Jakarta, Sehatcantik.id – Ada kebiasaan kecil yang sering dianggap biasa di rumah: memberikan teh kepada anak karena dianggap sebagai minuman sehat. Padahal, bagi tubuh yang masih membangun fondasi pertumbuhan, segelas teh bisa membawa persoalan yang tidak terlihat.
Balai Besar POM Jakarta mengingatkan orang tua agar tidak sembarangan memberikan teh kepada bayi dan balita. Meski dikenal mengandung antioksidan, teh memiliki kandungan kafein dan tanin yang dapat mengganggu penyerapan zat gizi penting bagi anak.
“Tidak semua minuman yang baik untuk orang dewasa juga aman dikonsumsi anak.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
BPOM menjelaskan, kafein dalam teh dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, hingga proses tumbuh kembang apabila dikonsumsi berlebihan. Sementara tanin dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan.
Zat besi bukan sekadar mineral biasa. Pada masa pertumbuhan, zat ini berperan penting dalam pembentukan hemoglobin yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko anemia dan berdampak pada perkembangan anak.
Dokter spesialis anak dr. Hawin Nurdiana, M.Kes., Sp.A., mengingatkan bahwa kandungan tanin dalam teh dapat menjadi penghambat penyerapan zat besi yang dibutuhkan anak.
“Teh dapat menghambat penyerapan zat besi karena kandungan tanin di dalamnya. Padahal zat besi berperan penting dalam tumbuh kembang anak.” ujar dr. Hawin Nurdiana.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menjelaskan bahwa kandungan polifenol dan fitat dalam teh dapat mengurangi penyerapan zat besi, terutama bila dikonsumsi bersamaan dengan waktu makan. Karena itu, pemberian teh pada anak perlu mendapat perhatian khusus.
Selain persoalan zat besi, BPOM mengingatkan teh yang diseduh terlalu pekat dapat memicu iritasi lambung sehingga menyebabkan mual atau rasa tidak nyaman pada anak. Konsumsi berlebihan juga berpotensi mengganggu penyerapan kalsium yang penting untuk pembentukan tulang dan gigi.
Risiko lain muncul ketika teh diberikan dalam bentuk teh manis. Tambahan gula memang membuat rasanya lebih mudah diterima anak, tetapi kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko gigi berlubang dan membentuk pola konsumsi gula berlebih sejak usia dini.
Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya soal secangkir teh. Di masa pertumbuhan, setiap asupan adalah bagian dari proses panjang membangun tubuh. Sesuatu yang menjadi kebiasaan orang dewasa belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi anak-anak. (Sbw)













