Jakarta, Sehatcantijk.id – Generasi Alpha, yang rentang kelahirannya berada di tahun 2010-2024, belakangan ini seperti tunas muda yang tumbuh di tengah badai digital. Dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis Pemerintah Kota Bandung periode Agustus hingga Oktober 2025 terhadap 148.239 pelajar, hampir separuhnya—71.433 anak atau 48,19 persen—menunjukkan tanda masalah kesehatan mental.
Angka tertinggi muncul di jenjang SMP/MTs, mencapai 49,09 persen. Di usia yang seharusnya penuh rasa ingin tahu, justru banyak hati kecil dipenuhi kecemasan dan bayang depresi.
Di tingkat SMP/MTs, mayoritas siswa mengalami ansietas ringan. Sebagian lainnya menghadapi kecemasan berat dan depresi. Di SD/MI, situasinya bahkan lebih tinggi: 53,75 persen siswa terindikasi masalah serupa. Di SMA/MA angkanya 25,79 persen. Di sekolah luar biasa, kondisinya hampir setara dengan rata-rata umum, yakni 48,51 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka-angka ini seperti alarm yang berdentang panjang, menandakan ada yang retak di dalam ruang batin anak-anak kita.
Psikolog Diana Setyawati melihat akar persoalan itu tumbuh dari ranah yang sama, yakni, dunia maya.
“Dunia maya memberikan insecurity yang sangat besar. Anak-anak semakin banyak tahu banyak hal, sayangnya beberapa informasi yang didapatkan justru membuat insecurity semakin tinggi,: ujar Diana, dilansir dalam keterangan terulis di laman ugm.ac.id, seperti dilihat Sehatcantik.id.
Arus informasi mengalir deras seperti sungai tanpa bendungan. Anak-anak belum sempat belajar berenang, tetapi sudah terseret arus.
Ia menilai nilai hidup kini tak lagi hanya ditanam di ruang keluarga. Sebagian justru dipetik dari layar.
“Ada pergeseran nilai. Media sosial sekarang didominasi oleh hal-hal instan, hedonisme, pamer kekayaan, pamer gaya hidup orang terkaya. Jika keluarga tidak menanamkan nilai dari rumah, maka fungsi keluarga itu akan diambil alih oleh apa yang mereka lihat di dunia maya,” tambah Diana.
Karena itu, benteng pertama harus dibangun di rumah. Orang tua perlu mengenali tanda kesehatan mental anak: mampu mengenal diri, punya tujuan, sanggup mengelola stres, produktif, dan memberi manfaat bagi sekitar.
“Saya pikir orang tua perlu memahami ciri-ciri kesehatan mental bagi anak, sehingga ketika melihat anak menunjukkan perubahan perilaku, mereka memahami apa yang terjadi dan bagaimana cara memberikan pertolongan,” ujar Diana.
Masalah ini bukan beban satu pihak. Ini kerja bersama. Pemerintah perlu menguatkan edukasi keluarga. Sekolah harus menghadirkan pendekatan kesehatan mental. Layanan kesehatan mesti siap ketika kesadaran masyarakat meningkat. Semua harus bergerak serempak, seperti orkestra yang memainkan nada yang sama.
Diana menutup dengan peringatan yang terdengar seperti pesan masa depan.
“Kita harus membangun sistem kesehatan mental yang kuat. Promosi dan prevensi secara holistik harus dilakukan. Jangan sampai generasi kita tumbuh dengan kerentanan yang tidak tertangani.”
Diana benar, jika tidak, bangsa ini mungkin akan memiliki generasi yang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam—seperti kaca bening yang retaknya tak terlihat sampai akhirnya pecah. (Sbw)













