Agam Rinjani, Penakluk Gunung Berhati Mulia

- Editor

Kamis, 3 Juli 2025 - 17:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketahanan fisik Agam Rinjani telah terbentuk sejak belia. Agam dewasa tak sekadar tangguh, tapi juga bermental baja dan berhati mulia. (Foto: instagram @agam_rinjani)

Ketahanan fisik Agam Rinjani telah terbentuk sejak belia. Agam dewasa tak sekadar tangguh, tapi juga bermental baja dan berhati mulia. (Foto: instagram @agam_rinjani)

Jakarta, Sehatcantik.id – Nama Abdul Haris Agam, yang lebih dikenal sebagai Agam Rinjani, belakangan menjadi perbincangan hangat publik. Tak cuma di level nasional, tapi juga internasional.

Sosok Agam Rinjani memiliki peran krusial dalam evakuasi jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang terjatuh di jurang Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.

Di kalangan komunitas pendaki dan pegiat alam bebas, Agam Rinjani bukanlah nama yang asing. Agam Rinjani lebih dari sekadar pemandu atau porter. Agam Rinjani adalah seorang penjaga Rinjani. Sosok yang hidup, tumbuh, dan menyatu dengan gunung penuh pesona tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Agam Rinjani lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 22 Desember 1988. Masa kecilnya dijalani dengan keras, bahkan cukup mengharukan. Agam kecil hidup di lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar, yan tentu kental dengan aroma tak sedap gunungan sampah.

Hidul di area pembuangan akhir sampah, Agam Rinjani kecil mau tak mau harus belajar mandiri lebih cepat dibanding anak-anak seusianya.

Memulung, mengais sampah, bukanlah pekerjaan yang menjijikkan. Hal itu dia lakukan agar mampu bertahan hidup..

Boleh jadi, ketahanan fisik Agam Rinjani telah terbentuk sejak belia. Agam Rinjani dewasa tak sekadar tangguh, tapi juga bermental baja dan berhati mulia.

Saat mengusung jenazah Juliana, Agam Rinjani menerapkan metode vertical rescue atau penyelamatan vertikal. Teknik yang digunakan melibatkan penurunan dengan tali (rappelling) dan pengangkatan dengan tali (lifting).

Agam dan timnya turun ke jurang dengan kedalaman hingga 590 meter untuk menjangkau jenazah Juliana Marins. Mereka membuat anchor (titik jangkar) dengan mengebor batu menggunakan dinabolt dan hammer untuk mengamankan tali, memastikan keamanan saat menuruni tebing curam yang licin dan berbahaya. Medan ekstrem ini berisiko marena bisa terjadi bebatuan jatuh, munculnya kabut tebal, dan risiko hipotermia. Bahkan, Agam Rinjani juga harus bermalam di tebing untuk menjaga posisi jenazah agar tidak tergelincir lebih jauh.

Baca Juga :  Penyakit TBC Disebabkan oleh Bakteri Ini

Setelah mencapai jenazah, tim menggunakan teknik pengangkatan (lifting) untuk membawa jenazah kembali ke atas tebing. Ini dilakukan dengan sistem tali dan katrol, dengan tim di atas menarik tali secara terkoordinasi.

Proses ini dilakukan pada 25 Juni 2025 untuk evakuasi Juliana Marins, setelah jenazah diamankan. Tim memasang anchor tambahan untuk menahan tubuh agar tidak tergelincir selama pengangkatan. Proses ini memakan waktu sekitar 14 jam karena kondisi medan yang berbahaya dan cuaca yang tidak mendukung

Selama evakuasi, tim mendirikan flying camp, tempat berlindung sementara di tebing curam tanpa alas tidur atau tenda, hanya menggunakan jaket sebagai alas. Ini dilakukan untuk menjaga posisi jenazah semalaman di kedalaman 590 meter, memastikan jenazah tidak tergelincir lebih jauh sebelum evakuasi dilanjutkan.

Agam menyebutkan bahwa ketiadaan peralatan evakuasi yang memadai di lokasi, seperti tali yang cukup, memperlambat proses penyelamatan.

Jurang di Gunung Rinjani memiliki kedalaman 400–600 meter dengan lereng licin dan bebatuan yang mudah runtuh, membuat rappelling dan lifting sangat berisiko. Tim juga menghadapi kabut tebal dan suhu dingin yang meningkatkan risiko hipotermia.

Evakuasi melibatkan tujuh orang, dengan Agam sebagai salah satu dari empat orang yang turun langsung ke jurang, sementara tiga lainnya menjaga anchor di atas. Proses ini membutuhkan koordinasi ketat antara Basarnas, tim SAR, dan relawan seperti Rinjani Squad.

