Jakarta, Sehatcantik.id – Dulu, konsumen datang ke toko untuk memilih skincare. Kini, sebelum membeli, banyak yang lebih dulu membuka ponsel.
Satu video review bisa mengangkat sebuah merek. Satu kritik juga bisa membuat sebuah produk dipertanyakan. Di era digital, reputasi tidak lagi hanya dibangun lewat iklan, tetapi juga lewat percakapan di media sosial.
Di sinilah perseteruan Richard Lee dan Dokter Detektif (Doktif) menjadi menarik. Kasus ini bukan sekadar soal satu produk kecantikan, tetapi tentang bagaimana sebuah ulasan di ruang digital dapat berubah menjadi persoalan hukum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Polemik bermula ketika Doktif mengkritik sejumlah produk kecantikan milik Klinik Athena, termasuk White Tomato dan DNA Salmon. Doktif menyampaikan temuannya berdasarkan pengujian yang dilakukannya dan mempertanyakan klaim maupun aspek keamanan produk tersebut.
Richard Lee membantah tudingan itu. Ia menyatakan produk yang dijualnya telah mengikuti aturan yang berlaku dan memiliki izin dari BPOM.
“Semua produk yang saya jual legal dan BPOM. Dan diproduksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Richard Lee saat memberikan klarifikasi.
Pihak Richard juga menegaskan bahwa produk yang dipasarkan telah melalui prosedur resmi.
“Klien kami, produk yang dijual atau diperdagangkan adalah produk yang teregistrasi Badan POM (BPOM),” ujar kuasa hukum Richard Lee.
Namun, dari sisi Doktif, kritik yang disampaikan disebut bukan sekadar opini. Doktif menilai apa yang disampaikan kepada publik merupakan bagian dari edukasi konsumen berdasarkan temuan yang dimilikinya.
Pertarungan kemudian melebar. Bukan hanya tentang kandungan sebuah produk, tetapi tentang siapa yang memiliki otoritas dalam membentuk persepsi publik.
Di industri kecantikan, kepercayaan adalah mata uang utama. Konsumen membeli bukan hanya karena formula, tetapi juga karena keyakinan terhadap sebuah merek. Karena itu, ketika sebuah produk dipertanyakan oleh figur dengan pengaruh besar, dampaknya bisa jauh melampaui ruang komentar media sosial.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam dunia pemasaran skincare. Dokter, influencer, dan reviewer kini bukan sekadar pembuat konten. Mereka menjadi penjaga gerbang opini publik.
Tetapi posisi itu juga membawa tanggung jawab besar. Sebab, antara edukasi konsumen dan promosi, antara kritik dan serangan reputasi, batasnya bisa sangat tipis.Kasus Richard Lee dan Doktif akhirnya menjadi cermin baru industri kecantikan digital Indonesia. Persaingan tidak lagi hanya terjadi di rak toko, tetapi juga di layar ponsel—tempat sebuah opini dapat menjadi kekuatan bisnis. (Sbw)













