Jakarta, Sehatcantik.id — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus diperluas pemerintah sebagai upaya mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini. Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59.561.278 peserta telah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dari target sekitar 130 juta orang sepanjang tahun ini.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan, kelompok usia dewasa menjadi peserta dengan jumlah pemeriksaan terbanyak, mencapai sekitar 35,7 juta orang.
Dari sisi cakupan wilayah, Gorontalo mencatat capaian tertinggi dengan 39,8 persen dari sasaran penduduk. Sementara Papua Pegunungan menjadi daerah dengan cakupan terendah, yakni 0,6 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah faktor risiko kesehatan masih banyak ditemukan di berbagai kelompok usia. Pada bayi baru lahir, misalnya, CKG menemukan 20.946 kasus risiko penyakit jantung bawaan atau sekitar 4,3 persen.
Pada kelompok balita dan anak prasekolah, masalah gigi karies menjadi temuan dominan dengan 614.427 kasus atau 23,9 persen. Sementara pada anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 2.994.482 orang atau 40,9 persen juga mengalami gigi karies.
Pada kelompok dewasa, persoalan yang paling banyak ditemukan adalah kurangnya aktivitas fisik. Sebanyak 13.133.414 orang atau 46,5 persen tercatat memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Kondisi serupa terjadi pada lansia, dengan 3.211.946 orang atau 51,5 persen mengalami kurang aktivitas fisik.
Selain menemukan faktor risiko, program CKG juga melakukan tindak lanjut terhadap masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan lebih lanjut. Sebanyak 753.884 peserta telah dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun layanan rawat jalan.
“Meski capaian CKG pada tahun 2026 hingga saat ini berjalan on track, namun pelaksanaan CKG masih menghadapi berbagai tantangan,” ujar Aji.
Menurut Kemenkes, tantangan utama dalam pelaksanaan CKG antara lain masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan, perbedaan komitmen pemerintah daerah, keterbatasan sarana dan alat kesehatan, serta kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
Untuk mengejar target cakupan, pemerintah mendorong perluasan layanan CKG melalui berbagai jalur, tidak hanya di puskesmas, tetapi juga melibatkan fasilitas kesehatan primer lainnya, TNI, Polri, tempat kerja, perguruan tinggi, serta berbagai elemen masyarakat.
Kemenkes juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan melalui kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama agar kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan semakin meningkat.
“Sarana, prasarana, alat kesehatan perlu dilakukan pemenuhan secara bertahap. Kapasitas SDM yang masih perlu ditingkatkan,” kata Aji.
Melalui CKG, pemerintah berharap masyarakat semakin aktif mengetahui kondisi kesehatannya, sehingga penyakit dapat dicegah dan ditangani lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. (Sbw)













