Jakarta, Sehatcantik.id – Dari sebuah ruang riset, perjalanan panjang vaksin tifoid buatan dalam negeri akhirnya sampai ke tangan masyarakat. Bukan sekadar produk kesehatan baru, vaksin Bio-TCV menjadi simbol upaya Indonesia membangun benteng pertahanan kesehatan dari dalam negeri.
Vaksin tifoid konjugat pertama produksi Indonesia itu resmi diluncurkan dalam ajang Medical Expo (Med-Expo) FKUI 2026 di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026). Vaksin hasil kolaborasi PT Bio Farma dan FKUI ini hadir di tengah tantangan besar ketergantungan industri kesehatan nasional terhadap produk impor.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut kemandirian obat dan vaksin bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Menurut dia, pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bahwa gangguan rantai pasok global dapat langsung berdampak pada keselamatan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ketergantungan impor bahan baku obat yang mencapai 94% sangat mengganggu benak saya. Kemandirian obat dan vaksin adalah pilar utama ketahanan nasional. Kita belajar dari pandemi COVID-19. Ketika pasokan global terhambat, rakyat yang menanggung risikonya,” ujar Taruna Ikrar.
BPOM memastikan pengawalan vaksin Bio-TCV dilakukan sejak tahap awal hingga beredar di masyarakat. Pengawasan mencakup proses uji klinik, pemenuhan standar produksi, distribusi dengan sistem rantai dingin, hingga pemantauan keamanan setelah digunakan.
Sebelum mendapatkan izin edar pada 2023, vaksin ini melewati proses evaluasi menyeluruh terkait mutu, keamanan, dan khasiat. BPOM mencatat hingga kini telah menyetujui tiga produk vaksin tifoid, yakni Vivaxim, Typhim Vi, dan Bio-TCV.
Produksi vaksin ini menjadi langkah penting menghadapi tingginya ancaman penyakit tifoid. Data Kementerian Kesehatan mencatat sepanjang 2025 terdapat sekitar 914 ribu kasus suspek tifoid. Hingga minggu ke-16 tahun 2026, jumlahnya mencapai 266.869 kasus dan masuk dalam lima besar penyakit berdasarkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons.
Ancaman tifoid tidak berhenti pada infeksi bakteri Salmonella typhi. Penggunaan antibiotik yang masif akibat penyakit ini juga berpotensi mempercepat munculnya resistansi antimikroba. Karena itu, vaksinasi menjadi langkah pencegahan dari hulu sebelum penyakit berkembang.
Dari sisi keamanan, hasil uji klinik menunjukkan respons antibodi yang kuat pada kelompok dewasa, anak, hingga bayi. Efek samping yang muncul tergolong ringan hingga sedang, seperti nyeri di lokasi suntikan, demam, dan nyeri otot. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia enam bulan hingga dewasa dengan satu kali penyuntikan.
Bio-TCV juga menjadi harapan baru bagi kelompok balita yang selama ini belum mendapat perlindungan maksimal dari jenis vaksin tifoid lain. Perlindungan optimal diperkirakan terbentuk sekitar tiga hingga empat minggu setelah imunisasi.
Di tengah perlombaan memperkuat ketahanan kesehatan global, Indonesia mencoba menanam benih kemandirian. Pengakuan BPOM sebagai WHO-Listed Authority (WLA) dengan tingkat kematangan tertinggi atau maturity level 4 menjadi modal tambahan agar produk kesehatan dalam negeri memiliki standar yang diakui dunia.
Dari sebuah vial kecil berisi vaksin, tersimpan ambisi besar: mengurangi ketergantungan, memperkuat industri kesehatan, dan memastikan perlindungan masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar negeri. (Sbw













