Jakarta, Sehatcantik.id – Tujuh juta anak telah menjalani skrining kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026. Hasilnya, sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi dan 338 ribu lainnya menunjukkan gejala kecemasan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan data tersebut, seperti dikutip Sehatcantik.id dari laman resmi Kementerian Kesehatan. Sebanyak 4,8 persen anak yang menjalani skrining menunjukkan gejala depresi, sedangkan 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan.
Data tersebut beriringan dengan temuan Global School-Based Student Health Survey. Persentase anak yang pernah mencoba bunuh diri tercatat meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tekanan di Sekitar Anak
Kesehatan mental anak tidak tumbuh dalam ruang kosong. Lingkungan tempat mereka tumbuh ikut membentuk kondisi psikologisnya. Keluarga, sekolah, pertemanan, hingga tekanan yang dihadapi sehari-hari dapat menjadi bagian dari persoalan.
Sejumlah penelitian ilmiah memperkuat gambaran tersebut. Studi multi-center terhadap 2.984 remaja dari 19 SMA negeri di Sumatera Barat, Yogyakarta, dan Kalimantan Tengah menemukan tekanan akademik dan tekanan teman sebaya berkaitan dengan depresi, kecemasan, dan stres. Sebaliknya, harga diri, resiliensi, dukungan sosial, serta aktivitas fisik ditemukan berkaitan dengan kondisi mental yang lebih baik.
Temuan lain juga datang dari tinjauan sistematis terhadap 52 penelitian. Studi tersebut menemukan hubungan antara tekanan akademik dan berbagai masalah kesehatan mental remaja, termasuk depresi, kecemasan, perilaku menyakiti diri, dan pikiran untuk bunuh diri. Namun, sebagian besar penelitian yang ditinjau bersifat observasional sehingga hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan.
Faktor keluarga juga tidak bisa dilepaskan. Tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 181 penelitian menemukan bahwa rendahnya kehangatan orang tua, konflik antarpasangan, pola pengasuhan yang terlalu mengontrol, serta hubungan yang kurang sehat berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan pada anak dan remaja.
Karena itu, penanganan tidak cukup hanya ditujukan kepada anak yang menunjukkan gejala. Pola pengasuhan keluarga, lingkungan sekolah, tekanan akademik, dan hubungan sosial perlu ikut diperhatikan.
“Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik,” ujar Budi.
Kemenkes mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di puskesmas dan menyiagakan Healing119.id sebagai layanan krisis kesehatan jiwa.
Healing119.id menyediakan dukungan psikologis awal secara gratis bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis, keputusasaan, pikiran bunuh diri, atau berada dalam situasi krisis.
Layanan tersebut dapat diakses melalui situs Healing119.id. Masyarakat juga dapat menghubungi 119 ekstensi 8 atau menggunakan fasilitas WhatsApp yang tersedia pada laman tersebut.
Di sektor pendidikan, guru Bimbingan Konseling dan guru kelas didorong untuk mendampingi siswa yang terdeteksi memiliki gejala persoalan kesehatan mental.
Angka skrining Kemenkes menunjukkan persoalan ini sudah terdeteksi dalam jumlah besar. Tantangannya bukan hanya menemukan anak yang mengalami gejala, tetapi memastikan mereka mendapat dukungan dan penanganan sebelum masalah berkembang lebih jauh. (Sbw)













