Vaksin Tifoid Lokal, Jejak Baru Kemandirian Indonesia

- Editor

Kamis, 16 Juli 2026 - 16:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Vaksin tifoid lokal Bio-TCV resmi diluncurkan sebagai langkah memperkuat kemandirian kesehatan Indonesia. (Foto: BPOM)

Vaksin tifoid lokal Bio-TCV resmi diluncurkan sebagai langkah memperkuat kemandirian kesehatan Indonesia. (Foto: BPOM)

Jakarta, Sehatcantik.id – Dari sebuah ruang riset, perjalanan panjang vaksin tifoid buatan dalam negeri akhirnya sampai ke tangan masyarakat. Bukan sekadar produk kesehatan baru, vaksin Bio-TCV menjadi simbol upaya Indonesia membangun benteng pertahanan kesehatan dari dalam negeri.

Vaksin tifoid konjugat pertama produksi Indonesia itu resmi diluncurkan dalam ajang Medical Expo (Med-Expo) FKUI 2026 di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026). Vaksin hasil kolaborasi PT Bio Farma dan FKUI ini hadir di tengah tantangan besar ketergantungan industri kesehatan nasional terhadap produk impor.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut kemandirian obat dan vaksin bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Menurut dia, pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bahwa gangguan rantai pasok global dapat langsung berdampak pada keselamatan masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ketergantungan impor bahan baku obat yang mencapai 94% sangat mengganggu benak saya. Kemandirian obat dan vaksin adalah pilar utama ketahanan nasional. Kita belajar dari pandemi COVID-19. Ketika pasokan global terhambat, rakyat yang menanggung risikonya,” ujar Taruna Ikrar.

Baca Juga :  Perbedaan Fungal Acne dan Bruntusan

BPOM memastikan pengawalan vaksin Bio-TCV dilakukan sejak tahap awal hingga beredar di masyarakat. Pengawasan mencakup proses uji klinik, pemenuhan standar produksi, distribusi dengan sistem rantai dingin, hingga pemantauan keamanan setelah digunakan.

Sebelum mendapatkan izin edar pada 2023, vaksin ini melewati proses evaluasi menyeluruh terkait mutu, keamanan, dan khasiat. BPOM mencatat hingga kini telah menyetujui tiga produk vaksin tifoid, yakni Vivaxim, Typhim Vi, dan Bio-TCV.

Produksi vaksin ini menjadi langkah penting menghadapi tingginya ancaman penyakit tifoid. Data Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang 2025 terdapat sekitar 914 ribu kasus suspek tifoid. Hingga minggu ke-16 tahun 2026, jumlahnya mencapai 266.869 kasus dan masuk dalam lima besar penyakit berdasarkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons.

Ancaman tifoid tidak berhenti pada infeksi bakteri Salmonella typhi. Penggunaan antibiotik yang masif akibat penyakit ini juga berpotensi mempercepat munculnya resistansi antimikroba. Karena itu, vaksinasi menjadi langkah pencegahan dari hulu sebelum penyakit berkembang.

Baca Juga :  Panas! Richard Lee Ancam Doktif Bongkar Persaingan. Doktif Balas: "Bongkar Aja, Nggak Usah Nunggu!"

Dari sisi keamanan, hasil uji klinik menunjukkan respons antibodi yang kuat pada kelompok dewasa, anak, hingga bayi. Efek samping yang muncul tergolong ringan hingga sedang, seperti nyeri di lokasi suntikan, demam, dan nyeri otot. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia enam bulan hingga dewasa dengan satu kali penyuntikan.

Bio-TCV juga menjadi harapan baru bagi kelompok balita yang selama ini belum mendapat perlindungan maksimal dari jenis vaksin tifoid lain. Perlindungan optimal diperkirakan terbentuk sekitar tiga hingga empat minggu setelah imunisasi.

Di tengah perlombaan memperkuat ketahanan kesehatan global, Indonesia mencoba menanam benih kemandirian. Pengakuan BPOM sebagai WHO-Listed Authority (WLA) dengan tingkat kematangan tertinggi atau maturity level 4 menjadi modal tambahan agar produk kesehatan dalam negeri memiliki standar yang diakui dunia.

Dari sebuah vial kecil berisi vaksin, tersimpan ambisi besar: mengurangi ketergantungan, memperkuat industri kesehatan, dan memastikan perlindungan masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar negeri. (Sbw

Berita Terkait

BPOM Bongkar Gudang Kosmetik dan Suplemen Ilegal Rp25 Miliar di Tangerang
Derry Sulaiman Siap Jadi Saksi Richard Lee, Tegaskan Soal Status Mualaf
Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional
Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi
Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?
Saksi Ungkap Dugaan Teror Doktif Rp20 Miliar
Doktif Terdesak di Sidang dr. Richard Lee: Isu Pemerasan 20 Miliar hingga Skincare 1.000 Perak
Pasar Estetika Medis Diproyeksi Rp8,75 Triliun, BPOM Perketat Pengawasan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 05:47 WIB

BPOM Bongkar Gudang Kosmetik dan Suplemen Ilegal Rp25 Miliar di Tangerang

Rabu, 30 September 2026 - 01:32 WIB

Derry Sulaiman Siap Jadi Saksi Richard Lee, Tegaskan Soal Status Mualaf

Senin, 28 September 2026 - 17:54 WIB

Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional

Minggu, 27 September 2026 - 13:46 WIB

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Sabtu, 26 September 2026 - 21:39 WIB

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Berita Terbaru

Sekitar 363 ribu anak terindikasi mengalami gejala depresi berdasarkan skrining kesehatan Kemenkes. (Foto: Pexels)

Anak

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Minggu, 27 Sep 2026 - 13:46 WIB

Produk pangan olahan kemasan wajib mengantongi sertifikat halal demi syarat izin edar BPOM. (Foto: pexels)

Berita

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:39 WIB