Baca Juga :  Wajib Tahu, 6 Kandungan Sabun untuk Jerawat

Dalam literatur penyelamatan gunung, ini termasuk dalam kategori high-angle rescue (penyelamatan sudut tinggi), yang digunakan untuk evakuasi di tebing curam atau jurang. Istilah ini mencakup penggunaan tali, anchor, dan peralatan pendakian untuk mengakses dan mengevakuasi korban di medan vertikal.

Keberhasilan Agam Rinjani dan tim menuai pujian luas. Bahkan, warga Brasil berupaya memberikan donasi untuk Agam Rinjani dan tim.

Sepatu Kebesaran untuk Pendaki

Model sepatu bagi pendaki adalah hal penting. Sepatu gunung jelas menjadi pilihan agar tidak mudah tergelincir.

Nah, menurut Agam Rinjani, ada satu detail krusial yang sering terlewatkan namun berdampak fatal, yakni, pentingnya memilih ukuran sepatu pendakian.

Agam Rinjani mengingatkan agar pendaki memilih sepatu lebih besar dari yang biasa dipakai agar lebih nyaman saat menuruni tebing. (Foto: instagram @agam_rinjani)

Agam menekankan kenyamanan sepatu adalah kunci dan ini dimulai dari ukurannya.

“Pendakian harus nyaman menggunakan sepatu,” kata Agam, dilansir Lombok Post.

Agam secara khusus menyoroti kesalahan umum pendaki yang memilih ukuran sepatu yang terlalu pas dengan ukuran kaki. Hal itu, menurut Agam, akan jadi masalah serius saat turun gunung.

Agam menjelaskan sepatu yang digunakan untuk mendaki gunung, terutama untuk medan menurun, sebaiknya setengah hingga satu ukuran lebih besar dari ukuran kaki normal.

Misalnya, jika ukuran kaki 36, Agam menyarankan untuk memilih sepatu ukuran 36,5 atau 37.

“Jangan pas ukuran sepatu yang digunakan, misalnya 36 harus lebih. Karena kalau pas saat turun gunung akan sakit di kaki,” tegasnya.

Saat menuruni jalur yang curam, jari-jari kaki cenderung akan terdorong ke depan dan menekan bagian ujung sepatu.

Jika sepatu terlalu pas, tekanan ini akan menyebabkan ujung kaki terasa sakit, lecet, bahkan bisa memicu kuku cedera atau lepas. (sbw/dari berbagai sumber)

Berita Terkait

Lonjakan 11 Juta PBI Nonaktif, Purbaya Semprot BPJS
BPOM Minta Waspada Obat dan Makanan Palsu
Menkes Pastikan Virus Nipah Belum Ditemukan di Indonesia
Lula Lahfah, Kekasih Reza Arap, Meninggal Dunia
Mengaku Sakit, Richard Lee Minta Polisi Tunda Pemeriksaan Sebagai Tersangka
Dicecar 73 Pertanyaan Hingga Dini Hari, dr. Richard Lee Kelelahan
Sama-Sama Berstatus Tersangka, Perseteruan Richard Lee dan Doktif Memanas
Kemenkes Bakal Kirim 600 Dokter-Perawat ke Daerah Bencana Sumatra

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 19:53 WIB

Lonjakan 11 Juta PBI Nonaktif, Purbaya Semprot BPJS

Jumat, 6 Februari 2026 - 09:19 WIB

BPOM Minta Waspada Obat dan Makanan Palsu

Rabu, 4 Februari 2026 - 19:06 WIB

Menkes Pastikan Virus Nipah Belum Ditemukan di Indonesia

Senin, 19 Januari 2026 - 09:58 WIB

Mengaku Sakit, Richard Lee Minta Polisi Tunda Pemeriksaan Sebagai Tersangka

Kamis, 8 Januari 2026 - 06:28 WIB

Dicecar 73 Pertanyaan Hingga Dini Hari, dr. Richard Lee Kelelahan

Berita Terbaru

Purbaya Yudhi Sadewa menegur keras BPJS Kesehatan atas anomali data PBI yang memicu kegaduhan publik. (Foto: TV Parlemen)

Berita

Lonjakan 11 Juta PBI Nonaktif, Purbaya Semprot BPJS

Senin, 9 Feb 2026 - 19:53 WIB

Peredaran produk palsu adalah ancaman serius bagi kesehatan publik dan ekonomi nasional. (Foto: BPOM)

Berita

BPOM Minta Waspada Obat dan Makanan Palsu

Jumat, 6 Feb 2026 - 09:19 WIB