Jakarta, Sehatcantik.id – Arus mobilitas saat Lebaran selalu diikuti satu hal yang kerap luput dari perhatian: penyakit menular ikut berpindah bersama manusia. Di tengah pergerakan yang padat itu, campak kembali menjadi ancaman yang perlu diwaspadai, terutama bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Campak adalah infeksi virus yang sangat menular. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta ruam kemerahan yang biasanya muncul dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Penularannya terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin, bahkan virusnya dapat bertahan di udara atau menempel di permukaan selama beberapa jam. Dalam situasi perjalanan padat dan interaksi intens seperti mudik, risiko penyebaran meningkat signifikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengimbau orang tua memastikan anak telah mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) secara lengkap sebelum bepergian.
“Jika anak mengalami demam dan ruam, segera periksa ke fasilitas kesehatan dan batasi interaksi dengan orang lain,” ujar Aji dalam keterangan tertulis yang diterima Sehatcantik.id.
Ia menegaskan, “Imunisasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah campak. Orang tua diharapkan segera melengkapi imunisasi anak dan tidak menunda.”
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus campak di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, meski tren mingguan sejak Januari 2026 mulai menurun. Hingga minggu ke-10, tercatat 13.046 kasus suspek, 10.301 kasus terkonfirmasi, dan delapan kematian.
Penyebaran masih terjadi di berbagai daerah. “Terdapat 54 kejadian luar biasa di 36 kabupaten/kota yang tersebar di 13 provinsi,” kata Aji.
Sejumlah wilayah dengan kasus tertinggi antara lain Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Bima, Kabupaten Tangerang, Kota Jakarta Barat, dan Kota Palu.
Temuan dari Universitas Gadjah Mada memperkuat kekhawatiran tersebut. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, tren kasus campak meningkat signifikan. Hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat 73 kasus terkonfirmasi—melonjak sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kasus paling banyak terjadi pada anak usia 2–9 tahun, bahkan ditemukan juga pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk imunisasi.
Dosen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM, dr. Ida Safitri Laksanawati, menyebut celah utama ada pada ketimpangan cakupan vaksin dosis kedua.
“Ini menjadi alarm bagi kita. Ketika cakupan MR2-nya tidak optimal, dalam rentang waktu lima tahun ke depan, kadar antibodi orang yang sudah divaksinasi tersebut akan menurun signifikan,” ujarnya.
Ia menekankan, kondisi ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan, tetapi kewaspadaan berbasis risiko.
“Perhatikan di mana kasus itu menyebar, dan dengan siapa akan bepergian. Terutama dengan anggota keluarga berisiko, seperti bayi usia 6 bulan yang belum mendapatkan vaksin. Kalau tidak begitu penting, jangan diajak berkerumun,” katanya.
Sementara itu, peneliti epidemiologi UGM, dr. Risalia Reni Arisanti, menyoroti bahwa penularan sering terjadi tanpa disadari di lingkup keluarga. Gejala awal yang mirip penyakit lain membuat banyak kasus terlambat ditangani.
“Begitu merasa tidak enak badan, langkah pertama adalah memakai masker dan membatasi interaksi guna mencegah penularan,” ujarnya.
Sebagai respons, Kementerian Kesehatan telah melaksanakan imunisasi respons wabah (Outbreak Response Immunization/ORI) di 26 kabupaten/kota yang mengalami kejadian luar biasa. Selain itu, program kejar imunisasi juga dilakukan di 76 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami lonjakan kasus.
“Upaya ini ditujukan untuk menutup kesenjangan imunisasi, dengan sasaran utama balita usia 9 sampai 59 bulan,” ujar Aji.
Pelayanan imunisasi diperluas melalui puskesmas, posyandu, satuan pendidikan, tempat ibadah, hingga pos layanan mudik dan kunjungan rumah ke rumah. Pemerintah juga memperkuat surveilans, pencatatan berbasis NAR, pemeriksaan laboratorium, serta memastikan distribusi vaksin dan kesiapan layanan kesehatan.
Untuk menekan risiko penularan campak, langkah pencegahan menjadi kunci:
- Pastikan anak telah menerima imunisasi MR lengkap
- Hindari membawa anak sakit ke perjalanan atau kerumunan
- Gunakan masker saat mengalami gejala batuk/pilek
- Rutin mencuci tangan dan menjaga kebersihan
- Perhatikan kelompok rentan seperti bayi yang belum bisa divaksin
- Segera periksa jika muncul gejala demam dan ruam
Ke depan, percepatan imunisasi rutin dan kejar akan terus didorong untuk menutup kesenjangan perlindungan. Di saat yang sama, komunikasi publik diperkuat untuk meningkatkan kepercayaan terhadap vaksin.
Mobilitas mungkin tak bisa ditahan. Tapi tanpa perlindungan yang cukup, risiko ikut pulang bersama perjalanan. (Sbw)













