Kusta Bukan Kutukan, Stigma Lama yang Harus Diputus

- Editor

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Melawan kusta bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga menghapus stigma yang membuat penderita terlambat mencari pertolongan.(Foto: Freepik)

Melawan kusta bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga menghapus stigma yang membuat penderita terlambat mencari pertolongan.(Foto: Freepik)

Jakarta, Sehatcantik.id – Selama puluhan tahun, kusta sering dibayangi ketakutan. Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae itu bahkan pernah dianggap sebagai hukuman atau kutukan. Padahal, dunia medis telah lama menemukan jalan keluarnya: deteksi dini dan pengobatan yang tepat.

Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap kusta. Penyakit ini dapat disembuhkan dan obatnya tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pesan tersebut disampaikan dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 bertema Percepatan Eliminasi Kusta: Komitmen Indonesia, Kolaborasi Global di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, kusta bukan penyakit yang harus dijauhi, melainkan infeksi yang perlu segera ditangani.

Baca Juga :  Nyoba Makanan di Vegetus Vegetarian yang Bikin Nagih

“Kusta tidak perlu ditakuti. Begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin,” ujar Budi.

Menurut Kemenkes, persoalan terbesar dalam penanganan kusta bukan hanya bakteri penyebabnya, tetapi juga stigma yang masih melekat di masyarakat. Rasa takut dan diskriminasi membuat sebagian penderita terlambat mencari pertolongan hingga mengalami kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Hal itu juga ditegaskan Yohei Sasakawa, Honorary Chair The Nippon Foundation sekaligus WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination. Ia menyebut eliminasi kusta tidak cukup hanya dengan menemukan obat.

Penghapusan penyakit ini juga harus dibarengi dengan penghapusan diskriminasi terhadap penyintas dan keluarganya.

Baca Juga :  Penyebab Milia di Wajah yang Perlu Diketahui

Bagi Syamsul, seorang penyintas kusta, stigma sosial sering menjadi luka yang lebih panjang dibanding penyakit itu sendiri. Ia mengisahkan bagaimana minimnya pemahaman masyarakat membuat penderita kusta menghadapi perlakuan tidak adil sejak kecil.

“Kami bukan sekadar penerima bantuan. Kami ingin menjadi bagian dari pembangunan dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya,” ujar Syamsul.

Kementerian Kesehatan mengajak pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, media, dan organisasi sosial bersama-sama membangun pemahaman yang benar tentang kusta.

Sebab, memutus penularan kusta bukan hanya soal membasmi bakteri, tetapi juga memutus rantai ketakutan dan stigma yang selama ini menghambat penderita mendapatkan pengobatan. (Sbw)

Berita Terkait

Doktif Hadir di Sidang Richard Lee: “Saya Juru Kunci Pintu Neraka”
Pasien BPJS Meninggal, Matinya Empati Dokter dan Perawat
Pasien BPJS Curhat di Threads: Meninggal Dunia di Sela Komentar Jahat Dokter dan Nakes
Target Penanganan TBC Belum Tercapai, Kemenkes Andalkan TBScreen.AI untuk Percepat Skrining
Keracunan Massal MBG Semarang Tembus 707 Orang, Lemahnya Audit Dapur SPPG Disorot
Ditjenpas: Tak Ada Intimidasi, Nikita Justru Duta Layanan Rutan
Indonesia Kejar Nol Kematian Dengue, Teknologi Wolbachia Jadi Salah Satu Senjata
Sidang Ditunda, Pengalihan Tahanan Ditolak, Richard Lee Gagal Bertemu Anak

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:52 WIB

Doktif Hadir di Sidang Richard Lee: “Saya Juru Kunci Pintu Neraka”

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Pasien BPJS Meninggal, Matinya Empati Dokter dan Perawat

Rabu, 5 Agustus 2026 - 07:31 WIB

Pasien BPJS Curhat di Threads: Meninggal Dunia di Sela Komentar Jahat Dokter dan Nakes

Senin, 3 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Target Penanganan TBC Belum Tercapai, Kemenkes Andalkan TBScreen.AI untuk Percepat Skrining

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:43 WIB

Keracunan Massal MBG Semarang Tembus 707 Orang, Lemahnya Audit Dapur SPPG Disorot

Berita Terbaru