Menkes Pastikan Virus Nipah Belum Ditemukan di Indonesia

- Editor

Rabu, 4 Februari 2026 - 19:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Kesehatan memperkuat kewaspadaan nasional terhadap potensi masuk dan penularan Penyakit Virus Nipah. (Foto: ilustrasi)

Kementerian Kesehatan memperkuat kewaspadaan nasional terhadap potensi masuk dan penularan Penyakit Virus Nipah. (Foto: ilustrasi)

Jakarta, Sehatcantik.id – Kementerian Kesehatan memperkuat kewaspadaan nasional terhadap potensi masuk dan penularan Penyakit Virus Nipah dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/445/2026. Kebijakan ini menjadi langkah antisipatif menghadapi risiko penyakit zoonotik mematikan yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Surat edaran tersebut ditujukan kepada pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium kesehatan masyarakat, serta unit kekarantinaan kesehatan di seluruh Indonesia. Meski hingga kini belum terdapat laporan kasus konfirmasi virus Nipah pada manusia di Indonesia, Kemenkes menilai penguatan kewaspadaan tetap diperlukan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa virus Nipah saat ini belum ditemukan di Indonesia. Namun, masyarakat diminta tetap waspada dan menerapkan langkah pencegahan dasar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Belum ada di Indonesia, ya dijaga aja teman-teman,” ujar Budi usai peringatan Hari Kanker Sedunia 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).

Budi menjelaskan, kasus virus Nipah yang terjadi di India berkaitan dengan penularan melalui buah yang telah terbuka dan terkontaminasi kelelawar. Buah yang tidak dicuci atau dimasak sebelum dikonsumsi berpotensi menjadi media penularan virus.

Baca Juga :  Prabowo Resmikan Gedung Layanan Terpadu di RSPON, Fasilitas Kesehatan Otak Meningkat

“Penularannya lewat kelelawar. Biasanya kelelawar menggigit buah, lalu buah itu dimakan tanpa dicuci atau dimasak, di situ virus bisa menular,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging dengan reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.).

Penularan dapat terjadi secara langsung dari hewan ke manusia, melalui hewan perantara seperti babi, maupun melalui konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, termasuk buah dan nira aren.

“Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengonsumsi nira atau buah aren secara langsung dari pohon. Nira sebaiknya dimasak terlebih dahulu, buah dicuci dan dikupas, serta dibuang jika terdapat tanda gigitan kelelawar,” ujar Murti dalam keterangan tertulis.

Murti menegaskan kewaspadaan perlu diperkuat mengingat tingkat kematian virus Nipah yang dilaporkan mencapai 40–75 persen. Secara klinis, infeksi dapat berkembang dari gejala ringan infeksi saluran pernapasan akut hingga ensefalitis atau peradangan otak yang berakibat fatal. Penularan antarmanusia juga pernah dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita.

Baca Juga :  8,2 Juta Ikut Cek Kesehatan Gratis, Keluhan Tertinggi Sakit Gigi

Secara global, wabah virus Nipah pertama kali tercatat pada 1998–1999 di Malaysia dan Singapura. Sejak 2001, kasus sporadis terus dilaporkan di Bangladesh dan India. Terbaru, India kembali melaporkan kasus konfirmasi pada Januari 2026 di Negara Bagian West Bengal.

Kemenkes menilai Indonesia tetap memiliki potensi risiko karena kedekatan geografis dan tingginya mobilitas penduduk dengan negara-negara terdampak. Selain itu, penelitian di dalam negeri menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus Nipah pada kelelawar buah, yang menandakan potensi sumber penularan di Indonesia.

Melalui surat edaran tersebut, Kemenkes menginstruksikan penguatan surveilans penyakit, peningkatan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, pengawasan di pintu masuk negara, serta pengendalian faktor risiko berbasis pendekatan one health.

Edukasi kepada masyarakat juga ditekankan, termasuk tidak mengonsumsi nira mentah, mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. (Sbw)

Berita Terkait

BPOM Minta Waspada Obat dan Makanan Palsu
Lula Lahfah, Kekasih Reza Arap, Meninggal Dunia
Mengaku Sakit, Richard Lee Minta Polisi Tunda Pemeriksaan Sebagai Tersangka
BPOM Temukan 26 Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya, Masyarakat Diminta Waspada
Perjalanan Kasus Richard Lee Vs Doktif: Saling Lapor Hingga Tersangka
Dicecar 73 Pertanyaan Hingga Dini Hari, dr. Richard Lee Kelelahan
Penuhi Panggilan Polisi, Richard Lee Diperiksa sebagai Tersangka
Sama-Sama Berstatus Tersangka, Perseteruan Richard Lee dan Doktif Memanas

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 09:19 WIB

BPOM Minta Waspada Obat dan Makanan Palsu

Rabu, 4 Februari 2026 - 19:06 WIB

Menkes Pastikan Virus Nipah Belum Ditemukan di Indonesia

Jumat, 23 Januari 2026 - 23:25 WIB

Lula Lahfah, Kekasih Reza Arap, Meninggal Dunia

Senin, 19 Januari 2026 - 09:58 WIB

Mengaku Sakit, Richard Lee Minta Polisi Tunda Pemeriksaan Sebagai Tersangka

Selasa, 13 Januari 2026 - 14:05 WIB

Perjalanan Kasus Richard Lee Vs Doktif: Saling Lapor Hingga Tersangka

Berita Terbaru

Peredaran produk palsu adalah ancaman serius bagi kesehatan publik dan ekonomi nasional. (Foto: BPOM)

Berita

BPOM Minta Waspada Obat dan Makanan Palsu

Jumat, 6 Feb 2026 - 09:19 WIB

Selebgram yang juga kekasih Reza Arap, Lula Lahfah, meninggal dunia, Jumat (23/1), membuat wargamet berduka. (Foto: Instagram @lulalahfah)

Berita

Lula Lahfah, Kekasih Reza Arap, Meninggal Dunia

Jumat, 23 Jan 2026 - 23:25 WIB

Menggunakan kursi roda, Doktif memenuhi panggilan penyidik terkait laporan Richard Lee atas dugaan pencemaran nama baik. (Foto: @temancurhat)

Tak Berkategori

Datang ke Kantor Polisi Pakai Kursi Roda, Doktif Tegaskan Bukan Sindiran

Jumat, 23 Jan 2026 - 22:55 WIB