Jakarta, Sehatcantik.id — Bahayanya nyaris tak terlihat. Banyak bayi lahir tampak sehat, menangis kencang, dan menyusu tanpa kendala. Namun di balik itu, sebagian menyimpan kelainan jantung bawaan yang baru menunjukkan gejala ketika kondisinya sudah mengancam nyawa.
Temuan itu mengemuka dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan hingga Juli 2026. Dari sekitar 490 ribu bayi yang menjalani skrining menggunakan pulse oximetry, sebanyak 4,3 persen atau sekitar 20.946 bayi terindikasi memiliki kelainan struktur jantung dan memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) kritis merupakan kelainan yang sudah terbentuk sejak janin berkembang. Bila luput dideteksi, bayi dapat mengalami gagal jantung, kekurangan oksigen, hingga kematian mendadak beberapa hari setelah lahir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut berbagai kajian medis, masa paling menentukan terjadi pada minggu ketiga hingga kedelapan kehamilan, ketika organ jantung mulai terbentuk.
“Sering kali, kelainan struktur jantung, baik pada sekat, katup, maupun pembuluh darah besar, sudah terbentuk bahkan sebelum sang ibu menyadari bahwa dirinya sedang berbadan dua,” tulis laporan ilmiah dalam jurnal kardiologi anak Sari Pediatri.
Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko tersebut. Salah satunya adalah diabetes pada ibu. Kadar gula darah yang tidak terkendali, baik sebelum maupun selama kehamilan, diketahui dapat mengganggu proses pembentukan organ janin, termasuk jantung.
Data CKG menunjukkan sekitar 10,1 persen penduduk Indonesia hidup dengan diabetes. Sebagian besar bahkan belum mengetahui dirinya mengidap penyakit itu. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena perempuan usia produktif dengan diabetes yang tidak terkontrol memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan kelainan bawaan.
Selain diabetes, infeksi selama kehamilan seperti rubella, toksoplasma, sifilis, HIV, maupun herpes juga dapat mengganggu perkembangan jantung janin. Risiko serupa muncul akibat paparan zat teratogenik, mulai dari penggunaan obat tertentu tanpa pengawasan dokter, konsumsi alkohol, hingga paparan asap rokok dan rokok elektronik pada awal kehamilan.
Karena itu, skrining setelah bayi lahir menjadi langkah yang sangat penting. Pemeriksaan kadar oksigen pada usia 24 hingga 48 jam mampu mendeteksi gangguan sirkulasi sebelum bayi memasuki fase kritis.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan CKG tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi mengubah pendekatan layanan kesehatan agar lebih menitikberatkan pada pencegahan.
“Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Menurut dokter spesialis jantung anak, bayi dengan PJB kritis sering kali tampak normal pada hari-hari pertama kehidupan. Kondisi itu terjadi karena masih terbantu oleh duktus arteriosus, pembuluh darah yang secara alami terbuka selama masa janin.
Begitu pembuluh tersebut menutup beberapa hari setelah kelahiran, pasokan oksigen dapat turun drastis. Bayi kemudian mengalami sesak napas, kulit membiru, gagal jantung, bahkan syok dalam waktu singkat. Itulah sebabnya deteksi dini menjadi penentu keselamatan.
Program CKG kini tidak berhenti pada tahap skrining. Pemerintah juga mulai memastikan peserta yang terdiagnosis penyakit kronis memperoleh pengobatan dan pemantauan berkelanjutan.
Hingga awal Juli 2026, CKG telah menjangkau sekitar 59,6 juta warga dari target 130 juta pemeriksaan pada akhir tahun. Pada pasien hipertensi, 35,4 persen sudah kembali menjalani kontrol dan hampir separuh berhasil mengendalikan tekanan darahnya. Sementara pada pasien diabetes, 33,1 persen kembali berobat, dengan 69,4 persen di antaranya mampu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Pemerintah menargetkan pengendalian penyakit kronis mengikuti pendekatan yang telah berhasil diterapkan di Korea Selatan melalui konsep Triple 80.
“Triple 80 yaitu 80 persen masyarakat diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen di antaranya berhasil terkendali. Itulah arah yang sedang kita bangun di Indonesia,” pungkas Budi Gunadi.













