BPOM Ungkap “Racun Tersembunyi” di 41 Obat Berbahan Alam

- Editor

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ribuan sampel diuji, 41 obat berbahan alam terbukti berbahaya, memperlihatkan sisi gelap industri jamu modern. (Foto: BPOM)

Ribuan sampel diuji, 41 obat berbahan alam terbukti berbahaya, memperlihatkan sisi gelap industri jamu modern. (Foto: BPOM)

Jakarta, Sehatcantik.id – Di balik klaim alami dan ramuan tradisional, ternyata ada racun tersembunyi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 41 produk obat berbahan alam (OBA) yang mengandung bahan kimia obat (BKO) selama November–Desember 2025, sebuah periode yang menjadi “mata-mata” BPOM untuk memastikan keamanan masyarakat dari bahaya yang terselubung.

Pengawasan intensif BPOM, termasuk penelusuran langsung ke fasilitas produksi dan distribusi, membongkar fakta mencengangkan: dari 2.923 sampel OBA, obat kuasi, dan suplemen kesehatan yang diuji, 32 produk bermasalah ditemukan pada November dan 9 produk pada Desember.

Semua produk tersebut ilegal, sebagian besar menggunakan nomor izin edar palsu, seperti topeng yang menutupi wajah asli. Lampiran 1 dan 2 menampilkan daftar lengkap temuan ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sepanjang 2025, BPOM telah menguji 11.654 produk dan menemukan 206 produk mengandung BKO, membentuk gambaran bahwa bahaya tersembunyi bukanlah kasus satu-dua produk saja, tetapi tren yang terus mengintai. Jenis BKO yang paling sering muncul ibarat “musuh dalam selimut”: sildenafil, tadalafil, vardenafil HCl, yohimbin HCl, parasetamol, kafein (produk stamina pria), deksametason, natrium diklofenak, ibuprofen (pegal linu), hingga sibutramin, bisakodil, siproheptadin, glibenklamid (pelangsing, penggemuk, dan pengidap diabetes).

Baca Juga :  BPOM Jadi WHO Listed Authority, Indonesia Kini Penentu Standard Vaksin

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyebut temuan ini sebagai “alarm kesehatan nasional.” Menurutnya, penggunaan BKO dalam OBA dan suplemen bagaikan menaruh bom waktu di tubuh: gangguan jantung, penglihatan, mental, hati, ginjal, hingga kematian bisa menanti jika dikonsumsi tanpa pengawasan medis. Contohnya:

  • Sildenafil → serangan jantung, gangguan penglihatan, kematian.
  • Deksametason & parasetamol → osteoporosis, kerusakan hati, gangguan pertumbuhan.
  • Sibutramin → hipertensi, insomnia.

BPOM tidak tinggal diam. Melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia, mereka menindak tegas: fasilitas produksi dan distribusi dibersihkan dari produk berbahaya, peringatan keras dikeluarkan, hingga izin edar produk dicabut. Jika ditemukan unsur pidana, pelaku usaha menghadapi ancaman penjara 12 tahun atau denda Rp5 miliar sesuai UU Kesehatan No.17/2023.

Baca Juga :  BPOM Bongkar Kosmetik Berbahaya Senilai Hampir Rp9 Miliar

Ancaman ini bukan hanya domestik. BPOM juga menerima laporan dari jejaring ASEAN PMAS:

  • Thailand: 5 produk bermasalah (sibutramin, sildenafil, tadalafil).
  • Singapura: 1 produk anti-nyeri mengandung deksametason, prednisolon, diklofenak.
  • Kaledonia Baru: 1 produk asal Indonesia mengandung tramadol dan antiinflamasi.

Taruna Ikrar menekankan bahwa perang melawan obat berbahaya memerlukan sinergi lintas sektor: pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, bahkan kolaborasi antarnegara. Informasi dari otoritas luar negeri menjadi senjata tambahan untuk melindungi masyarakat dari racun tersembunyi.

BPOM mengimbau masyarakat untuk tetap waspada: jangan tergoda klaim instan atau “obat mujarab” tanpa izin.

“Masyarakat adalah benteng terakhir melawan racun tersembunyi. Jangan biarkan produk ilegal menjerat kesehatan dan masa depan kita,” tegas Kepala BPOM. (Sbw)

Berita Terkait

Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional
Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi
Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?
Doktif Terdesak di Sidang dr. Richard Lee: Isu Pemerasan 20 Miliar hingga Skincare 1.000 Perak
Pasar Estetika Medis Diproyeksi Rp8,75 Triliun, BPOM Perketat Pengawasan
Segudang Keluhan Lansia: Ke Mana Harus Berobat?
Skin Booster “Kulit Mayat”, Taruna Ikrar: “Terlarang dan Bukan Kosmetik”
Burnout Nakes Bisa Membahayakan Pasien

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 17:54 WIB

Kasus Influenza Musiman Melonjak, Balita Sumbang 42 Persen Kasus Nasional

Minggu, 27 September 2026 - 13:46 WIB

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Sabtu, 26 September 2026 - 21:39 WIB

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Kamis, 24 September 2026 - 19:32 WIB

Doktif Terdesak di Sidang dr. Richard Lee: Isu Pemerasan 20 Miliar hingga Skincare 1.000 Perak

Rabu, 23 September 2026 - 10:34 WIB

Pasar Estetika Medis Diproyeksi Rp8,75 Triliun, BPOM Perketat Pengawasan

Berita Terbaru

Sekitar 363 ribu anak terindikasi mengalami gejala depresi berdasarkan skrining kesehatan Kemenkes. (Foto: Pexels)

Anak

Alarm Kesehatan Mental Anak, 363 Ribu Terindikasi Depresi

Minggu, 27 Sep 2026 - 13:46 WIB

Produk pangan olahan kemasan wajib mengantongi sertifikat halal demi syarat izin edar BPOM. (Foto: pexels)

Berita

Wajib Halal BPOM Mulai 18 Oktober, Siapa Paling Terdampak?

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:39 WIB