Jakarta, Sehatcantik.id – Seorang lansia mengeluh lututnya nyeri. Oleh keluarga, ia diboyong ke spesialis ortopedi.
Selesai dari sana, muncul masalah baru: tensinya melonjak, jantung berdebar. Ia dibawa lagi ke kardiolog.
Tak lama kemudian, pencernaannya terganggu akibat reaksi obat yang menumpuk, lalu dirujuk ke spesialis penyakit dalam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Skenario ini berulang di ribuan rumah tangga. Keluarga sibuk mengantar orang tua berkeliling dari satu poliklinik ke poliklinik lain.
Obat-obatan menumpuk di meja makan—lima, tujuh, hingga delapan jenis sekaligus ditelan oleh tubuh lansia. Pasien makin lemas, keluarga makin cemas.
Ke mana sebenarnya lansia harus dibawa berobat? Jawabannya bukan sekadar “ke rumah sakit”. Penanganan pasien usia lanjut membutuhkan pintu masuk yang tepat: Poliklinik Geriatri Terpadu.
Alur Rujukan: Jangan Salah Pintu
Di Indonesia, penanganan lansia idealnya tidak dimulai dengan memilih dokter spesialis berdasarkan keluhan yang paling terasa. Ada alur rujukan bertingkat yang membantu menentukan kapan pasien cukup ditangani di layanan primer dan kapan membutuhkan penanganan geriatri yang lebih komprehensif.
Pintu pertama adalah Puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Di sinilah kondisi lansia sebaiknya dinilai lebih dulu.
Bukan hanya penyakit yang dikeluhkan, tetapi juga kemampuan berjalan, aktivitas sehari-hari, status gizi, fungsi kognitif, hingga obat-obatan yang rutin dikonsumsi. Puskesmas dengan layanan khusus lansia, seperti Poliklinik Santun Lansia, dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan penilaian awal dan menentukan apakah pasien membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Jika masalah kesehatan mulai saling berkaitan—misalnya memiliki lebih dari dua penyakit kronis, mengalami penurunan fungsi, sering jatuh, atau mengonsumsi banyak obat sekaligus—pasien dapat diarahkan ke Poliklinik Geriatri di RSUD atau RSUP.
Di sini, pasien tidak selalu harus berpindah dari satu dokter spesialis ke dokter spesialis lain. Layanan geriatri terpadu memungkinkan kondisi pasien dinilai secara menyeluruh oleh tim multidisiplin.
Dokter tidak hanya menilai penyakit mana yang harus diobati, tetapi juga bagaimana pengobatan tersebut memengaruhi fungsi dan kualitas hidup pasien.
Jika kondisi pasien lebih kompleks dan membutuhkan keahlian atau fasilitas yang tidak tersedia di layanan sebelumnya, rujukan dapat dilanjutkan ke rumah sakit rujukan utama dengan tim konsultan geriatri yang lebih lengkap.
Penanganannya dapat melibatkan berbagai disiplin, termasuk rehabilitasi medis, terutama ketika tujuan pengobatan bukan sekadar mengendalikan penyakit, tetapi mengembalikan atau mempertahankan kemandirian lansia.
Dengan alur seperti ini, keluarga tidak perlu menjadikan setiap keluhan sebagai tiket untuk berpindah dari satu dokter spesialis ke dokter spesialis lain.
Yang dicari bukan sebanyak mungkin dokter, melainkan penanganan yang melihat lansia sebagai satu tubuh dan satu kehidupan yang saling berkaitan.
Bukan Cuma Soal Penyakit
Salah satu persoalan dalam penanganan lansia adalah kecenderungan terburu-buru memberikan banyak obat. Padahal, tubuh lansia tidak bisa disamakan dengan pasien usia produktif.
Poin ini digarisbawahi dalam siaran edukasi daring “Talkshow Keluarga Sehat” yang disiarkan oleh Radio Kesehatan Kemenkes RI.
Dalam sesi tersebut, dr. Khairunnisa Ayu K., Sp.PD, Subsp.Ger(K), FINASIM, spesialis penyakit dalam konsultan geriatri, menjelaskan pentingnya melihat kondisi fisik dan psikologis lansia secara utuh.
“Fokus tidak hanya tentang penyakitnya, tapi juga fungsinya harus dilihat, nutrisinya harus dicek, kognitifnya, psikologis, obat-obatannya, dan kualitas hidupnya,” tutur dr. Khairunnisa.
Artinya, penanganan lansia tidak cukup hanya berfokus pada satu penyakit. Penurunan tekanan darah, misalnya, perlu mempertimbangkan risiko obat membuat pasien pusing, jatuh, hingga mengalami patah tulang.
Begitu pula fungsi memori dan kesehatan mental perlu diperhatikan. Ia juga memberikan catatan penting bagi keluarga yang mendampingi orang tua di rumah.
“Mulai lihat ke diri sendiri atau mungkin melihat ke kondisi orang tua kita di rumah, apakah memang itu perlu dilakukan penanganan lebih lanjut ke dokter geriatri,” ucapnya.
Sinyal Perlu Rujukan Geriatri
Keluarga tak perlu menunggu kondisi darurat untuk membawa orang tua ke jalur geriatri. Cermati tiga tanda ini.
Pertama, daftar obat terlalu panjang. Mengonsumsi lebih dari lima jenis obat setiap hari dapat menjadi tanda polifarmasi yang perlu dievaluasi.
Kedua, kemandirian merosot mendadak. Misalnya, tiba-tiba tidak sanggup berdiri, sering jatuh, atau kesulitan beraktivitas harian tanpa bantuan.
Ketiga, muncul perubahan perilaku dan daya ingat. Mendadak linglung, sulit berkonsentrasi, atau menunjukkan gejala depresi akibat terisolasi perlu menjadi perhatian keluarga.
Menua itu pasti. Namun, memboyong orang tua berobat tanpa alur rujukan yang tepat hanya akan menambah beban pasien dan keluarga. (Sbw)













