Otoritas Pangan Taiwan Temukan Pengawet Berlebihan Pada Basreng Asal Indonesia

- Editor

Kamis, 30 Oktober 2025 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Taiwan Food and Drug Administration (TFDA) menahan lebih dari satu ton produk keripik bakso goreng atau basreng asal Indonesia karena mengandung pengawet buatan berlebihan. (Foto: TFDA)

Taiwan Food and Drug Administration (TFDA) menahan lebih dari satu ton produk keripik bakso goreng atau basreng asal Indonesia karena mengandung pengawet buatan berlebihan. (Foto: TFDA)

Jakarta, Sehatcantik.id – Sebuah kudapan ringan asal Indonesia kembali menjadi sorotan di Taiwan. Taiwan Food and Drug Administration (TFDA) mengonfirmasi penahanan lebih dari satu ton produk keripik bakso goreng atau basreng asal Indonesia karena ditemukan kandungan pengawet buatan yang melebihi batas yang diperbolehkan.

Pada 28 Oktober 2025, TFDA menyatakan bahwa sekira 1.072 kg produk basreng impor dari Indonesia–melalui importir Taiwan Sheba Enterprise Co. dari perusahaan Indonesia bernama Isya Food–ditahan di perbatasan. Produk tersebut dilaporkan mengandung asam benzoat sebesar 0,05 g per kg. Padahal, berdasarkan standard pengawet di Taiwan, jenis produk tersebut tidak diperbolehkan mengandung pengawet buatan sama sekali.

Sebelumnya, pada 21 Oktober, produk “Basreng Cracker” dari perusahaan yang sama juga dikembalikan atau dimusnahkan setelah ditemukan asam benzoat sebesar 0,93 g/kg.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situs resmi TFDA, fda.gov.tw, melansir,  “Berdasarkan ‘Standar Cakupan, Batasan, dan Spesifikasi Penggunaan Bahan Tambahan Pangan’, produk yang dimaksud tidak termasuk dalam cakupan penggunaan pangan yang diizinkan sebagaimana tercantum dalam tabel dan tidak mematuhi Pasal 18 Ayat 1 Undang-Undang Keamanan dan Sanitasi Pangan,” demikian pernyataan TFDA di situsnya.

Baca Juga :  Tak Digubris Putar Bukti Rekaman Dugaan Rekayasa, Nikita Cekcok dengan Jaksa

Sejalan dengan ini, sebanyak 1.008 kilogram basreng pun ditarik dari pasaran. Produk asal RI ini “akan dikembalikan atau dimusnahkan sesuai dengan peraturan.”

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menanggapi laporan itu dan menyatakan bahwa mereka akan melakukan pengecekan dan koordinasi dengan pihak terkait. Di sisi lain, BPOM juga menekankan ada perbedaan standard regulasi keamanan pangan antara Taiwan dan Indonesia yang perlu diperhitungkan.

Kasus ini seolah menjadi peringatan penting bagi produsen atau eksportir makanan ringan Indonesia yang menyasar pasar ekspor, sebab standard negara tujuan bisa berbeda jauh. Misalnya, meskipun produk sudah mendapat izin edar di Indonesia, belum tentu otomatis memenuhi standar Taiwan atau negara lain.

Jenis bahan tambahan yang diperbolehkan bisa berbeda, bahkan untuk pengawet yang relatif umum. Karena ternyata untuk jenis keripik tertentu, Taiwan tidak memperbolehkan pengawet buatan seperti asam benzoat.

Baca Juga :  BPOM Jadi WHO Listed Authority, Indonesia Kini Penentu Standard Vaksin

Kendali ekspor dan rantai distribusi perlu diperketat. Produk “yang seharusnya untuk domestik” bisa lolos ke luar negeri melalui jalur informal atau pengiriman yang tidak resmi—dan saat terjadi pelanggaran, reputasi produsen dan negara asal ikut terpengaruh.

Bagi konsumen, isu ini menegaskan pentingnya memperhatikan label, izin edar, dan kejelasan asal-produk makanan yang dikonsumsi — lebih dari sekadar “merek terkenal”.

Bagi produsen maupun pemilik brand: menjaga kualitas dan kesesuaian regulasi ekspor bukan hanya soal memenuhi persyaratan legal, tetapi juga membangun kepercayaan pasar dan meminimalkan risiko penolakan yang bisa merugikan finansial dan reputasi.

Insiden ini mengingatkan bahwa globalisasi pasar pangan membawa peluang besar dan tantangan serius. Ketika satu produk snack lokal seperti “basreng” harus ditahan karena pengawet tidak sesuai standard di Taiwan, maka seluruh pemangku kepentingan (produsen, ekspor, regulator) dituntut lebih adaptif terhadap perbedaan regulasi antar­negara. (Sbw)

Berita Terkait

Richard Lee Bongkar Sejumlah Kejanggalan Dakwaan JPU di Sidang Eksepsi
BPOM Gratiskan Registrasi Produk Pangan untuk UMKM
Industri Kosmetik Tumbuh Pesat, BPOM Permudah Proses Sertifikasi
Ditemani Istri, Richard Lee Jalani Sidang Kasus Perlindungan Konsumen
Anggaran Pengawasan MBG Rp675 M Disebut Belum Cair, BPOM Tetap Kawal Program
BPOM dan PYFA Dorong Industri Farmasi Menuju Net Zero Carbon
Refocusing Penerima Manfaat dan Pembenahan Dapur Jadi Arah Baru MBG 2026
BPOM dan Ubaya Percepat Hilirisasi Riset untuk Perkuat Industri Obat Dalam Negeri

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 17:05 WIB

Richard Lee Bongkar Sejumlah Kejanggalan Dakwaan JPU di Sidang Eksepsi

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:51 WIB

BPOM Gratiskan Registrasi Produk Pangan untuk UMKM

Kamis, 18 Juni 2026 - 16:03 WIB

Industri Kosmetik Tumbuh Pesat, BPOM Permudah Proses Sertifikasi

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:31 WIB

Ditemani Istri, Richard Lee Jalani Sidang Kasus Perlindungan Konsumen

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:31 WIB

Anggaran Pengawasan MBG Rp675 M Disebut Belum Cair, BPOM Tetap Kawal Program

Berita Terbaru

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dalam peluncuran Bulan Keamanan Pangan 2026 untuk memperkuat keamanan pangan dan mendukung UMKM. (Foto: BPOM)

Berita

BPOM Gratiskan Registrasi Produk Pangan untuk UMKM

Jumat, 19 Jun 2026 - 13:51 WIB