Ketika Plastik Menjadi Debu Tak Terlihat, BPOM Perkuat Laboratorium Hadapi Ancaman Mikroplastik

- Editor

Senin, 6 Juli 2026 - 16:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ancaman tak kasatmata dari mikroplastik mendorong penguatan sains dan teknologi pengawasan kesehatan. (Foto: BPOM RI)

Ancaman tak kasatmata dari mikroplastik mendorong penguatan sains dan teknologi pengawasan kesehatan. (Foto: BPOM RI)

Jakarta, Sehatcantik.id — Ada ancaman yang tidak mengetuk pintu, tidak terlihat mata, tetapi bisa menyelinap lewat rantai makanan dan masuk ke tubuh manusia. Mikroplastik dan nanoplastik kini menjadi tantangan baru yang membuat dunia kesehatan harus bergerak lebih cepat.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menilai penguatan laboratorium menjadi kunci untuk menghadapi perubahan ancaman kesehatan di era modern. Bukan hanya soal menemukan zat berbahaya, tetapi juga kemampuan membaca risiko yang ukurannya jauh lebih kecil dari yang bisa dilihat.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan penggunaan plastik yang semakin masif tanpa pengelolaan yang tepat telah memunculkan persoalan baru bagi lingkungan dan kesehatan. Partikel plastik berukuran sangat kecil kini menjadi perhatian karena berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengutip studi yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine, Taruna menyebut adanya temuan mikroplastik pada pembuluh darah pasien dengan aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak.

Baca Juga :  Imbas Perang Iran-Israel, BPOM Siaga Ketersediaan Obat 

“Masalahnya bagaimana bisa mikroplastik tersebut masuk ke sistem vaskular kita. Kita tidak tahu saat ini, tapi mungkin karena nanopartikel dari mikroplastik ini masuk ke dalam darah, kemudian tersangkut, mencederai sistem endothelial di sistem vaskular kita,” ujar Taruna dalam kegiatan The Laboratory Future: Sustainability in Innovation and Operations di Jakarta.

Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan kesehatan ke depan tidak hanya berasal dari penyakit yang sudah dikenal, tetapi juga dari paparan zat baru yang muncul akibat perubahan gaya hidup dan perkembangan industri.

Karena itu, BPOM mendorong penguatan jejaring laboratorium, baik di dalam negeri maupun melalui kerja sama internasional. Laboratorium masa depan harus mampu mendeteksi ancaman secara cepat, presisi, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Suplemen Blackmores Diduga Picu Gangguan Saraf, BPOM Buka Suara

“Bukan cuma di Indonesia. Di benua mana pun, kita butuh alat-alat spesifik, fasilitas spesifik, laboratorium yang spesifik untuk menguji banyak hal secara cepat,” kata Taruna.

Selain mikroplastik, BPOM juga menghadapi tantangan lain seperti peredaran obat ilegal dan bahan berbahaya. Menurut Taruna, pengawasan membutuhkan dukungan teknologi laboratorium yang mampu mengejar perkembangan modus pelanggaran.

Dengan memperkuat kapasitas laboratorium dan koneksi global bersama mitra seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta Asian Development Bank (ADB), BPOM berharap sistem pengawasan nasional mampu menjadi benteng lebih awal sebelum ancaman kesehatan sampai ke masyarakat.

Sebab, di tengah dunia yang semakin kompleks, perlindungan kesehatan tidak hanya bergantung pada apa yang terlihat, tetapi juga kemampuan membaca bahaya yang tersembunyi. (Sbw)

Berita Terkait

Skin Booster “Kulit Mayat”, Taruna Ikrar: “Terlarang dan Bukan Kosmetik”
Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien
Kasus Richard Lee, Saksi Ungkap Produksi dan Khasiat White Tomato
Puluhan Beras Fortifikasi Bermasalah, Ini Risikonya bagi Kesehatan
Titik Balik Perang Skincare: Doktif Minta Maaf ke Heni Sagara
Richard Lee Tantang Ahli BPOM: Anda Ahli Apa Hakim?
Pasar Estetika Medis Indonesia Diproyeksi Tembus Rp8,75 Triliun pada 2029
Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 13:27 WIB

Skin Booster “Kulit Mayat”, Taruna Ikrar: “Terlarang dan Bukan Kosmetik”

Jumat, 18 September 2026 - 11:39 WIB

Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Kamis, 17 September 2026 - 17:00 WIB

Kasus Richard Lee, Saksi Ungkap Produksi dan Khasiat White Tomato

Rabu, 16 September 2026 - 09:37 WIB

Puluhan Beras Fortifikasi Bermasalah, Ini Risikonya bagi Kesehatan

Selasa, 15 September 2026 - 16:41 WIB

Titik Balik Perang Skincare: Doktif Minta Maaf ke Heni Sagara

Berita Terbaru

Ilustrasi tenaga kesehatan yang menghadapi tekanan kerja dan risiko burnout dalam menjalankan pelayanan kepada pasien. (Foto: Freepik)

Berita

Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Jumat, 18 Sep 2026 - 11:39 WIB