Dari Setetes Darah Menuju Kedaulatan Kesehatan

- Editor

Jumat, 17 Juli 2026 - 19:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemenkes memperkuat industri kesehatan dalam negeri melalui investasi plasma darah dan vaksin untuk mengurangi ketergantungan impor. (Foto: Kemenkes)

Kemenkes memperkuat industri kesehatan dalam negeri melalui investasi plasma darah dan vaksin untuk mengurangi ketergantungan impor. (Foto: Kemenkes)

Jakarta, Sehatcantik.id – Di balik setetes darah, tersimpan lebih dari sekadar kehidupan. Ada harapan yang menjaga daya tahan tubuh, ada obat yang menyelamatkan nyawa, dan ada cita-cita sebuah bangsa untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Selama ini Indonesia memiliki bahan bakunya, tetapi belum sepenuhnya menguasai proses mengubahnya menjadi obat. Kini, mata rantai itu mulai dibangun di dalam negeri.

Di Jakarta, Jumat (17/7), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk membangun industri produk turunan plasma darah karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi,” kata Budi Gunadi Sadikin.

Apa Itu Plasma Derived Products?

PDP atau Plasma Derived Products merupakan produk obat yang berasal dari plasma darah manusia yang telah melalui proses pemisahan dan pengolahan khusus. Produk ini digunakan untuk membantu berbagai terapi medis, terutama yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh dan pembekuan darah.

Baca Juga :  Lentera Masa Depan: BPOM dan Kak Seto Perangi Pangan Berbahaya dan Obat Terlarang

Beberapa contoh PDP adalah Albumin, yang berperan menjaga keseimbangan cairan tubuh; Imunoglobulin intravena (IVIG), yang mengandung antibodi untuk membantu pasien dengan gangguan sistem imun; serta Faktor VIII dan Faktor IX, yang digunakan dalam terapi pasien hemofilia atau gangguan pembekuan darah.

Berangkat dari semangat itu, Kementerian Kesehatan berhasil mengamankan komitmen investasi besar sepanjang 2026. Salah satunya datang dari perusahaan farmasi Jepang, Takeda, yang akan membangun pabrik produk turunan plasma darah di Indonesia sebagai bagian dari Transformasi Ketahanan Kesehatan.

Menurut Budi, langkah tersebut lahir dari pelajaran pahit saat pandemi COVID-19. Indonesia sempat mengalami kelangkaan alat pelindung diri, masker, reagen PCR, vaksin, hingga obat-obatan esensial akibat tingginya ketergantungan pada impor.

“Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan harus membayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP), seperti Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9,” ujar Budi.

Untuk mengurangi ketergantungan itu, pemerintah merelaksasi regulasi pembangunan pabrik plasma sejak 2023. Kebijakan tersebut menarik investasi perusahaan biofarmasi Korea Selatan, SK Plasma, yang bermitra dengan Indonesia Investment Authority (INA).

Baca Juga :  Olahraga untuk Penderita Penyakit Jantung

Pabrik senilai 300 juta dolar AS dengan kapasitas produksi 600 ribu liter per tahun telah rampung dibangun pada 2026 dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027 setelah memperoleh izin dari BPOM.

Keberhasilan itu kemudian disusul masuknya Takeda, salah satu produsen PDP terbesar di dunia, yang akan membangun fasilitas produksi plasma kedua di Indonesia dengan kapasitas lebih besar.

Di sektor vaksin, pemerintah juga memperkuat kapasitas produksi nasional melalui operasional pabrik PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. Khusus Biotis, perusahaan ini turut mengembangkan Vaksin Merah Putih hasil riset anak bangsa.

Menutup pernyataannya, Budi menegaskan bahwa penguatan industri kesehatan dalam negeri merupakan langkah nyata agar Indonesia tidak lagi mengulang kerentanan yang pernah dialami saat pandemi.

“Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi bertindak nyata membenahinya. Lewat berdirinya fasilitas produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, dipastikan ketersediaan obat dan vaksin rakyat ke depan akan selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri,” tutur Budi Gunadi Sadikin. (Sbw)

Berita Terkait

Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan
Diplomasi Vaksin Ala BPOM, Siasat Tembus Pasar Afrika
Jejak Gelap Di Balik Perseteruan Selebgram: Saling Kunci Tersangka hingga Tudingan BPOM Palsu
Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda
Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu
BPOM Pangkas Batas Ambang BPA 12 Kali Lipat, Pengawasan Industri Diperketat
Satu Miliar Lebih Orang Hidup dengan Gangguan Kesehatan Mental
Bisnis Skincare Ribut Terus, Waspada Pilih Produk

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:10 WIB

Richard Lee Cecar Reseller Soal Barang Palsu, Isu ‘Barang Gaib’ Muncul di Persidangan

Senin, 31 Agustus 2026 - 16:52 WIB

Diplomasi Vaksin Ala BPOM, Siasat Tembus Pasar Afrika

Jumat, 28 Agustus 2026 - 08:57 WIB

Jejak Gelap Di Balik Perseteruan Selebgram: Saling Kunci Tersangka hingga Tudingan BPOM Palsu

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:41 WIB

Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda

Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:14 WIB

Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu

Berita Terbaru

BPOM RI memanfaatkan status rujukan WHO dan skema South-South Cooperation untuk memperkuat regulasi FDA Ghana sekaligus membuka pintu ekspor vaksin Indonesia ke pasar Afrika. (Foto: Dok. BPOM RI)

Berita

Diplomasi Vaksin Ala BPOM, Siasat Tembus Pasar Afrika

Senin, 31 Agu 2026 - 16:52 WIB

Terdakwa dr. Richard Lee memohon penundaan sidang di PN Tangerang akibat kondisi fisiknya drop, Rabu (26/8/2026). (Foto: Sehatcantik/Sbw)

Berita

Saksi Absen, Richard Lee Lemas, Sidang Ditunda

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:41 WIB

Lisa Mariana membawa persoalan legalitas produk yang dikaitkan dengan

Berita

Lisa Mariana Laporkan Dewi Menyala soal Dugaan BPOM Palsu

Selasa, 25 Agu 2026 - 09:14 WIB