaca ceruk pasar raksasa yang terhampar di Benua Hitam. Ghana dinilai memiliki posisi geopolitik yang sangat krusial.

“Ghana ini merupakan pintu gerbang untuk Afrika. Dengan populasi Ghana yang mencapai 36, hampir 40 juta jiwa, ditambah Afrika yang memiliki 1,6 miliar penduduk, potensinya sangat besar,” tuturnya.

“Ke depan, kita sedang merancang kerja sama serupa dengan beberapa negara Afrika lainnya, seperti Afrika Selatan, Nigeria, dan Ethiopia,” lanjutnya.

Target jangka panjangnya menyasar penyakit endemik yang membelit kedua wilayah: malaria. BPOM merancang skema uji klinis multi-center yang melibatkan peneliti Indonesia dan Afrika untuk mengembangkan vaksin malaria.

Pendekatan ini dinilai krusial mengingat karakteristik transmisi malaria di kawasan sub-Sahara Afrika dan Indonesia bagian timur—seperti Papua—memiliki profil epidemiologis serupa. Keterlibatan lintas benua ini memastikan sampel genetik dan daya tahan vaksin teruji secara komprehensif di kancah global.

Baca Juga :  Richard Lee Vs Doktif: Review Skincare Menjadi Pertarungan Reputasi

“Contohnya, nanti kita akan kembangkan vaksin yang berhubungan dengan malaria. Kita tahu kan penyakit malaria cukup banyak di Afrika, dan di Indonesia juga cukup banyak, khususnya di bagian timur,” jelas Taruna.

“Dengan masuk uji klinis nanti, variabilitas dari vaksin anti-malaria itu akan lebih luas. Dilakukan di sini dan dilakukan juga di sana,” ia menambahkan.

Legitimasi WHO dan Transfer Teknologi Bio Farma

Keberanian BPOM memimpin penetrasi pasar ini ditopang oleh legitimasi global. Pengakuan World Health Organization (WHO) yang menetapkan BPOM sebagai WLA menjadi kartu truf utama.

“Karena kita sudah berstatus WLA, ini menambah reputasi kita, bahwa kita semakin dipercaya. Bukan hanya di negara-negara ASEAN, bukan hanya di negara Eropa karena kita selevel, tapi juga negara-negara Afrika juga mengakui kita. Itu yang paling penting,” ia menegaskan.

Di tengah dominasi pasar farmasi Afrika yang selama ini dikuasai produk impor asal India, Tiongkok, atau negara-negara Barat, langkah Indonesia menawarkan model bisnis berbeda: transfer kapabilitas.

Di tingkat manufaktur, manuver bisnis ini telah mengakar lewat kiprah BUMN farmasi PT Bio Farma yang menjalin kemitraan strategis dengan Atlantic Life Sciences of Ghana.

Kerja sama tersebut berfokus pada transfer teknologi (transfer of technology) untuk membantu Ghana memproduksi vaksin tetanus pertama secara lokal. Ini menjadi fondasi kokoh sebelum gelombang ekspor farmasi Indonesia benar-benar menguasai Benua Hitam. (Sbw)

Berita Terkait

Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan
Jejak Gelap Di Balik Perseteruan Selebgram: Saling Kunci Tersangka hingga Tudingan BPOM Palsu
Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda
Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu
BPOM Pangkas Batas Ambang BPA 12 Kali Lipat, Pengawasan Industri Diperketat
Satu Miliar Lebih Orang Hidup dengan Gangguan Kesehatan Mental
Bisnis Skincare Ribut Terus, Waspada Pilih Produk
BPOM Ingatkan Bahaya Mainan Kosmetik Anak Bisa Merusak Kulit

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:10 WIB

Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:52 WIB

Diplomasi Vaksin Ala BPOM, Siasat Tembus Pasar Afrika

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:57 WIB

Jejak Gelap Di Balik Perseteruan Selebgram: Saling Kunci Tersangka hingga Tudingan BPOM Palsu

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:41 WIB

Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:14 WIB

Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu

Berita Terbaru

BPOM RI memanfaatkan status rujukan WHO dan skema South-South Cooperation untuk memperkuat regulasi FDA Ghana sekaligus membuka pintu ekspor vaksin Indonesia ke pasar Afrika. (Foto: Dok. BPOM RI)

Berita

Diplomasi Vaksin Ala BPOM, Siasat Tembus Pasar Afrika

Senin, 31 Agu 2026 - 16:52 WIB

Terdakwa dr. Richard Lee memohon penundaan sidang di PN Tangerang akibat kondisi fisiknya drop, Rabu (26/8/2026). (Foto: Sehatcantik/Sbw)

Berita

Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:41 WIB

Lisa Mariana membawa persoalan legalitas produk yang dikaitkan dengan

Berita

Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu

Selasa, 25 Agu 2026 - 09:14 WIB